Catatan Singkat Pelatihan dan Penguatan Peneliti Muda
Di awal-awal tahun menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tepatnya pada 1974, Harun Nasution (1919-1998) menerbitkan buku yang mengundang banyak diskusi. Buku dua jilid itu berjudul “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”. Dalam bukunya, Harun Nasution menyatakan bahwa Islam banyak dipahami secara sempit. Baik oleh non-muslim ataupun oleh masyarakat muslim sendiri. Islam hanya banyak dipelajari dari aspek fikih, tauhid, tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Dan itupun hanya terbatas dalam satu madzhab atau beberapa aliran saja. Sudah barang tentu, pernyataan ini menuai banyak reaksi. Pro dan kontra.
Namun demikian, bagi Harun Nasution, penting kiranya, keluasan Islam perlu ditilik dan dihidupkan kembali. Islam harus dilihat dari aspek sejarah, aspek kebudayaan, aspek politik, aspek ekonomi, aspek falsafah, aspek ilmu pengetahuan, aspek lembaga-lembaga sosial, dan lain sebagainya. Selain itu, penting adanya upaya serius untuk menilik keragaman dan kekayaan madzhab dan aliran dalam Islam. Yakni dengan mengkaji masing-masing nalar dan metode berpikirnya. Dengan itu, generasi penerus akan memiliki kekayaan dan keluasan cara pandang. Ujungnya, Islam akan menjadi mesiu peradaban, bukan sebaliknya.
Dalam konteks ide besar tersebut, di lingkup UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 1 April 1995, didirikan Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM). Kelahiran PPIM merupakan respon terhadap wacana akademis yang, hingga pada dasawarsa akhir 1980-an dan awal tahun 1990-an, masih menganggap Islam di Indonesia sebagai tema “pinggiran.” Islam Indonesia dan Asia Tenggara kurang dilirik karena dianggap bukan bagian penting, atau bahkan terlepas dari mainstream Islam seperti yang berkembang di Arab, Afrika Utara, Iran bahkan negara- negara sub-continent. Hal ini tidak lepas dari keberislaman yang belum sepenuhnya dipahami secara luas.
Padahal, sebagaimana diungkapkan Anthony Reid, dilihat dari sudut pandang apa pun, Islam di Indonesia dan Asia Tenggara sangat menarik untuk dikaji. Jumlah penduduk Muslim Asia Tenggara yang besar menjadi salah satu kekuatan Islam di wilayah ini. Secara geografis, Indonesia dan Asia Tenggara, yang berbasis kepulauan dengan tanah yang subur, telah turut mempengaruhi corak keberagamaan masyarakatnya. Kecenderungan masyarakat agraris yang lebih mengutamakan solidaritas kelompok-kelompok sosial menyebabkan mereka lebih toleran dan terbuka dengan perbedaan-perbedaan.
Dua hari yang lalu, Rabu 14 April 2021, saya berkesempatan untuk ikut menyimak letupan-letupan spirit di atas dari para senior PPIM. Di antaranya adalah Prof. Dr. Oman Fathurahman, Fuad Jabali, Ph.D, Ismatu Ropi, Ph.D, dan Dr. Idris Thaha. Selama dua bulan ke depan, PPIM mengadakan pelatihan dan penguatan kapasitas peneliti muda. Diikuti oleh 15 orang dengan 12 kali pertemuan. Terkait hal ini, satu di antara lima misi PPIM yang menarik bagi saya adalah mengembangkan dan menyebarluaskan kekayaan tradisi Islam Indonesia di berbagai tingkatan untuk kehidupan dan kemanusiaan.
Lantas tertarikah anda?

No responses yet