Sebelum bertempat tinggal di Rusaifah (sebuah distrik di barat daya mekkah) Sayyid Muhammad al-Maliki pernah menetap bersama para muridnya di kawasan ‘Utaibiyah dekat Hujun sebelah timur pemakaman Ma’la. Namun di satu masa beliau juga pernah tinggal di Madinah bersama para santri generasi awal. Di sanalah beliau meminta Habib Zein bin Smith untuk mengajar Fiqih kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari Indonesia di kediamannya. Kebesaran hati Sayyid Muhammad dan sikap tepo slironya begitu terlihat, mengingat beliau dalam hal fiqhiyah menganut madzhab Maliki sedangkan Habib Zein adalah penganut setia madzhab Syafi’i. Hubungan baik dua ulama’ inilah yang kelak menjadikan irtibath dan mahabbah (ikatan cinta) yang semakin kuat antara Sayyid Muhammad di Mekkah dan Habib Zein di Madinah.
Saat ditanya alasan kenapa ulama syafi’i seperti Habib Zein yang justru mengajarkan masalah fiqih, beliau berdalih bahwa Fiqih Syafi’i lebih urgen dipelajari saat muridnya kembali nanti ke tanah air agar lebih relevan dan tidak banyak gesekan dengan umat karena memang kaum muslim Indonesia mayoritas bermadzhab syafi’iyyah.
Dari sini Sayyid Muhammad sedang mengajarkan agar mengambil langkah luwes dan tidak fanatis berlebihan terhadap salah satu madzhab (empat). Elastisitas beliau inilah yang kemudian semakin membuat Sayyid Muhammad makin disegani dan diterima banyak kalangan. Seperti halnya kisah Imam Syafi’i yang kita kenal dengan pendapatnya yang menghukumi qunut dalam sholat shubuh adalah sunnah dan mengamalkannya sepanjang hidupnya. Namun di satu waktu beliau pernah tidak melakukannya. Melihat gelagat tak wajar dari Imam Syafi’i, salah satu muridnya menegur:
“Kenapa tuan tidak melakukan qunut?”
Dengan tenang beliau menjawab:
“Kita sekarang sedang di Kufah, dimana jasad mulia Imam Hanafi dimakamkan. Aku melakukan ini untuk menghormati pendapatnya tentang hukum doa qunut”.
Begitulah orang pandai nan bijak bersikap, mengedepankan langkah ta’dzim kepada sesama apalagi kepada ulama’ meskipun jelas-jelas beda pandangan. Seyogyanya kita juga dituntut untuk dapat bersikap arif di saat menghadapi berbagai macam perbedaan furu’iyyah, termasuk perbedaan siyasiyyah maupun ormasiyyah yang sampai kini masih kerap jadi dalih saling memusuhi.
–Kembali ke laptop–
Seperti yang pernah diceritakan Syeikh Yahya al-Mutamakkin (murid senior Habib Zein), tak jarang murid-murid Ribath Madinah dahulu kerap sowan kepada Sayyid Muhammad al-Maliki saat masih tinggal di Madinah maupun saat Sayyid Ahmad menggantikan dan mengampu majlis dirasah di Mekkah. Suatu ketika para murid Habib Zein dipanggil sekaligus mendapat dua hadiah istimewa dari Sayyid Muhammad al-Maliki, yaitu:
1. Mendapat penghormatan dan kesempatan menaiki bus jemputan (jok kursi masih berplastik) yang baru dibeli Sayyid Muhammad dan sama sekali tidak ada yang berani menaiki sebelumnya bahkan murid-muridnya sendiri.
2. Mendapat sanad Hadits ar-rahmah al-musalsal bil-awwaliyyah langsung dari Sayyid Muhammad al-Maliki. Hadits musalsal ini adalah hadits yang selalu disisipkan oleh para ahli hadits sebelum mulai mengajar atau belajar hadits. Hal itu ditradisikan hingga para murid-murid di bawahnya. Hadits tersebut adalah riwayat Abdullah bin Amr RA yang berbunyi:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Dinamakan Hadits Ar-Rahmah karena isi dan kandungan haditsnya adalah tentang Rahmat, dan disebut Al-Musalsal Bil-Awwaliyyah karena setiap perawi yang meriwayatkan hadits ini menyebutkan bahwa hadits ini adalah hadits pertama yang dia dengar atau diriwayatkan dari gurunya secara bersambung sampai ke Al-Imam Sufyan ibn Uyainah rahimahullah.
