Ijma ulama : Sunnah
Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Bahkan menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan bagi laki2 dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam. (Kitab Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9631)
Imam Asy Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih afdhol shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus menerus melakukan shalat tarawih secara berjama’ah karena merupakan syi’ar Islam yg begitu nampak sehingga serupa dgn shalat ‘ied (Imam Nawawi dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/39)
Imam Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Mu’min Ad-Dimasqi Asy-Syafi’i atau Syekh Taqiyuddin al-Hishni rahimahullah (wafat 829 H / 1425 M di Damaskus) dalam kitabnya yg berjudul Kifayatul akhyar fii alli ghaayatil ikhtishaar, mengatakan,
وَأما صَلَاة التَّرَاوِيح فَلَا شكّ فِي سنيتها وانعقد الْإِجْمَاع على ذَلِك قَالَه غير وَاحِد وَلَا عِبْرَة بشواذ الْأَقْوَال
“Adapun salat tarawih, tidak diragukan lagi di dalam kesunahannya. Kesepakatan ulama telah menjadi kukuh di dalam kesunahannya, yg demikian dikatakan tidak hanya satu orang. Tidak dianggap pendapat2 yg menyimpang”.
Anjuran berjama’ah
Dari sahabat Jundub bin Junadah bin Sakan atau Abu Dzar Al-Ghufari Radhiyallahu Anhu (652 M, Al-Rabadha, Arab Saudi), Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Imam Nasai dan Imam Turmudzi)
Hadis ini menjadi dalil anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam as-Syafii, Imam Ahmad, dan sebagian ulama Malikiyah rahimahumullah. Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan sbb :
قال الشافعي وجمهور أصحابه وأبو حنيفة وأحمد وبعض المالكية وغيرهم الأفضل صلاتها جماعة كما فعله عمر بن الخطاب والصحابة رضي الله عنهم واستمر عمل المسلمين عليه لأنه من الشعائر الظاهرة فأشبه صلاة العيد
Imam As-Syafii beserta mayoritas pengikutnya, Abu Hanifah, Ahmad, dan sebagian Malikiyah serta ulama lainnya, berpendapat bahwa yg afdhal mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah, sebagaimana yg dilakukan Umar bin Khatab dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan dilakukan secara terus-menerus oleh kaum muslimin. Karena ini termasuk syiar islam yg sangat nampak, mirip dgn shalat hari raya. (Kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/39)
Makna qoma ramadhan
Ulama sepakat bahwa redaksi “qama ramadlana” di dalam hadits di atas, maksudnya adalah shalat tarawih.
Menurut Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam An-Nawawi rahimahullah (1233 – 10 Desember 1277 M, Nawa, Suriah) menjelaskan makna qiyam Ramadhan tersebut :
والمراد بقيام رمضان صلاة التراويح
“Yang dimaksud qiyam ramadhan adalah shalat tarawih. (Kitab Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 6/39).
Diampuni dosanya
Menurut Al-Imam Muhammad bin Ahmad Asy-Syarbini al-Khatib Asy-Syafi’i atau Syekh Khatib al-Syarbini rahimahullah (wafat 1569 M di Mesir) menegaskan:
وَقَدْ اتَّفَقُوا عَلَى سُنِّيَّتِهَا وَعَلَى أَنَّهَا الْمُرَادُ مِنْ قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَقَوْلُهُ: إيمَانًا: أَيْ تَصْدِيقًا بِأَنَّهُ حَقٌّ مُعْتَقِدًا فَضِيلَتَهُ، وَاحْتِسَابًا: أَيْ إخْلَاصًا،
“Ulama sepakat atas kesunnahan tarawih dan sesungguhnya tarawih adalah shalat yg dikehendaki dalam hadits Nabi, Barang siapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yg telah lampau. Hadits diriwayatkan al-Bukhari. Adapun sabda Nabi “imanan”, maksudnya adalah membenarkan bahwa yg demikian itu haq seraya meyakini keutamaannya. Sabda Nabi “wahtisaban”, maksudnya ikhlas” (kitab Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 459).
Keutamaan ibadah salat tarawih, juga disebutkan dalam hadist yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi) Radhiyallahu Anhu (603 – 678 M, Jannatul Baqi’ Madinah)
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yg telah lampau”. (HR. Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan lainnya Rahimahumullah)
Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Hamzah Ar-Ramli Al-Manufi Al-Mishri Al-Anshari Asy-Syafi’i atau Imam Ar-Ramli rahimahullah (wafat 1550 M di Mesir), dalam kitab Nihayah al-Muhtaj mengungkapkan, menurut Abdul Malik bin ‘Abdillah bin Yusuf atau Al-Juwaini atau Al-Imam al-Haramain rahimahullah (17 Februari 1028 M – 20 Agustus 1085 M Naisabur, Iran) yg dimaksud itu adalah dosa2 kecil, bukan dosa2 besar.
Sementara itu, bagi Ibnu al-Mundzir, hadis tsb adalah perkataan umum, dgn harapan diampuninya seluruh dosa2 orang yg menggelar salat tarawih, baik yg termasuk dosa kecil maupun dosa yg besar.
Terlepas dari perbedaan pandangan tsb, melaksanakan salat tarawih tetap menjadi kesunahan yg sangat dianjurkan oleh kaum muslimin.
Dua jihad sekaligus
Imam Al Hafidz Zainuddin Abul Faraj Abdurahman ibnu Syihabuddin Ahmad ibn Rajab ibnu Abdurrahman ibnu Hasan ibn Muhammad ibnu Abil Barakat Mas’ud al Baghdadi al Dimasyqi al Hanbali atau Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah (4 November 1335 M – 14 Juli 1393 M di Damaskus, Suriah)
mengatakan :
واعلم أن المؤمن يجتمع له في شهر رمضان جهادان لنفسه : جهاد بالنهار على الصيام ، وجهاد بالليل على القيام ، فمن جمع بين هذين الجهادين وُفِّي أجره بغير حساب
Ketahuilah, ada dua jihad mengasah dirinya yg terkumpul dalam diri seorang mukmin: jihad di siang hari dgn puasa, dan jihad di malam hari dgn shalat malam. Siapa yg menggabungkan dua jihad ini, maka pahalanya akan dipenuhi tanpa hitungan. (Kitab Lathaif al-Ma’arif fima li Mawasim al-Ami min al-Wadhaif, hal. 171).
Wallahu a’lam, semoga bermanfaat
From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA Kabupaten Gresik

No responses yet