Perintah ziarah
قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ
“Sungguh dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur. (Kini) telah diijinkan bagi Muhammad untuk berziarah ke kubur ibunya. Maka berziarah kuburlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan akan akhirat.” (HR Imam At-Tirmidzi rahimahullah)
فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
“Maka berziarah kuburlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan pada kematian.” (HR Imam Muslim rahimahullah)
Seperti halnya di makam2 wali Allah di manapun, termasuk Sunan Ampel rahimahullah (1401 – 1481 M) di Surabaya, Jawa Timur. Menjelang Ramadan tiba, peziarah yg berkunjung ke makam sesepuh Wali Songo (penyebar Agama Islam di Jawa) untuk “melangitkan” doa semakin meningkat. Mereka datang dari berbagai wilayah di Nusantara.
Ziarah tradisi dan perintah
Ziarah makam dan agama jelas tidak berdiri sendiri, agama sbg struktur sosial, mutlak telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sbg tuntunan hidup bagi manusia yg berakal, sedangkan Ziarah makam merupakan kultur sosial masyarakat sbg bentuk penghormatan pada orang2 yg telah berjasa, khususnya para ulama.
Ziarah makam diperbolehkan sekaligus menjadi bagian dari perilaku beragama. Sedangkan doa2 yg dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan proses sosio-spiritual yg dilakukan oleh masyarakat secara rutin atau insidental.
Aturan agama dan turunannya merupakan suatu hal yg tidak bisa diganggu gugat. Agama Islam khususnya membolehkan ziarah makam. Ziarah makam adalah bagian dari anjuran agama, dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, untuk menghormati orang2 yg telah lebih dahulu menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengingat kematian.
Ziarah makam bagian dari tradisi keagamaan, keduanya saling mengisi dan menjadi salah satu tuntunan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Ziarah makam sbg suatu hubungan personal, bentuk interaksi sosial, dalam suatu arena sosial dimana para aktor atau agen berkumpul untuk suatu niat tertentu yg diucapkan dalam hati, atau suatu penghormatan kepada orang yg telah tiada, mengenang jasa2nya dan sekaligus selalu mengingat akan datangnya kematian, yg tentu saja tidak bisa dielakkan oleh setiap mahluk hidup, bahwa setiap mahluk hidup pasti akan mengalaminya, tinggal menunggu batas waktunya.
Sarana taqarrub dan pengingat
Berziarah, bisa menjadi salah satu sarana alternatif untuk mengatasi dan menenangkan jiwa yg sedang kacau. Dengan berdoa dan merenung di arena ziarah makam, terkadang kehidupan dunia yg serba materialistis akan teratasi dgn berdoa dan mengingat kematian. Di era modernisasi saat ini, orang berlomba2 mencari harta sebanyak2nya tanpa mengingat datangnya kematian.
Dengan secara rutin, orang melakukan ziarah, maka segala yg menjadi kebutuhan hidup di dunia sedikit demi sedikit akan dikurangi dan beralih kepada urusan agama, lebih rajin menjalankan perintahnya, sbg persiapan hidup di kemudian hari dan akan berimbas pada lingkungan dimana seseorang tsb tinggal, dan suatu saat jika telah datang panggilan, kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Bekal yg kita bawa akan mumpuni dan “esok hari” kita dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, selama kita hidup di dunia ini. Segala keraguan, yg selama ini menghinggapi hidup kita, secara otomatis akan hilang, kecemasan jiwa yg menjadi momok dalam hidup ini, berubah menjadi ketenangan jiwa. Agama yg selama ini kita tinggalkan, akan menjadi konsumsi jiwa, untuk mengobati batin yg gelisah. Dan, semua yg kita kerjakan akan semakin ringan untuk diselesaikan. Apa2 yg kita lakukan akan mudah teratasi, serta ibadah yg selama ini kita tinggalkan, akan menjadi rugi jika kita tidak menjalankannya.
Dengan berziarah, orang akan mengenang perbuatannya yg telah dilakukannya, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Orang akan introspeksi diri, sudah sejauh mana kita mandalami perintah agama dan kenapa selama ini kita menganggap agama menjadi nomor dua setelah pekerjaan. Inilah bahan yg harus kita perbaiki untuk mengobati perasaan cemas, gelisah, kurang tenang dan stres dalam menghadapi hidup ini.
