Fitra manusia untuk ber-Tuhan adalah “Fitra Kesucian” yang seringkali tidak mendapatkan perawatan yang baik. Fitra yang dianugerahkan Allah sejak kita lahir, awalnya memang bergantung pada “orang tua” yang mendidik kita. Namun potensi kembangnya atau matinya tergantung pada usaha atau ikhtiar kita sendiri ketika kita sudah akil baligh. Jika kita bisa menghindari tumbuhnya kekafiran maka kita akan tetap bisa “melihat” hakekat kebenaran. Sebaliknya jika kita terjebak dalam kekafiran, kita akan semakin jauh dari kebenaran. Sebab kekafiran berkonsekuensi pada hadirnya kegelapan. Kegelapan berkonsekuensi pada kebutaan. Kebutaan berpotensi membawa kita pada “ketersesatan”. Ketersesatan bisa berujung pada kekecewaan.
Kedewasaan manusia ditandai dengan tumbuhnya kemampuan berpikir “jernih” untuk memahami posisi diri dihadapan manusia lain dan juga dihadapan alam semesta. Di balik kesadaran itulah fitra kesucian manusia atas kesadaran akan eksistensi Tuhan sebagai sumber segala kehidupan hadir. Namun karena keseimbangan kesadaran jasadiah dan ruhaniahnya tidak berimbang, akhirnya manusia terpilah dalam dua kategori keimanan yakni mereka yang “beriman” dengan kesadaran biologis dan mereka yang beriman dengan kesadaran spiritual. Akhirnya ada cinta berlebihan terhadap dunia dan atau berlebihan dalam beragama. Padahal semestinya keduanya harus ada dalam keseimbangan nalar akal dan spiritual. Karena pada posisi inilah kita bisa masuk dalam ruang “keabadian sorgawi”. Posisi suci di dalam kehidupan duniawi diwakili oleh kualitas keimanan dan ketaqwaan manusia dalam praktik kehidupan mereka di dunia. Termasuk di dalamnya praktik ritual keagamaan dan sosial kebudayaan. Seperti sholat, zakat dan naik haji, bergaul dengan baik dengan sesama manusia dan mahluk Allah yang lain. Karena itulah kesabaran dalam menghadap Wajah Nya menjadi ukuran utama kesadaran spiritual setiap hamba Allah. Sedangkan sabar dalam membalas setiap perlakuan tidak adil atau dholim orang lain dengan kebaikan, menjadi standar utama kesadaran sosial manusia. Inilah fitra kesucian manusia, yang bisa jadi modal manusia untuk kembali sebagai penduduk surga.
Membaca ayat qauniah harus diimbangi dengan kesadaran akan ayat-ayat qauliyah Nya. Sebab tidaklah mudah menghadirkan kesadaran berketuhanan jika kita tidak mampu menyeimbangkan keduanya. Kalimat paten Alhamdulillah misalnya adalah sebuah pondasi yang bisa membuat kita sadar, bahwa kita manusia tidak layak menyandang segala bentuk pujian. Dalam diri manusia memang ada ruh yang suci tetapi sebagai manusia biologis kita selalu membawa kotoran dalam diri kita. Itulah kenapa ketika kita akan menghadap Allah harus bersuci terlebih dahulu. Selama kotoran dalam tubuh kita belum keluar (sebagai kentut atau limbah makanan) maka status suci kita sebagai orang yang telah berwudhu tidak hilang. Bagi seorang yang sedang ingin menghadirkan Tuhan dalam dirinya jangankan keluar kotoran biologis, keluarnya kotoran hati juga sudah dianggap membatalkan kesucian air wudhu mereka. Karena itulah berikhtiar menyeimbangkan kesadaran biologis dan spiritual menjadi pondasi utama dalam aktivitas manusia dalam “menyucikan Allah yang memang Maha Suci”. Kesadaran ini harus dimaknai bahwa jika kita ingin “bertemu” Allah maka sucikanlah diri kita dari segala bentuk kekotoran lahir dan bathin. #SeriPaijo

No responses yet