Beragam kegiatan santri di berbagai pondok pesantren. Mulai dari kegiatan hobi hingga tugas pondok ataupun sekolah.

Contohnya seperti pencak, jurus Asmaul Husna, sepakbola, dan lain-lain. Dalam kegiatan “intelektual” ada hafalan Alquran (atau paling tidak surat-surat pendek)  maupun hafalan Imrithi dan Alfiyah dan ilmu-imu lain, belajar qiro’ah, kursus bahasa Inggris dan sebagainya. Demikian pula kegiatan yang berkaitan tugas sekolah baik materi sains maupun ilmu lainnya.

Aktivitas lain yang juga lekat dengan tradisi santri adalah ngaji, sholat berjamaah, sholawatan, tahlilan, istighosahan, ratiban, manakiban, tidak ketinggalan tirakatan. 

***

Fokus ke tirakatan. Dalam tirakatan ini santri putra di salah satu ribath Bahrul Ulum Tambakberas membuat tabel yang relatif rapi. Tabel itu berisi kegiatan puasa 3 harian (Selasa-Rabu-Kamis)  yang dimulai sejak Juli 2020 hingga jelang Ramadhan 2021.

Mereka menulis beberapa nama santri putra yang ikut berpuasa plus data berapa kali puasa, dan apa saja doa yang ditirakati. Total ada 20 doa, sholawat, dan hizib yang ditirakati. 75 persen dari jalur sesepuh Tambakberas.

Semisal di tabel itu nama Mas Javed berpuasa untuk Asmaul Husna sebanyak 8 kali (8 kali 3 hari), sholawat nuridzati 8 kali, Bismil 5 kali, Hizb Thoyr 3 kali, Sholawat Masyisyiyyah 6  kali dan Hizib Rifai 3 kali. Selengkapnya bisa dilihat di foto tabel nama santri dan doa  tirakatan. 

****

Kalau Agus Mustofa pernah menulis “Pusaran Energi Ka’bah”, maka saya mengatakan ada pancaran energi hasil dari tirakat santri. Santri tirakat lalu wiridan bareng-bareng tiap Kamis sore membentuk “pancaran” energi doa. 

Untuk memberi semangat, saya ceritakan ke santri, kapan hari ada tamu yang datang dan berkata bahwa dia melihat ada cahaya naik ke atas dari tempat ini. Dia mempercayai itu adalah energi tirakatan. 

Saya tidak mendebat dan saya tidak bertanya lebih lanjut kepada orang itu tentang cahaya. Lha saya sendiri juga tidak ahli melihat cahaya, selain cahaya matahar, dan……..cahaya HP hehe….

***

Kemarin sore  sebelum wiridan bersama, saya berpesan kepada para santri agar tidak merasa jumawa dan paling dekat dengan Allah karena bisa tirakat. Cukuplah kelompok Wahabi dan sejenisnya yang merasa dekat, bahkan merasa sebagai wakil Tuhan sehingga gampang dan doyan memvonis buruk atau sesat atas liyan.  Syukuri saja kamu semua diberi kekuatan Allah dengan bisa tirakat 

Saya sampaikan juga ke santri, “Saya punya Kiai kampung yang sampai sekarang masih hidup yang saat remaja disuruh abahnya agar puasa hanya makan ketela 3 tahun. Dilanjutkan puasa hanya makan ketan 3 tahun. Puasa hanya makan daun-daunan 3 tahun. Terakhir puasa hanya makan intip 3 tahun. Kiai itu tidak hanya puasa di atas, sampai sekarang beliau tiap hari puasa selama lebih dari 40 tahun. Jadi tirakat kita belum ada apa-apanya.”

Saya juga berkata, “Tirakat itu macam-macam dan  bukan untuk merasa sakti. Tirakat untuk “melatih” diri serta melestarikan tradisi wiridan sekaligus  meniru para ulama  besar yang juga punya lelakon tirakatan dan wiridan secara istiqomah.”

Konon Ibn Taymiyyah yang dianggap dikiblati orang Wahabi saja punya wiridan baca Fatihah setelah sholat subuh hingga muncul matahari. Tentu para ulama dan kiai kita juga punya lelakon riyadloh tersendiri dan tertentu.

Kalau Anda punya buku sejarah Tambakberas, maka di daftar isi pada lembar pertama tertulis:

1. Mbah Kial Sechah: Kiai Ahli Riyadlah dan Pejuang 

2. Mbah Kiai Said: Kiai Syariat yang Ahli Riyadlah 

3. Mbah Kiai Chasbullah: Kiai Ahli Riyadlah yang Dermawan 

4. Mbah Nyai Lathifah: lbunda Para Masyayikh yang Ahli Riyadlah

Para kiai kita dahulu adalah ahli tirakat atau riyadlah.Tulisan mahasiswa Fakultas Kedokteran ini apik. Dia menggambarkan tradisi  tirakat ala santri.

https://islami.co/mengenal-tirakat-tradisi-para-santri/

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *