Dalam Al Qur’an, kebiasaan Gusti Allah dalam menjelaskan sesuatu memakai iltifat. Yaitu menganalogikan sesuatu pada hal lain yang sudah disepakati kebenarannya, untuk menjelaskan sesuatu itu, sehingga membuka pemahaman.
Contohnya seperti ayat tentang penciptaan Nabi Isa yang tanpa ayah, untuk menjelaskan penciptaan Nabi Isa yang dianggap ahlu kitab adalah sesuatu yang mustahil. Padahal mereka mengimani Nabi Adam tercipta tanpa ayah dan ibu.
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa di sisi Gusti Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Gusti Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Gusti Allah berfirman kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah dia” (Ali Imron 59)
Dengan analogi tersebut, diharapkan lawan bicara memahami satu kebenaran. Kalo udah paham tapi tetap inkar, maka lawan bicara otomatis terjerat dengan keyakinannya sendiri.
Nah, iltifat bisa digunakan kalo kita ingin memahamkan konsep amaliyah tawasulan dengan orang sholeh yang telah wafat, kepada pihak yang mengingkarinya. Seperti yang kita tahu, tawasulan dengan orang sholeh yang telah wafat itu amaliyah Nahdliyin dan Aswaja pada umumnya. Hal ini ditentang oleh orang non Aswaja, terutama wahabi. Bahkan pelaku tawasulan dikafirkan.
Maka pertama kita perlu paham definisi tawasulan itu sendiri. Tawasulan itu pada dasarnya bentuk mengharapkan manfaat dari sesuatu untuk tujuan tertentu. Sehingga sama saja ketika kita punya mata minus, maka kita tawasulan dengan kacamata agar bisa melihat jauh. Saat kita ingin makan ongol-ongol, ya kita tawasulan pake duit sehingga kita dapat ongol-ongol.
Kalo tawasulan dengan benda tersebut tidak syirik, apa bedanya kita berdoa dengan tawasulan pada orang sholeh agar doa terkabul? Toh sama2 mengharap manfaat dari sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu.
Nah, inilah yang disebut iltifat dalam ilmu mantiq (logika). Kita menganalogikan sesuatu dengan hal lain yang sudah disepakati kebenarannya oleh kedua belah pihak.
Sehingga dengan cara ini, kita bisa memahamkan bahwa tawasulan bukanlah hal haram. Tawasulan dengan orang sholeh berarti menyebut nama orang sholeh agar rahmat Gusti Allah turun pada kita.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة
“Saat seseorang mengingat (menyebut) nama orang-orang sholeh, turunlah Rohmat”
Imam Ahmad pun mengakui ada manfaat dari tawasulan dengan cara menyebut nama orang sholeh. Disebutkan Imam Ahmad saat mengomentari ulama Tabi’in bernama Imam Shofwan bin Sulaim, Imam Ahmad dawuh
هذا رجل يستسقى بحديثه، وينزل القطر من السماء بذكره
“Orang ini haditsnya jadi tawasulan untuk meminta hujan, dan hujan pun langsung turun dari langit saat nama beliau disebut”
Ini tentu jadi bukti keistimewaan, karomah dan kesholehan Imam Shofwan bin Sulaim yang disematkan oleh Gusti Allah sendiri. Dan keistimewaan ini direspon oleh Imam Ahmad yang menyetujuinya karena niteni karomah Imam Shofwan bin Sulaim tersebut.
Ngomong2 khasiat menyebut nama orang sholeh, Mbah Yai Maimoen Zubair pernah mengijazahi Mbah Yai Sholeh Qoshim Sepanjang untuk melakukan pembacaan Shohih Bukhori untuk mencegah balak. Amalan ini diamalkan oleh komunitas Sarkub sejak 2017 dengan nama Majelis Rouhah.
Kalo dipikir, apa hubungan Shohih Bukhori dengan mencegah balak? Rahasia apa di balik Shohih Bukhori ini?
Ternyata rahasianya antara lain karena di dalam Shohih Bukhori terdapat deretan-deretan nama orang sholeh yang jadi perowi (periwayat) hadits dalam Shohih Bukhori.
Seperti yg kita ketahui, untuk mencapai derajat shohih, menurut Imam Bukhori, satu hadits harus melewati syarat yg ketat banget. Antara lain semua mata rantai tokoh periwayatnya harus sholeh beneran, tsiqoh (terpercaya), gak pernah bohong sekalipun, gak dzolim dan gak pelupa. Pokoknya sholehnya sundul ‘arsy, bukan kaleng-kaleng.
Ada cerita satu tokoh periwat yang terlihat sering ngusir ayam yang sedang mematuki gandumnya yang sedang dikeringkan. Oleh Imam Bukhori, tokoh itu langsung dinilai cacat (fasid) dan derajatnya dhoif, sehingga derajat haditsnya jatuh. Ini saking ketatnya kriteria kesholehan menurut Imam Bukhori.
Nah, deretan nama orang-orang sholeh beneran yang jadi perowi yang ada di kitab Shohih Bukhori inilah, yang ketika nama mereka disebut, bisa jadi perantara turunnya Rahmat Gusti Allah. Antara lain tertolaknya balak.
Syaikh Al Dawani Al Kazruni dawuh
سمعنا من مشايح الحديث، أن الدعاء عند ذكرهم في البخاري مستجاب وقد جرب
“Kami mendengar dari para guru Imam hadits, sejatinya doa saat disebut nama mereka yang ada di Shohih Bukhori, maka doanya terkabul dan ini benar-benar sudah teruji (mustajab)”
Maka tidak salah Mbah Maimoen mengijazahi Mbah Sholeh Qoshim untuk mengadakan rutinan pembacaan Shohih Bukhori. Hal ini untuk mengalap manfaat dari nama-nama orang sholeh yang ada di kitab tersebut, selain juga manfaat dari hadits shohih dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

No responses yet