Kecemasan dan ketegangan di dalam kehidupan ini, akan mendorong seseorang mencari jalan penyelesaiannya. Ziarah ke makam, dgn mendekatkan diri kepada yg Kuasa adalah pilihan terbaik, yg tidak berbayar. Ini pengobatan alternatif yg sangat ampuh, untuk mengatasi problem kejiwaan, menjadikan hidup lebih tenang dan damai serta dapat mengatasi masalah yg sulit sekalipun.
Demikianlah penjelasan singkat, mengapa ziarah makam dapat menjadikan obat alternatif, untuk mengobati kegelisahan, kecemasan dan kegundahan hati. Karena dgn melakukan secara rutin berziarah, kita akan selalu mengingat kehidupan di akhirat, kehidupan di dunia ini hanya bersifat sementara, ada batasannya dan batasan tsb sangat singkat, tidak terasa bahwa kita sudah dipenghujung hidup karena kita sudah tua.
Dengan persiapan yg sudah kita kumpulkan, akan membuat kita lebih siap untuk menghadap yg kuasa dan apa2 yg telah kita raih selama ini, selama kita hidup di dunia akan kita tinggalkan, dan harta yg selama ini kita kumpulkan dan kita kejar sama sekali tidak dapat menolong kita, karena yg menolong kita adalah amal perbuatan baik kita selama hidup di dunia sesuai dgn ajaran agama yg menjadi tuntunan hidup.
Empat motivasi ziarah
Sayyid Ulama al-Hijaz Syekh Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar At-Tanara al-Bantani al-Jawi Al-Makki Asy-Syafi’i atau Syekh Nawawi Banten rahimahullah (1230 – 1314 H/1813 M – 1897 M Jannatul Muala Makkah), dalam kitabnya Nashaihul ‘Ibad syarah al-Manbahatu ‘alal isti’dad li yaumil Mi’ad, menuturkan ada 4 (empat) macam motivasi orang melakukan ziarah kubur:
Pertama, ziarah kubur dgn tujuan untuk mengingat mati dan akhirat. Ziarah dengan motivasi ini bisa hanya dengan melihat kuburan atau komplek pemakaman saja tanpa harus tahu siapa yang bersemayam di dalam kuburan. Tidak harus kuburan orang muslim, bahkan kuburan orang kafir sekalipun bisa menjadi sarana untuk menjadikan seorang muslim mengingat kematian dan kehidupan akhirat yg pada saatnya nanti akan ia lakoni.
Kedua, ziarah kubur dgn tujuan untuk mendoakan orang yg ada di dalam kuburan. Menurut Syekh Nawawi, ziarah dgn tujuan ini disunahkan bagi setiap orang muslim. Tentunya, kuburan yg dikunjungi, juga kuburan yg di dalamnya bersemayam jenazah orang muslim, pun tidak harus kuburan keluarga sendiri. Di Indonesia, ada beberapa daerah yg memiliki budaya di mana pada waktu2 tertentu—biasanya menjelang puasa Ramadhan—masyarakat kampung berkumpul di satu komplek pemakaman untuk bersama2 mendo’akan ahli kubur yg ada di komplek tsb, baik ahli kubur itu keluarga sendiri maupun orang lain. Kegiatan semacam ini lazim disebut dgn nyadran.
Ketiga, ziarah kubur dgn motivasi untuk tabarruk atau mendapatkan keberkahan. Ziarah dgn tujuan ini disunahkan dgn mengunjungi kuburnya orang2 yg dikenal baik pada waktu hidupnya. Ziarah dgn motivasi ini juga sangat sering dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia khususnya warga Nahdliyin. Pada waktu2 tertentu mereka secara berombongan berziarah ke makam para wali dan para kiai yang dipandang memiliki kedekatan dgn Allah dan berjasa dalam berdakwah menebarkan agama Islam di masyarakat.
Keempat, ziarah kubur dgn motivasi untuk memenuhi hak ahli kubur yg diziarahi, seperti ziarah ke makam orang tua.
Semoga bermanfaat
from various sources by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet