Seseorang, mungkin nampak alim atau soleh yg menjauh dari dosa dan maksiat, saat berada di hadapan dan dilihat orang lain. Tetapi, jika ia menyendiri dan terlepas dari pandangan manusia, ia pun melepaskan tali kekang nafsunya, merangkul dosa dan memeluk kemungkaran dalam kesendiriannya.
Manusia kerap kali menganggap remeh dosa, sehingga mengabaikan tindakan2 yg dianggap tidak merugikan orang lain. Padahal, meskipun tidak terhitung menyakiti orang lain, namun apa saja yg melanggar larangan Allah subhanahu wa ta’ala tetap saja berbuah dosa.
Termasuk melakukan maksiat dikala sepi. Di era kini, saat2 sepi justru memiliki potensi yg besar bagi diri untuk melakukan tindakan melanggar perintah Ilahi.
Seorang bijak berkata:
إِنَّ ذُنُوْبَ الْخَلَوَاتِ هِيَ أَصْلُ الاِنْتِكَاسَاتِ ، وَعِبَادَاتُ الْخَفَاءِ هِيَ أَعْظَمُ أَسْبَابِ الثَّبَاتِ
“Sesungguhnya dosa2 yg dilakukan tatkala bersendirian merupakan pokok sebab keterbalikan seseorang (dari sholeh menjadi rusak). Dan ibadah2 yg dilakukan secara sembunyi2 merupakan sebab terbesar tegarnya seseorang (di atas agama).”
Al- Hafidz Zainuddin Abul Faraj Abdurahman ibn Syihabuddin Ahmad ibnu Rajab ibnu Abdurrahman ibn Hasan ibn Muhammad ibn Abil Barakat Mas’ud Al-Baghdadiy ad-Dimasyqiy al-Hanbaliy atau Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah (4 November 1335 M Bagdad – 14 Juli 1393 M Damaskus, Suriah) dalam kitabnya Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam menjelaskan, bahwasanya “Seseorang bisa saja terlihat di hadapan masyarakat benar2 mengerjakan amalan2 kebajikan. Akan tetapi, kondisi batinnya yg sesungguhnya adalah sebaliknya. Hal ini menyebabkan, ia meninggal dalam kondisi su-ul khotimah, karena ada amalan keburukan (maksiat) yg ia lakukan secara tersembunyi, yg tidak diketahui oleh orang lain atau yg semisalnya.
Karenanya berhati2lah dari dosa2 yg kita lakukan tatkala dalam kondisi sendirian.
Uwaimir bin Malik al-Khazraji atau Abu Darda’ Al-Anshari radhiyallahu anhu (580 M, Madinah – 652 M Mesir) berkata:
ذَكَرَ أَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: لِيَحْذَرِ امْرُؤٌ أَنْ تَلْعَنَهُ قُلُوبُ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ، ثُمَّ قَالَ: أَتَدْرِي مِمَّ هَذَا؟ قُلْتُ: لَا، قَالَ: إِنَّ الْعَبْدَ يَخْلُو بِمَعَاصِي اللَّهِ عز وجل فَيُلْقِي اللَّهُ بُغْضَهُ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ.
“Seorang hamba yg melakukan kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, maka Allah akan melemparkan rasa benci kepadanya dalam hati orang2 yg beriman tanpa dia sadari.” (Termaktub dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa thabaqatul asfiya’, 1/ 215, karya Ahmad ibn `Abdullah ibnu Ahmad ibn Ishaq ibn Musa ibn Mahran al-Mihrani al-Asfahani Asy-Syafi’i Al-Asy’ari rahimahullah , meninggal 1038 M / 430 H)
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا . قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Niscaya aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada hari kiamat dgn kebaikan laksana gunung2 Tihamah (nama lain untuk Makkah. Lihat al-Qamus al-Muhith, hlm. 1083) yg putih, kemudian Allah Azza wa Jalla menjadikannya debu yg beterbangan”. Ada (Dalam riwayat Imam Ibnu Majah disebutkan bahwa yang bertanya adalah sahabat bernama Tsauban) yg bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu,” Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan2 Allah, mereka melanggarnya”. (HR Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini atau Imam Ibnu Majah rahimahullah wafat 19 Februari 887 M, Qazvin, Iran)
Dimanapun, kapanpun, dengan sarana apapun, Allah pasti Maha Tahu apa yg kita kerjakan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Andai saat itu ia mengingat firman Allah:
أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yg mereka sembunyikan dan segala yg mereka tampakkan? (QS. al-Baqarah ayat 77).
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah mengetahui mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yg Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yg mereka kerjakan. (QS. an-Nisa’ ayat 108).
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ﴿٢٢﴾وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Kalian sekali2 tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian terhadap kalian, tetapi kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yg kalian kerjakan. Dan yg demikian itu adalah prasangka kalian yg telah kalian sangka terhadap Rabb kalian, prasangka itu telah membinasakan kalian, maka jadilah kalian termasuk orang2 yg merugi. (QS. Fushshilat ayat 22-23)
Hal tsb menunjukkan bagaimana keadaan orang munafik, walaupun kemunafikan yg ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i’tiqad (keyakinan).
Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i atau Syaikhul Akbar Ibnul-A’rabi rahimahullah (wafat pada 28 Rabiutsani 638 H / 16 November 1240 M pada malam Jumat) berkata: “Orang yg paling merugi, ialah yg menunjukkan amal2 shalihnya kepada manusia, dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yg lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”. (Termaktub dalam kitab Syu’abul-Iman 5/368 karya Abubakar Ahmad bin Husain bin Ali bin Abdullah al-Baihaqi Asy-Syafi’i atau Imam Al-Baihaqi rahimahullah, 994 – 1066 M Naisabur, Iran)
Al-Imam al-Faqih al-Mujtahid Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Hajar as-Salmunti al-Haitami al-Azhari al-Wa`ili as-Sa’di al-Makki al-Anshari asy-Syafi’i atau Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah (1503 M Mesir – 1566 M Mekkah) mengatakan dalam kitab Az-Zawajir ‘an Iqtiraf Al-Kabair (2: 764) mengenai dosa besar no. 356, “Termasuk dosa besar adalah dosa yg dilakukan oleh orang yg menampakkan keshalihan, lantas ia menerjang larangan Allah. Walau dosa yg diterjang adalah dosa kecil dan dilakukan di kesepian.
Ingatlah dan fahamilah, bahwa Ilmunya Allah sangat luas, meliputi langit dan bumi, yg nampak dan tersembunyi, lahir dan batin, besar dan kecil. Tidak ada yg satu pun dari makhluk Allah, yg tersembunyi dari-Nya. Tidak ada tempat dan saat dimana Allah tidak mengetahui apa yg terjadi di dalamnya. Jika demikian, sempurna sifat-sifat Allah, maka seharusnya seorang hamba benar2 senantiasa merasa diawasi dan diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala kapan pun, dimana pun ia berada.
Subhanallah wa astaghfirullah, Semoga kita senantiasa menghadirkan dalam hati kita rasa ‘MURAQABATULLAH’, yakni perasaan yg merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Tak hanya niat, dgn memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala melalui doa tsb, maka Insya Allah seseorang akan terhindar dari perbuatan maksiat. Ada doa yg termaktub dalam kitab Perukunan Melayu, ikhtisar (Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 100), karya Datuk Besar atau Anumerta Datuk Kalampayan atau Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari Asy-Syafi’i rahimahullah (17 Maret 1710 M – 13 Oktober 1812 M Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan) sbg berikut :
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ التَوْبَةَ وَدَوَامَهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ المَعْصِيَةِ وَأَسْبَابِهَا وَذَكِّرْنَا بِالخَوْفِ مِنْكَ قَبْلَ هُجُومِ خَطَرَاتِهَا، وَاحْمِلْهُ عَلَى النَّجَاةِ مِنْهَا وَمِنْ التَّفَكُّرِ فِي طَرَائِقِهَا وَامْحُ مِنْ قُلُوبِنَا حَلَاوَةَ مَا اجْتَبَيْنَاهُ مِنْهَا، وَاسْتَبْدِلْهَا بِالكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّمَعِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا
Allāhumma innā nas’alukat taubata wa dawāmahā, wa na‘ūdzu bika minal ma‘shiyati wa asbābihā, wa dzakkirnā bil khaufi mina qabla hujūmi khatharātihā, wahmilhu alān najāti minhā wa minat tafakkuri fī tharā’iqihā, wamhu min qulūinā halāwata majtabaināhu minhā, wastabdilhā bil karāhati lahā wat thama‘I li mā huwa bi dhiddihā.
“Ya Allah, kepada-Mu kami meminta pertobatan dan kelanggengannya. Kepada-Mu, kami berlindung dari maksiat dan sebab-sebabnya. Ingatkan kami agar takut kepada-Mu sebelum datang bahaya maksiat. Bawakan ketakutan itu untuk menyelamatkan kami dari maksiat dan dari pikiran di jalanan maksiat. Hapuskan kelezatan maksiat yg kami pilih dari hati kami. Gantikan kenikmatan itu dgn rasa tidak suka dan keinginan terhadap lawanan maksiat”.
Semoga bermanfaat
Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet