I. Syarat Puasa
Dalam Madzhab Syafi’i, puasa itu ada dua jenis syaratnya. Ada syarat sah puasa dan ada syarat wajib puasa.
Syarat sahnya puasa maksudnya jika memenuhi syarat ini, maka sah puasanya. Syarat sah itu antara lain:
1. Islam, jika murtad ketika puasa, seketika itu juga batal puasanya.
2. Berakal, jika waktu puasa jadi gila, ayan atau mabuk, seketika itu batal puasanya.
3. Suci dari haidh dan nifas, jadi ketika puasa lalu haidh, seketika itu batal puasanya. Bila sucinya di tengah siang hari, maka sunnahnya ikut puasa, tapi menurut beberapa ulama wajib ikut puasa. Saya sendiri ikut pendapat yang mewajibkan ini.
4. Mengetahui kapan mulai puasa, seperti yang dibahas di postingan terdahulu. Sehingga mengetahui kapan awal Bulan Ramadhan dan kapan subuh tiba itu hukumnya jadi wajib dan harus berdasarkan keputusan hakim.
Yang kedua adalah syarat wajib yaitu ketika seseorang memenuhi syarat ini, maka wajib baginya berpuasa. Syarat wajib ini antara lain :
1. Dalam keadaan muslim. Orang yang murtad, bila kembali jadi muslim, harus mengqadha semua puasa wajib yang ditinggalkan, bahkan puasa wajib yang ditinggalkannya selama dia murtad.
2. Mencapai kriteria mukalaf yaitu baligh dan berakal. Wajib bagi wali seorang anak untuk membimbing anak itu berpuasa bila mencapai umur 7 tahun. Bila anak itu berusia 10 tahun, maka harus diberi pelajaran (diperingatkan hingga dipukul) bila menolak berpuasa.
3. Tubuhnya memenuhi syarat wajib berpuasa baik secara lahir maupun secara syara’. Secara lahir yang tidak wajib berpuasa adalah orang tua renta dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan mampu berpuasa. Secara syara’ orang yang haram berpuasa adalah orang yang haidh dan nifas
4. Sehat badannya. Maka orang yang sakitnya dibolehkan untuk bertayamum, tidak wajib berpuasa, bahkan bisa haram berpuasa.
5. Tidak kemana-mana. Maka bagi musafir yang memenuhi syarat perjalanan minimal 82 km dan berangkatnya sebelum subuh, tidak wajib berpuasa. Diutamakan berpuasa bagi musafir bila tidak ada kekhawatiran berpuasa, bila ada kekhawatiran maka tidak berpuasa lebih baik.
Nah, syarat ini harus diketahui dulu, mbah. Sehingga kita nantinya yakin akan sah tidaknya puasa kita. Jadi bukan puasa warisan atau ikut-ikutan.
II. Rukun Puasa
Setelah kita mengetahui syarat puasa, kita harus tahu rukun puasa, mbah. Dalam Madzhab Syafi’i, rukun puasa itu ada 2, yaitu :
1. Niat. Dalam puasa fardhu, seperti puasa Bulan Ramadhan, niat puasa harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Wajibnya membaca niat dalam hati setiap hari menurut qaul mu’tamad dan hukumnya sunnah mengucapkan satu niat untuk puasa satu bulan Ramadhan. Waktu batasan membaca niat diucapkan mulai dari terbenam matahari hingga terbit fajar. Bila tidak membaca niat, walaupun lupa, hingga lewat waktunya, maka puasanya batal namun wajib berpuasa dan terhitung qadha puasa yang harus dibayar di lain waktu.
Mengucapkan niat puasa, buat jaga-jaga, disunnahkan saat malam pertama Bulan Ramadhan, mengucapkan niat untuk satu bulan penuh. Kemudian membaca niat untuk esok hari. Niat puasa lebih enak diucapkan ketika terbenam matahari atau ketika berbuka puasa saja, sehingga terhindar dari lupa membaca niat. Terutama buat yang suka pikun.
b. Lafadh niat, wajib menyebut jenis puasa wajib yang akan dilakukan. Misalnya niat puasa Ramadhan maka lafadhnya “Saya niat puasa Ramadhan”. Tidak wajib menyebut hukum puasanya menurut qaul mu’tamad, karena ketika menyebut puasa Ramadhan, sudah lazim hukumnya wajib.
c. Dalam niat puasa wajib, tidak boleh menjamak dua niat atau lebih puasa wajib. Misalnya niat puasa Ramadhan bareng dengan puasa qadha, maka tidak sah niatnya. Begitu juga menggabungkan niat puasa wajib dan puasa sunnah.
2. Meninggalkan hal yang membatalkan puasa yaitu makan, minum, berhubungan seksual, muntah yang disengaja, sadar dan tanpa ada udzur.
Nah, itu semua syarat dan rukun puasa yang menjadi kewajiban kita ketika melakukan ibadah puasa, mbah. Semoga kita bisa memenuhi semuanya sehingga minimal puasa kita bisa punya nilai secara lahirnya. Aamiin.

No responses yet