Barangkali di antara kita pernah membuat peghakiman orang lain sebagai ahli neraka ketika orang itu memang benar2 terlihat sedang melakukan perkara maksiat. Tak harus dgn tuduhan secara terang2an, getaran di dalam benak pun sudah sah disebut sebagai penghakiman.
Tahukah kita, secara sadar maupun tak sadar penghakiman yg demikian ini lazimnya didorong oleh perasaan diri yg lebih unggul. Seperti dalam sebuah perlombaan, seorang anggota dewan juri akan memosisikan dirinya sebagai orang yg lebih paham ketimbang para peserta lomba. Posisi ini adalah tuntutan profesi karena untuk kemudian mendapatkan otoritas sebagai pihak yg menilai orang lain. Saat seseorang dgn mudahnya berprasangka orang lain masuk neraka, perasaan bahwa dirinya tidak akan masuk neraka atau sudah layak masuk surga biasanya secara otomatis mengiringi. Perasaan tsb timbul karena efek membanding2kan antara jumlah dosa dari orang yg kita tuduh dgn kuantitas ibadah yg pernah kita kerjakan. Munculah anggapan, misalnya: saya rajin ke masjid tentu masuk surga, mereka gemar maksiat tentu masuk neraka.
Jangan2 amal saleh yg selama ini kita lakukan niatnya tidak lurus. Amalannya secara dzohir tampak baik, tapi niatnya tidak. Ini berkait dengan hadits nabi yg lain. Innamal a’malu bi niat, bahwa setiap amalan itu ditentukan oleh niatnya.
Allah berfirman dalam surat Al-Qiyamah ayat 36 sebagai berikut :
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”
Setiap Muslim harus senantiasa mengevaluasi amalan-amalannya. Ada hadits yg menyatakan tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Tapi semua amalan2 yg kita kerjakan tidak serta merta menjadikan kita bisa masuk surga dgn mudah, karena dalam hadits2 lain di sebutkan bahwa amalan tidak menyebabkan seseorang ke dalam surga, kecuali hanya dengan rahmat dari Allah.
Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu (607 – 697 M, Madinah) disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
“Tidak ada amalan seorangpun yg bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dgn rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).
Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat 10 Desember 1277 M Suriah) berkata :
وَفِي ظَاهِر هَذِهِ الْأَحَادِيث : دَلَالَة لِأَهْلِ الْحَقّ أَنَّهُ لَا يَسْتَحِقّ أَحَد الثَّوَاب وَالْجَنَّة بِطَاعَتِهِ ، وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى : {اُدْخُلُوا الْجَنَّة بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} { وَتِلْك الْجَنَّة الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ } وَنَحْوهمَا مِنْ الْآيَات الدَّالَّة عَلَى أَنَّ الْأَعْمَال يُدْخَل بِهَا الْجَنَّة ، فَلَا يُعَارِض هَذِهِ الْأَحَادِيث ، بَلْ مَعْنَى الْآيَات : أَنَّ دُخُول الْجَنَّة بِسَبَبِ الْأَعْمَال ، ثُمَّ التَّوْفِيق لِلْأَعْمَالِ وَالْهِدَايَة لِلْإِخْلَاصِ فِيهَا ، وَقَبُولهَا بِرَحْمَةِ اللَّه تَعَالَى وَفَضْله ، فَيَصِحّ أَنَّهُ لَمْ يَدْخُل بِمُجَرَّدِ الْعَمَل . وَهُوَ مُرَاد الْأَحَادِيث ، وَيَصِحّ أَنَّهُ دَخَلَ بِالْأَعْمَالِ أَيْ بِسَبَبِهَا ، وَهِيَ مِنْ الرَّحْمَة . وَاَللَّه أَعْلَم
“Dan (makna) dalam dhahir hadits2 ini merupakan petunjuk bagi ahlul haq bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan pahala dan surga karena ketaatannya. Adapun firman Allah Ta’ala QS. An-Nahl : 32, “Masuklah kamu ke dalam surga itu di sebabkan apa yg telah kamu kerjakan.” dan QS. Az-Zukhruf : 72, “Dan itulah surga yg telah di wariskan kepada kamu di sebabkan amal-amal dahulu yang kamu kerjakan.” dan ayat2 yg lain menunjukkan bahwa amal2 dapat memasukkannya ke dalam surga. Tidak ada pertentangan dalam hadits2 tsb. Namun makna ayat2 ini adalah bahwa masuknya (seseorang) ke dalam surga dgn sebab amal2 (shalih), kemudian Allah memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk ikhlas dalam amalan tsb. Di terimanya amalan2 tersebut dgn rahmat Allah Ta’ala dan karunia-Nya. Maka benarlah, bahwasanya seseorang tidak masuk surga hanya sekedar amalannya semata. Itulah yang di maksud dalam hadits2. (Kitab Syarh Shahih Muslim, 17/160-161).
Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 18 Februari 1373 M, Damaskus) mengatakan tentang Surah Az-Zukhruf : 72 :
أي : أعمالكم الصالحة كانت سببا لشمول رحمة الله إياكم، فإنه لا يدخل أحدًا عمله الجنة، ولكن بفضل من الله ورحمته. وإنما الدرجات تفاوتها بحسب عمل الصالحات.
“Yaitu : amal2 shalih kalian yg menjadi sebab kalian di liputi rahmat. Karena tidak ada seorangpun yg masuk surga karena amalnya semata, akan tetapi (ia akan masuk surga) karena rahmat dan karunia Allah. Hanya saja perbedaan derajat dapat di peroleh berdasarkan amal2 shalihnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/239-240).
Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 14 Juli 1393, Damaskus), menjelaskan tentang hadits di atas,
وهذا يدلُّ على شدَّةِ اهتمامِ معاذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بالأعمال الصَّالحة ، وفيه دليلٌ على أنَّ الأعمالَ سببٌ لدخول الجنَّة ، كما قال تعالى : وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ .
وأما قولُه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( لَنْ يدخُلَ أحدٌ منكُمُ الجنَّة بِعمَلِه )) فالمراد – والله أعلم – أنَّ العملَ بنفسه لا يستحقُّ به أحدٌ الجنَّة لولا أنَّ الله جعله – بفضله ورحمته – سبباً لذلك ، والعملُ نفسُه من رحمة الله وفضله على عبده ، فالجنَّةُ وأسبابُها كلٌّ من فضل الله ورحمته .
“Ini menunjukkan kuatnya perhatian Mu’adz radhiyallahu ‘anhu terhadap amal2 shalih. Dan dalam hadits tersebut terdapat dalil2 bahwa amal2 (shalih) merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga, sebagaimana di firmankan Allah Ta’ala : “Dan itulah surga yg telah di wariskan kepada kamu di sebabkan amal2 yg dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf : 72 )
Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga dgn sebab amalnya’, maka yg di maksud adalah bahwa amal itu sendiri tidak memuat seseorang berhak mendapatkan surga, seandainya Allah dgn rahmat dan karunia-Nya, tidak menjadikan (amal) sebab untuk itu. Dan amal itu sendiri termasuk rahmat dan karunia-Nya terhadap hambaNya. Maka, surga dan sebab2nya, semuanya termasuk Karunia-Nya dan rahmat dari Allah.” (kitab Jaami’ul-‘Ulul wal-Hikam, hal. 604-605)
Jangan sampai di akhirat jadi orang yg bangkrut. Yang harus diperbanyak itu zikir dan amal saleh. Bukan fitnah atau caci maki:
Bagaimana mungkin orang yg rajin Sholat. Bukan cuma sholat Wajib dan sholat sunat rawatib. Tapi juga sholat Duha, Sholat Tahajjud, Sholat Safar, dsb. Rajin puasa. Bukan cuma Ramadhan, tapi Syawal, puasa tengah bulan, Senin-Kamis, bahkan Puasa Daud (sehari puasa sehari buka). Kemudian rajin bayar zakat dan sedekah.
Tapi di hari kiamat, ternyata pahalanya diambil Allah dan diberikan kepada orang2 yg dia zalimi. Orang2 yg dia katai. Orang2 yg dia hina. Dia pukul. Bahkan bunuh.
Saat pahalanya habis dan dosanya masih banyak karena dia menghina orang setiap hari. Memfitnah orang setiap hari, dsb, maka dosa orang2 yg dia zalimi ditimpakan ke dia.
Akhirnya meski amal ibadahnya banyak, bukannya masuk surga, malah masuk neraka. Mudah2an kita terhindar dari hal seperti itu.
أتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ ؟ قالوا : المفْلسُ فينا من لا درهم له ولا متاع. قال : إن المفْلسَ مَنْ يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ، ويأتي قد شَتَمَ هذا ، وقذفَ هذا ، وأكل مال هذا ، وسفك دم هذا ، وضرب هذا ، فيُعطَى هذا من حسناته ، وهذا من حسناته ، فإن فَنيَتْ حَسَناتُهُ قبل أن يُقْضى ما عليه ، أُخِذَ من خطايهم فطُرِحَتْ عليه ، ثم يُطْرَحُ في النار
Tahukah kamu siapa orang yg bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya orang yg bangkrut dari umatku ialah (orang) yg datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala2nya habis sebelum selesai tuntutan dan ganti tebusan atas dosa2nya maka dosa orang2 yg menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)
Imam Al-Ghazali (wafat 1111 M) dalam Bidayatul Hidayah menyebut orang yg merasa lebih baik ini sebagai salah satu bentuk kebodohan.
Jadi penjelasan2 para ulama di atas saling melengkapi dan menguatkan. Maka bisa di katakan surga tidak sebanding dgn amal (shalih) yang kita lakukan, tanpa rahmat Allah dan Karunia-Nya. Seperti terkandung dalam firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 156 :
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang2 yg bertakwa, yg menunaikan zakat dan orang2 yg beriman kepada ayat2 Kami”.
Wallaahu A’lam. Semoga bermanfaat..
Ahmad Zaini Alawi
Khodim Sarinyala

No responses yet