Saya termasuk orang yang paling bersukur ketika banyak kader-kader  terbaik menempati posisi politik pada jabatan publik. 

*^^^^*

Saya bangga ketika tahu bahwa   Soekarno adalah ‘kader mbethik’ dan ‘santri nginthil’ Kyai Ahmad Dahlan. Ibu Fatmawati adalah aktifis aisiyah putri tercinta ustadz Hasan Dien konsul Muhammadiyah Bengkulu. Bersuka cita pula ternyata Soeharto adalah anak bibit Muhammadiyah yang disemaikan di bumi pertiwi. 

Jendral besar Soedirman bapak angkatan bersenjata Republik Indonesia yang bertubuh ringkih itu adalah aktifis kepanduan Hizbul Wathan dan guru pada sekolah rakyat Muhammadiyah Ambarawa. Puluhan kader lainnya juga sama dengan berbagai peran dan fungsinya— sebuah kebanggaan sekaligus kehormatan. 

Teringat pesan kyai Dahlan kepada generasi penerus muhammadiyah  “Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. … Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (profesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.” .

*^^^^*

Kader-kader terbaik ini pernah tidak diakui dan diragukan kemuhammadiyahan nya— kesaksiannnya ditampik, sebab dinamika di luaran begitu cepat dan massif, Soekarno pernah memohon-mohon agar tidak dipecat keanggotaanya. 

Soekarno dengan Buya HAMKA sesama kader terbaik juga pernah musuhan karena perbedaan pandangan dalam berpolitik. Ada yang memihak Buya HAMKA dan tak sedikit pula yang memihak Soekarno. Tapi keduanya tetap baikan. Soekarno menulis pilu tentang ‘makin lama makin tjinta’ dan berwasiat agar saat mati dikibarkan panji-panji Muhammadiyah. Sebuah wasiat yang saya saja tak pernah mikir.

Lalu saya siapa ? telah melakukan apa untuk agama dan Persyarikatan yang saya banggakan ini? Sehingga saya harus menghakimi sesama kader hanya karena kebetulan mengambil

jalan berbeda. 

*^^^^*

Prof Din dengan tegas menyebut bahwa Muhammadiyah adalah federasi pemikiran, federasi gagasan bahkan ide dan gerakan amal— berati setiap kita yang ada di dalamnya berhak menggagas, mengkonsep dan bergerak sesuai kemampuan masing masing tanpa intimidasi, sebab punya hak yang sama tanpa kecuali.

Termasuk kader-kader hebat semisal: Soekarno, Soeharto, Sudirman, Djuanda, Buya Syafi’i, Prof Malik, Prof Muhadjir, Prof Amien, Bang Dahnil, hingga Cak Nanto mereka berdiaspora sebagai kader-kader militan terbaik. Mereka semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan layak mendapat apresiasi dengan adil tanpa deskriminasi. 

Kader-kader yang berkarier di Persarikatan menempati posisi dari Ketua Ranting level paling rendah seperti halnya saya hingga topp level Ketua PP dan yang berkarier di amal usaha Muhammadiyah atau yang berada diluar Persarikatan mempunyai kedudukan yang sama, bertujuan sama dengan manhaj dan ideologi yang juga sama. Jadi tak perlu saling meragukan apalagi merasa paling kader. 

*^^^^^*

Ada yang mencoba membenturkan Muhammadiyah dengan rezim meski melawan fitrah. Nahy munkar tak harus disikapi musuhan dan melawan mapan— bukankah Kyai Hisyam juga mengambil subsidi dari  pemerintah kompeni dan mendapat penghargaan rider order van orange nassau, Kyai Mas Mansur juga diundang ke Jepang bertemu Kaisar. Dan tak perlu dibilang menjilat —- Ki Bagus setuju menghapus tujuh kata dalam sila pertama Pancasila tak harus dibilang mengalah pada kaum nasionalis sekuler. Para ulama dan kader kader terbaik telah berpikir bijak dan arif untuk kebesaran dan marwah Persyarikatan. 

Seakan pelajaran tentang manhaj Muhammadiyah belum selesai diajarkan sehingga selalu ribut pada soal-soal yang sama berulang -ulang ? Ribut soal relasi Muhammadiyah dan negara dengan berbagai turunannya: ribut soal komunikasi dengan partai politik. Ribut soal dana bantuan negara dan terakhir ribut lagi soal pengelolaan tanah kepada pemuda Muhammadiyah. Seakan belum paham bagaimana berMuhammadiyah itu —

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *