Kitab Tabsiroh berisi tentang haji dan umroh.
Ditulis oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Amin bin Thohir al-Banjari at-Tungkali al-Makki, seorang ulama kelahiran Kuala Tungkal, Jambi.
Tentang biografi beliau sudah pernah saya tulis pada Ulama Jambi (Bagian 1). Selengkapnya: (https://www.facebook.com/100004803275346/posts/1260986424071455/?app=fbl)
Kitab ini ditulis di Makkah pada tahun 1381 H dan diberi kata pengantar (taqrizh) oleh ulama pengajar Masjidil Haram, ialah Syekh Husein bin Abdul Ghani Palembang (w. 1399 H) dan Syekh Abdul Qodir bin Abdul Muthalib al-Mandaili (w. 1385 H).
Pada bagian mukadimah, Syekh Abdul Hamid al-Banjari menuliskan beberapa nama gurunya diantaranya:
1. Syekh Muhammad Ahyad al-Bogori (w. 1372 H)
2. Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi (w. 1368 H)
3. Syekh Hasan al- Masyath (w. 1399 H)
4. Syekh Muhammad Abd al-Baqi al-Anshari
5. Syekh Muhammad Ali al-Maliki (w. 1368 H), merupakan seorang ulama pengajar Masjidil Haram. Sebagaimana yang pernah saya tulis pada (Ulama Jambi Bagian 33) tentang Syekh Said al-Yamani. Syekh Muhammad Ali al-Maliki pun, pada tahun 1343 H melakukan rihlah ke Nusantara dan diantara tempat yang disinggahinya adalah Jambi. Bahkan salah satu karya kitabnya ada yang ditulis saat berada di Jambi. Syekh Abdul Hamid al-Banjari didalam kitabnya yang berjudul “Bulughul Murad fi Majmu’ al-Aurad”, menuliskan sebuah wirid yang beliau peroleh dari Syekh Muhammad Ali al-Maliki. Sebagaimana berikut:
إِلَهِيْ بِحَقِّ مَنْ نَادَاكَ، وَحُرْمَةَ مَنْ دَعَاكَ، تَفَضَّلْ عَلَى فُقَرَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِالغِنَى، وَعَلَى الْمَرْضَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِاالشِّفَاءِ، وَعَلَى إِحْيَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِالْلُطْفِ وَالْكَرَمِ، وَعَلَى مَوْتَاهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ، وَعَلَى غُرَبَائِهِمْ بِالرَدِّ إِلَى أَوْ طَانِهِمْ سَالِمِيْنَ، بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ
اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ
اللَّهُمَّ عَافِ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ
اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ، بِقَدْرِ حُبِّكَ فِيْهِ، وَبِجَاهِهِ عِنْدَكَ، فَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ، وَلاَ نَسْأَلُكَ رَدَّ الْقَضَا، بَلْ نَسْأَلُكَ الْلُطْفَ فيْهِ.
Sementara dalam karya beliau yang lain yakni, kitab “Petunjuk yang Indah”, pada bagian ‘mukadimah’ Syekh Abdul Hamid al-Banjari menuliskan silsilah sanad keilmuan fiqihnya. Sebagaimana berikut:
1. Syekh Abdul Hamid al-Banjari
2. Syekh Muhammad Ahyad al-Bogori
3. Syekh Mukhtar Atharid al-Bogori
4. Sayyid Muhammad Amin Ridwan al-Madani
5. Syekh Abi Ja’far Muhammad Saleh al-Bukhari
6. Syekh Rofi’uddin al-Qandhari
7. Syekh Muhammad bin Abdullah al-Maghribi
8. Syekh Ali as-Subramilsi
9. Syekh Sulaiman al-Babili
10. Syamsuddin al-Khatib Asy-Syarbini
11. Syekhul Islam Zakariya al-Anshari
12. Al-Hafidz bin Hajar al-Asqalani
13. Al-Hafidz al-Wali al-Iraqi
14. Abil Hasan Ali bin Ibrahim al Aththar ad Damsyiqi
15. Imam Nawawi ad-Dimasqi
16. Jamaluddin al-Sallar al-Irbili
17. Syekh Muhammad bin M. shahib asy-Syamil Shaghir
18. Syekh Abdurrahim al-Quzwaini shahibul Hawi
19. Abi al-Qasim Abdul Karim ar-Rafi`i
20. Syekh Abi al-Fadhil Muhammad bin Yahya
21. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali
22. Imam al-Haramain
23. Syekh Abi Muhammad al-Juwaini
24. Abi Bakar al-Qaffal al-Marwadzi
25. Imam Abi Zaid al-Marwadzi
26. Imam Abi Ishaq al-Marwadzi
27. Imam Abi al-Abbas bin Suraij
28. Imam Abi Sa’id al-Anamathi
29. Imam Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzanni
30. Imam as-Syafi’i
31. Imam Malik
32. Imam Nafi` maula Ibnu Umar
33.Imam Abdullah bin Umar bin Khaththab ra.
34. Nabi Muhammad Saw.
35. Malaikat Jibril
36. Allah SWT.
Setelah selesai menuliskan sanad keilmuannya, Syekh Abdul Hamid al-Banjari memberi semacam tanbih “peringatan” tentang pentingnya sebuah sanad. Telah dikatakan dalam kitab al-anwar al-Saniyyah, ‘seseorang yang melakukan shalat tanpa mengerti (jahil) cara (ilmu) berwudhu, maka shalatnya tentu tidak sah, meski melaksanakan shalatnya dengan benar’.
Kemudian beliau mengutip dua perkataan Ibnu al-Mubarak:
الإسناد من الدين، لو لا الإسناد لقال من شاء على ما شاء
(Isnad itu sebagian dari agama, andaikata tidak ada isnad, tentu orang berkata apa saja yang telah ia kehendaki)
طالبُ العلمِ بلا سند كراقي السّطْح بلا سلّم
(Pencari ilmu tanpa sanad layaknya orang yang memanjat loteng tanpa adanya tangga).
Sementara telah berkata Imam Sufyan ats-Tsauri:
السّنَدُ سلاح المؤمن فإذا لم يكن معك سلاح فبِمَ تُقاتل؟
(Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata, maka dengan apa kau akan berperang?), berangkat dari perkataan kedua ulama tersebut, Ibnu Mu’min membuat sebuah puisi sebagaimana berikut:
“Sanad”
Wahai anakku, dengarkanlah wasiatku
Jika engkau berperang
Gunakanlah senjata berupa sanad
Bagaimana engkau bisa menaiki loteng, seandainya engkau tak menggunakan tangga
Bila ilmu tak bersanad
Tentu ilmu tidak bisa dipertanggungjawabkan
Jika ilmu tak bersanad
Pasti manusia berujar sekehendaknya
Apabila ilmu tak bersanad
Maka ilmu itu dari setan
Sedangkan musuhmu dalam pertempuran adalah setan
Renungkanlah perkataanku anakku
(Syair Gado-Gado, hal. 68).
Waallahu ‘Alam
Jambi, 26 April 2021

No responses yet