Mungkin pernah terbesit di dalam pikiran kita atas dasar apa Allah memilih Sayyidah Khodijah untuk menjadi istri pertama Rasulullah SAW dan menjadi ibu dari seluruh putra putri Nabi (selain Ibrahim). Juga sebagai sosok yang pertama kali beriman, yang selalu menghibur, melindungi, dan telah mengorbankan jiwa hartanya untuk Nabi SAW. Sehingga setelah meninggal pun beliau tetap selalu terkenang di dalam hati Nabi SAW.
Keistimewaan apa yang beliau miliki sehingga Nabi bersabda: “Sebaik-baik perempuan (pada masanya) adalah Maryam bintu ‘Imron dan sebaik-baik perempuan (pasa masanya) adalah Khodijah bintu Khuwailid”. Juga Nabi bersabda: “Banyak sekali dari laki-laki yang sempurna, dan tidak ada perempuan yang sempurna selain empat: Khodijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, Asiyah bintu Muzahim (istri Fir’aun), dan Maryam bintu ‘Imron (ibunda Nabi Isa)”.
Dilahirkan 15 tahun sebelum Tahun Gajah, ayah beliau bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushoi. Nasab beliau bertemu dengan Nabi SAW pada kakeknya yang ke empat yaitu Qushoi bin Kilab. Bani Asad merupakan suku yang memiliki tempat tinggal paling dekat dengan Ka’bah sehingga disebutkan bahwa rumah Sayyidah Khodijah hanya berjarak beberapa meter dari Ka’bah.
Berasal dari keluarga terkemuka dalam nasab, kemuliaan, kedudukan, dan kekayaannya beliau tumbuh besar tidak seperti perempuan-perempuan lain. Beliau tidak pernah sujud kepada berhala atau melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk Jahiliyah. Sehingga ketika masih zaman Jahiliyah beliau dijuluki at Thohiroh (perempuan yang suci).
Taktala beliau dewasa banyak dari pemuda-pemuda Quroisy yang ingin meminang beliau. Karena selain terkenal dengan kekayaan dan kemuliaan nasabnya, beliau juga terkenal dengan kecantikan dan kecerdasannya. Akhirnya beliau menikah dengan Abu Halah bin Zuroroh at Tamimiy. Dari suami pertama tersebut beliau dikaruniai 2 putra yang bernama Hindun dan Halah. Setelah beberapa lama Abu Halah wafat dan meninggalkan harta yang banyak untuk Sayyidah Khodijah.
Kemudian beliau menikah lagi dengan ‘Atiq bin ‘Aidz al Makhzumiy. Setelah beberapa lama akhirnya beliau juga ditinggal wafat oleh suami kedua tersebut. Dan darinya beliau memiliki seorang putri yang bernama Hindun bintu ‘Atiq. Perlu diketahui bahwa Hindun saat itu adalah nama yang dipakai untuk orang laki-laki dan perempuan, Hindun yang berasal dari suami pertama beliau adalah laki-laki dan yang berasal dari suami kedua adalah seorang perempuan.
Setelah itu meskipun banyak pemuda-pemuda Quroisy yang meminang, beliau selalu menolak karena masih belum menemukan seseorang yang benar-benar bisa mengisi hati beliau. Akhirnya beliau menyibukkan diri dengan merawat anak-anaknya dan mengembangkan harta peninggalan suaminya. Beliau mengupah pemuda-pemuda untuk menjual barang dagangan beliau ke negeri Syam. Bisnis beliau pun sukses sampai dikatakan bahwa beliau termasuk orang terkaya di kota Makkah.
Sampai suatu ketika beliau mimpi melihat matahari turun di kota makkah kemudian memasuki rumah beliau. Akhirnya beliau bergegas mendatangi sepupu beliau bernama Waroqoh bin Naufal yang merupakan seorang pendeta yang meyakini keesaan Allah dan akan diutusnya Nabi di akhir Zaman. Tatkala beliau menceritakan mimpi tersebut sepupunya berkata: “Wahai saudariku! Jika mimpimu benar maka bergembiralah karena engkau akan menjadi istri Nabi akhir zaman yang akan muncul sebentar lagi”. Sayyidah Khodijah pun sangat senang mendengar hal tersebut.
Mulai saat itu Sayyidah Khodijah mulai mencari tahu siapakah sosok yang akan menjadi Nabi tersebut. Sampai akhirnya beliau mendengar tentang seorang pemuda yang terkenal kejujuran, kecerdasan, dan budi pekertinya yang baik sampai orang-orang menjulukinya Al Amin. Beliau pun mencari tahu dan akhirnya lewat paman Nabi Abu Tholib beliau pun mengajak Nabi SAW berbisnis menjual barang dagangan beliau ke negeri Syam dengan menjanjikan akan memberi upah dua kali lipat daripada upah yang diberikan untuk pemuda lain.
Karena rasa tanggung jawab Nabi SAW juga rasa kasihan melihat kondisi paman beliau yang telah merawat beliau mulai kecil meskipun sudah memiliki banyak anak dan hartanya sedikit, Nabi pun tidak bisa menolak tawaran tersebut. Sayyidah Khodijah tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Beliau pun mengutus pembantu beliau yang bernama Maysaroh (nama seorang laki-laki) untuk menemani perjalanan Nabi SAW yang tujuan intinya adalah mengawasi dan membuktikan apakah benar apa yang dikatakan orang-orang tentang kejujuran, kecerdasan, dan budi pekerti yang dimiliki oleh sosok pemuda tersebut.
Sepulang dari Syam Nabi SAW dan Maysaroh kembali dengan membawa keuntungan yang berlipat-lipat. Tpi sebenarnya bukan itu yang diharapkan oleh Sayyidah Khodijah, yang pertama beliau tanyakan kepada pembantunya adalah apakah benar apa yang dikatakan orang-orang tentang sosok pemuda tersebut.
Akhirnya Maysaroh pun menceritakan bagaimana kejujuran dan kecerdasan Nabi SAW dalam berdagang, kedermawanan beliau dan budi pekerti beliau yang luar biasa, juga peristiwa-peristiwa menakjubkan yang dia saksikan saat perjalanan seperti ketika siang hari ada awan yang selalu menaungi Nabi SAW dan mengikuti beliau kemanapun beliau pergi. Dan ketika beliau duduk di bawah pohon kemudian ada seorang pendeta bernama Nasthur yang mendatangi Maysaroh dan menanyakan siapa pemuda tersebut. Maysaroh pun menjawab dia adalah seorang pemuda dari kota Makkah. Pendeta tersebut berkata: “Demi Allah tidak duduk di bawah pohon tersebut melainkan seorang Nabi”.
Mendengar hal tersebut perasaan Sayyidah Khodijah kepada Muhammad pun semakin kuat. Akhirnya beliau meminta tolong kepada teman beliau yang bernama Nafisah untuk memberikan tawaran Muhammad agar bersedia menikahi beliau. Nafisah pun mendatangi Muhammad seraya berkata: “Wahai Muhammad! Tidakkah kamu ingin menikah?” Nabi pun menjawab: “Sebenarnya iya, akan tetapi aku tidak mempunyai apa-apa untuk menikah”. Nafisah berkata: “Jika ada perempuan yang mempunyai nasab yang bagus, kecantikan, kecerdasan dan kekayaan bersedia untuk kamu nikahi apakah kamu mau?” Nabi bertanya kembali: “Siapakah perempuan tersebut?” Nafisah menjawab: “Dia adalah Khodijah bintu Khuwailid”.
Nabi pun bermusyawaroh dengan paman-paman beliau dan setelah disetujui kemudian beliau bersama paman-paman beliau berangkat untuk melamar Khodijah. Berkumpulah dua keluarga yang sangat mulia tersebut di rumah Khodijah. Sebelum mengatakan maksud tujuan Muhammad adalah untuk melamar Khodijah, paman beliau Abu Tholib berdiri dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat indah. Setelah disetujui oleh pihak Khodijah yang diwakili paman beliau karena ayah beliau sudah wafat akhirnya sempurnalah pernikahan tersebut. Nabi memberi mahar kepada Sayyidah Khodijah sebanyak 12,5 uqiyah (500 dirham) dan di dalam riwayat lain berupa 20 onta muda.
Kemudian diundanglah para penduduk Mekkah saat walimah dan termasuk yang datang adalah ibu susuan Nabi SAW yaitu Halimah Sa’diyah. Sebelum beliau pulang ke rumahnya di perkampungan Bani Sa’ad, Sayyidah Khodijah memberi hadiah kepada ibu susuan Nabi SAW itu 40 ekor kambing. Pada saat itu semua penduduk Mekah bahkan seluruh alam semesta merasa senang dengan terbentuknya rumah tangga paling indah dan paling mulia baik di dunia maupun di akhirat tersebut. Rumah tangga yang dari sanalah keluarnya wahyu, tersebarnya islam, dan munculnya Ahlu Bait yang mulia.
Bagaimanakah kisah rumah tangga Sayyidah Khodijah bersama Rasulullah SAW. Karena status e udah terlalu panjang jdi terpaksa harus bersambung lgi nih di seri selanjutnya hehe…

No responses yet