Disebut Bil awwaliyyah juga memberi petunjuk bahwa para ahli hadits memiliki landasan dan komitmen di awal pengajarannya agar menebar rahmah bagi semua (lebih-lebih kepada sesama umat Rasulullah SAW). Hal ini menjadi modal utama bagi setiap orang yang mengaku sebagai penuntut ilmu, yaitu dengan mengasihi semua makhluk yang ada di bumi (bukan dibangun dengan kebencian apalagi dengan terror) karena jaminannya jelas, dikasihi oleh Allah dan para makhluk yang ada di langit.
Imam Al-Munawi juga menjelaskan pemahaman hadits di atas dalam kitabnya Faidhul Qadir dengan mengutip pendapat Al-Buny yang menyebutkan, bahwa orang yang mengaku rindu dengan rahmat Allah harus terlebih dahulu mengasihi para makhluk-Nya:
فإن كان لك شوق إلى رحمة من الله فكن رحيما لنفسك ولغيرك ولا تستبد بخيرك فارحم الجاهل بعلمك والذليل بجاهك والفقير بمالك والكبير والصغير بشفقتك ورأفتك والعصاة بدعوتك والبهائم بعطفك ورفع غضبك فأقرب الناس من رحمة الله أرحمهم لخلقه
“Jika engkau mengaku rindu kepada rahmat Allah, maka kasihi dirimu, orang lain dan tak hanya terbatas untuk kebaikan dirimu sendiri. Kasihilah orang bodoh dengan ilmumu, orang yang rendah dengan kedudukanmu, orang fakir dengan hartamu, orang besar atau kecil dengan belas kasih dan santunmu, orang yang bermaksiat dengan dakwahmu, (bahkan) kepada hewan sekalipun dengan belas kasihan dan meredam amarah. Adapun orang yang paling dekat dengan rahmat Allah SWT adalah orang yang paling mengasihi makhluk-makhluk-Nya,”
–Back to laptop–
Dan waktupun terus bergulir, setelah puluhan tahun berlalu dan generasi berganti ternyata kecintaan keluarga al-Maliki kepada ahlul ilmi semisal Habib Zein terus berlanjut. Hal ini dapat terekam dalam sikap putra Sayyid Muhammad yakni Sayyid Ahmad bin Muhammad yang begitu gathi (perhatian) dengan santri Rubath Madinah seperti kepada kami yang tabarukan di Kota Mekkah sebelum akhirnya kembali ke tanah air. Selain mendapat kesempatan mengaji di majlis ‘am, kamipun mendapatkan akses khusus di Rusaifah untuk mengaji kepada asatidz (murid-murid senior Sayyid Muhammad) seperti asy-Syeikh Bin Hilal al-Hudzali dan al-Habib Idrus al-aydrus dalam kajian ilmu ushul fiqh (دروس أصول الفقه المكية للشيخ أحمد جابر جبران) dan mustholahul hadits (المنهل اللطيف فى اصول الحديث الشريف) selepas majlis Sayyid Ahmad al-Maliki rampung.
Tak berhenti sampai di situ, Setiap bulan secara rutin kami pun mendapat berkah “bisyaroh” dari Sayyid Ahmad seperti layaknya santri-santri dakhili (santri dalam yang mukim di rubath Rusaifah). Hal ini tidak berlebihan mengingat dalam satu kesempatan Sayyid Muhammad sendiri pernah berkata bahwasannya murid-murid Habib Zein bin Ibrahim bin Smith sudah dianggap seperti layaknya santri sendiri. Dari sini nampak jelas bahwa spirit hadits ar-rahmah begitu terpampang jelas dari sikap dan laku para ulama’ panutan seperti Sayyid Muhammad dan putranya kepada ahlu ilmi.
Dan seperti halnya awal Ramadhan yang berlimpah rahmah (اوله رحمة), semoga kita selalu mendapat pandangan rahmat dari para ulama’ dan tetap welas dengan siapapun meski kadang beda pendapat atau beda “pendapatan”, wallahu a’lam.
#penghujung_sya’ban
#marhaban_ramadhan
Sumber : FB Zaki Abigeva

No responses yet