Jama’ah : “Jo kenapa kamu mau dan ikut-ikutan di vaksin Covid-19. Apa kamu tidak percaya sama Allah? Covid 19 itu cuman rekayasa dan semua yang dilakukan pejabat itu adalah pencitraan. Lihat saja disuntik vaksin kok cepat sekali.”
Paijo : “Ya sudah, kalau begitu akang tidak usah ikut vaksin. Nanti kalau dapat giliran bilang sama petugas ; “Saya sudah pasrah sama Allah dan pasti akan dijaga Allah, bukan dijaga sama petugas kesehatan kayak kalian dan apalagi vaksin.”
Jama’ah : “Lha memang harusnya kan begitu Jo, kamu sendiri kan disuntik dengan cepat. Nanti efeknya buruk buat kesehatanmu.”
Paijo : “Memang akang pernah sekolah di kedokteran kok bisa tahu kalau efeknya buruk? Atau akang merasa lebih ahli dari dokter yang menyuntik kami?”
Jama’ah : “Eh. Eh. Eh. Ya nggak begitu Jo, aku cuman pernah sekolah jurusan sosial dan agama Jo, tapi ini kata orang-orang di sosial media. Banyak sekali teman saya tidak percaya sama Covid-19 dan menolak Vaksinasinya.”
Paijo : “Ooh masih kata orang-orang yang akang sendiri tidak kenal dengan baik dan bahkan nggak pernah tabayun atau klarifikasi soal vaksin pada ahlinya. Ya kalau begitu akang tidak sedang pasrah sama Tuhan, tapi sedang pasrah pada kebodohan. Itu sama dengan ummat nabi Ibrahim yang menyembah berhala yang tidak bisa bicara dan berbuat apa-apa tapi diyakini dan disembah. Makanya kalau ngaji “iqra'” yang tuntas kang, biar tahu makna kepasrahan pada Allah yang baik dan benar itu kayak apa. Bukan hanya mengikuti apa kata orang-orang, tapi tidak diklarifikasi kebenaran informasinya. “
Jama’ah : “Begitu ya Jo, makasih informasinya ya Jo.”
Paijo : “Iya kang sama2. Ingat ya kang kalau akang tidak mau vaksin Covid-19, paling tidak harus vaksin Tauhid, agar tidak merasa menjadi seperti Tuhan yang berhak menghukumi tindakan manusia lain tanpa ilmu”

No responses yet