Kalau kita bertanya apakah yang ada dalam benak orang awam seperti kita ketika mendengar kata i’tikaf? Jawabnya pasti ada diseputar aktifitas berdiam di diri di masjid dengan niat ibadah kepada Allah. Namun kalau ditelusuri dengan sungguh-sungguh makna dan hikmah i’tikaf tidak sesederhana itu. Sebab konon kata akar katanya bermakna “memenjarakan diri”. Sehingga dalam bayangan saya i’tikaf adalah perbuatan yang penuh dengan kesadaran untuk “merantaikan diri sendiri” dalam “Ikatan Cinta” hanya kepada Allah. Sehingga I’tikaf dapat dilakukan kapanpun oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Tidak harus menunggu bulan Ramadhan atau lebih khusus lagi di sepertiga bulan terakhir Ramadhan.
Namun kenapa amalan ini begitu populer di bulan Ramadhan? Itulah tradisi yang dilahirkan dari sebuah pengulangan yang berkelanjutan atas ekspresi pemahaman tentang kemuliaan bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, karena turunnya banyak hikmah di masa hidup Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Dan kita yakini keberkahannya tetap bertahan hingga Yaumil qiyamah.
Kepopuleran i’tikaf dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan juga didukung adanya keyakinan bahwa puncak Ramadhan dan turunnya Lailatul Qadar adalah di dalam kurun waktu tersebut. Meskipun tidak ada “dalil” yang cukup tegas tentang hal ini, tetapi para ulama banyak yang mengajarkan kepada kita tentang keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ajaran ini tentu bukan tanpa alasan, sebab puncak cinta baru bisa digapai setelah mengarungi perjalanan penderitaan yang panjang.
Dua puluh hari pertama puasa adalah ikhtiar pembersihan lahir dan bathin, sehingga diharapkan mereka yang sudah siap menerima “Lailatul Qadar” dalam pengertian kesadaran yang utuh tentang makna Iman, Islam dan Ihsan. Bukan sekedar berlipat-lipat nya pahala semata, sebagaimana pemahaman awam kita selama ini. Begitulah para ulama kita mengajarkan substansi keimanan kepada Lailatul Qadar tanpa mengesampingkan “hasrat keawaman” mereka yang tidak mau bersusah hati untuk merenungkan hikmahnya. Yang penting yakin dapat pahala berlipat dan terbebas dari hukuman dalam api neraka.
Namun bagi para pecinta sejati pahala dalam pengertian “material” bukanlah tujuan. Yang mereka harapkan adalah pembebasan rindu untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Semua kenikmatan sorga dan kesengsaraan neraka pun akan lenyap seketika dalam bayangan pikiran dan hati para pencinta ketika Ridho Perjumpaan didapat. Dalam konteks inilah i’tikaf bagi para pecinta adalah sarana untuk mengekang, memenjarakan dan bahkan mengikat diri dengan ikatan Cinta sejati dalam penjara spiritual. Semua hasrat material duniawi dan ukhrowi mereka kesampingkan demi sebuah Perjumpaan sejati.
Masjid adalah simbol dimana tubuh-tubuh yang memenjarakan ruh dipenjara agar mau dipaksa tunduk secara biologis. Tapi bagi para pecinta, hakekat masjid itulah yang harus dibawa kemanapun mereka pergi melangkahkan kaki. Menebarkan Cinta sebagaimana dicontohkan para nabi dan Rasul. Sebab di antara para kekasih Allah adalah orang-orang yang hatinya “terikat atau menempel dengan sangat kuat” dengan tempat sujudnya. Sehingga mereka bisa beri’tikaf setiap saat di semua tempat. Seperti para perindu yang selalu membayangkan Kekasihnya disepanjang waktu dan tempat. Dengan demikian para pecinta tidak pernah memikirkan apalagi bermaksiat dihadapan Kekasih, karena itu adalah sebuah kejahilan yang dapat merusak Ikatan Cinta. Karena sang Kekasih akan cemburu dan merasa diduakan dengan sesuatu yang tak pantas di sandingkan dengan DiriNya. #SeriPaijo

No responses yet