Jamaah : “Jo sebagai orang tua aku kok merasa wabah covid 19 tidak akan bisa dikendalikan dengan sains secara maksimal. Satu-satunya cara adalah cara spiritual yang berpuncak pada keyakinan tauhid yang bersih dari kepentingan.”
Paijo : “Begitu ya pak Kiai, lantas apa yang harus kita lakukan pak Kiai?” Sementara ummat saat ini seperti tidak menemukan kejelasan arah, memilih tetap dalam rumah atau terus beraktivitas seperti biasa. Keduanya seperti tidak memberikan jaminan keamanan. Ini seperti buah simalakama. Dimakan ibu mati nggak dimakan bapak yang mati?”
Jamaah : “Betul kamu Jo, karena itulah wabah ini adalah ujian ketauhidan kita, ayo kita jadikan keyakinan sebagai panglima, cukuplah sains sebagai penyokongnya. Jangan dibalik, selama ini kita terlalu percaya pada sains akan memberikan solusi untuk semua masalah manusia. Tapi apa hasilnya? Dunia semakin rusak dan tidak ada lagi keseimbangan lingkungan.”
Paijo : “Tapi pak Kiai, masyarakat kita kan sudah sangat materialis sekarang ini. Semua diukur dengan angka-angka kwantitatif yang didapat dari pengamatan empirik, bukan lagi rasa spiritual?” Apa bisa masyarakat membalik keyakinanya dari gaya matarialistik menjadi spiritualistik?”
Jamaah : “Tidak ada pilihan lain Jo, musibah ini adalah puncak materialisme yang menjadi ruh dari sains yang dikembangkan saat ini. Bayangkan saja sekarang ini bahkan agama diukur dengan ukuran2 kwantitatif dan material. Agama sudah diperjualbelikan dengan sangat murah dan tanpa ada rasa malu apalagi rasa berdosa. Mari Jo buka kembali masjid dengan niat mengembalikan substansi spritualitas ketauhidan ummat dengan proses pertaubatan massal dan menyerahkan pengadilannya pada Allah. Kita ini seperti sedang masuk dalam cerita tentang Dajjal yang menawarkan sorga dan neraka. Apa kita akan memilih neraka si Dajjal sebagaimana saran para kiai kita atau justru tergoda memilih sorga si Dajjal yang sebenarnya neraka. Ayo kita kembalikan spiritualitas di puncak keyakinan kita bukan sains apalagi kepentingan material.”
Paijo : “Baik pak Kiai, tapi kita tetap tidak boleh mengabaikan sunnahtullah yang berlaku pada hukum material sains. Kita kan hanya menggeser posisinya saja, kalau dulu kita terlena dan takjub sama sains, saatnya sekarang kita takjub dan tunduk pada Allah. Bahwa sains adalah sebagian kecil dari tanda kekuasaan Allah yang tak terbatas. Saya akan tetap membuka masjid dengan niat mengembalikan hak Allah di atas hak mahluq Nya.” #SeriPaijo

No responses yet