Inilah link ngaji kitab tersebut pada pagi tadi, 1 Romadlon 1442 H.

Kalimat tauhid “لا إله إلا الله” mengandung makna meniadakan ketuhanan dari selain ALLOH dan menetapkannya hanya untuk ALLOH.

Sedangkan makna “ketuhanan” adalah ketidak butuhan-NYA terhadap yang lain (Istighna’) dan butuhnya perkara lain terhadap diri-NYA (Iftiqor).

Dalam aqidah ahli sunah waljamaah, bahwa orang mukallaf wajib mengetahui kedua puluh sifat wajib ALLOH terangkum dalam bacaan “pujian’ yang sering kita dengar di masjid atau musholla yaitu

الله : وجود، قدام، بقاء، مخالفة للحوادث، قيامه بنفسه، وحدانية، قدرة، إرادة، علم، حياة، سمع، بصر، كلام، قادرا، مريدا، عالما، حيا، سميعا، بصيرا، متكلما.

Dalam hubungannya dengan Istighna’ dan Iftiqor, bacaan “pujian” itu bisa dibandingkan menggunakan rumus 55343 dan (+ – + – +):

* Istigna’ dirumuskan (+), Iftiqor dirumuskan (-).

a. Lima sifat yang masuk dalam istighna’ yaitu: Wujud, Qidam, Baqo’, Mukholafah lil Hawaadits, dan Qiyamuhu binafsihi.

b. Lima sifat yang masuk dalam iftiqor yaitu: Wahdaniyyah, Qudroh, Irodah, ‘Ilmu, dan Hayah.

c. Tiga sifat yang masuk dalam istighna’ yaitu: Sama’, Bashor, dan Kalam.

d. Empat sifat yang masuk dalam iftiqor yaitu: Qodiron, Muridan, ‘Aliman, dan Hayyan.

e. Tiga sifat yang masuk dalam istighna’ yaitu: Sami’an, Bashiron, dan Mutakalliman.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *