Guru ‘kehilangan muka’. Digantikan wajah laptop dan LCD proyektor. 

inilah kompetisi paling dahsyat antara manusia dengan mesin belajar. Manusia dan mesin berebut dominan menjadi robot. 

*^^^*

Dalam hati saya merindukan sosok failasuf pendidikan sekelas: Prof Daoed Joesoef, Prof Fuad Hasan, Prof Malik Fadjar bahkan Ki Hadjar Dewantoro, kepada para failasuf pendidikan itu saya ingin bertanya dan berta’dzim tentang merdeka belajar. 

Belajar pada masa pandemi adalah contoh paling real bagaimana peran guru digantikan mesin belajar. Kecerdasan buatan difungsikan, mesin belajar membentuk manusia menjadi robot. Substansi dan tujuan pendidikan mengalami revolusi total. Tak heran jika agama sempat hilang dalam rumusan tujuan pendidikan nasionali. Itu bukan kealpaan tapi kesengajaan yang dialpakan. 

Saya menyebut bahwa Merdeka Belajar adalah konsep paling mengerikan. Peradaban kemanusiaan akan berubah. Literasi dan Numerasi diberhalakan. Tata krama dan keadaban dipertaruhkan. Marjinalisasi manusia berlangsung sistematis. Kesadaran kognitif dikedepankan. Moralitas diinjak hingga paling dasar. Agama dan moral dinihilkan. 

*^^^^*

Konsep Merdeka Belajar bersumbu pada tiga pilar utama: mechine learning, kecerdasan buatan dan robot. Jadi kira-kira apa yang bakal terjadi pada anak-anak kita di masa depan? Peradaban macam apa yang bakal dibentuk oleh konsep merdeka belajar ?

Guru bukan perumus masa depan — kata para cerdik cendekia. Tapi sistem bisa lakukan itu dengan mudah. Jadi apa yang kita kehendaki dengan anak-anak kita di masa depan, akan kita tentukan dengan apa yang kita lakukan hari ini pesan Sayidina Ali ra. 

Sayangnya kita tak punya kredo pendidikan yang di sakralkan atau disucikan akibatnya kerap berubah dan tidak kokoh. Tujuan pendidikan kerap belok arah.

*^^^*

Saatnya MUHAMMADIYAH dan NU mengambil peran signifikan dan mengabaikan mesin belajar,  kecerdasan buatan dan robot yang dibawa merdeka belajar. Saat tepat untuk mengkonsep, merumus dan membentuk sendiri manusia macam apa yang di idealkan. 

Jujur saya berharap sistem pendidikan di pesantren tradisional yang menempatkan adab sebagai yang utama tetap kokoh tidak berubah,  ditengah gempuran dan riuh liberalisme dan sekularisme sistem pendidikan akut. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *