Masih ngomongin mukjizat, ada cerita mukjizat-mukjizat Kanjeng Nabi Muhammad SAW di saat Perang Badar Kubro, 10 Ramadhan 2 Hijriyah.

Setelah meluruskan barisan para  sahabat dan mengatur strategi saat menjelang detik-detik pertempuran, Kanjeng Nabi Muhammad SAW kembali ke bangsalnya, tempat Beliau SAW memberi komando. Beliau SAW memasuki bangsal hanya ditemani Sayyidina Abu Bakar RA. 

Karena pasukan musyrik Makkah yang dihadapi Kanjeng Nabi SAW jumlahnya seribuan, jauh di atas jumlah pasukan Kanjeng Nabi yang hanya 313 personel, muncul kegelisahan di diri Kanjeng Nabi SAW. Lalu Kanjeng Nabi Muhammad SAW bermunajat “Duh Gusti Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini (para sahabat RA) pada hari ini, Engkau pasti tidak akan disembah”  

Sayyidina Abu Bakar berkata, “Duh Kanjeng Nabi, tahanlah munajatmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Gusti Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu”.

Kemudian Kanjeng Nabi SAW sekejap tertidur di bangsal, kemudian beliau terbangun, dan Beliau SAW bersabda, “Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Gusti Allah telah datang kepadamu. Inilah Jibril sedang memegang kendali kuda. Dia menuntun kuda tersebut, dan di gigi depannya terdapat kematian”

Kuda Malaikat Jibril itu bernama Haizun. Banyak orang musyrik yang tidak tahan hanya karena melihatnya dan mendengar ringkikannya, maka orang musyrik tewas seketika. Pada Perang Badar, ciri-ciri para malaikat adalah sorban putih yang mereka kenakan, lalu dari sorban itu ada kain yang diturunkan hingga menutupi punggung mereka. Kecuali Malaikat Jibril yang mengenakan sorban kuning. Para malaikat ikut bertempur dan membunuh kaum musyrik di Perang Badar. Selain di Perang Badar, para malaikat hanya penambah jumlah, tidak ikut bertempur.

Kemudian di Perang Badar tersebut, ada seorang sahabat yang ikut bertempur bernama Sayyidina Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan Al-Asadi RA, sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf. Beliau bertempur dengan gagah berani di Badar Kubro dengan pedangnya hingga kemudian pedangnya patah di tangannya. Kemudian beliau RA datang kepada Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallama mengadukan keadaan pedangnya yang patah.  

Kanjeng Nabi SAW lalu memberinya batang pohon, sambil bersabda, “Hai Ukkasyah, bertempurlah dengan batang kayu ini!”  

Ketika Sayyidina Ukkasyah bin Mihshan mengambil batang kayu tersebut dari tangan Kanjeng Nabi SAW, beliau RA menggerak-gerakkannya. Tiba-tiba batang kayu tersebut berubah menjadi pedang panjang di tangannya, sangat kuat, dan putih tajam. Sayyidina Ukkasyah bin Mihshan pun bertempur lagi dengan pedang tersebut, hingga Gusti Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin di Perang Badar tersebut. Lalu pedang tersebut diberi nama Al ‘Aun. 

Pedang tersebut terus dipakai Sayyidina Ukkasyah bin Mihshan dan beliau gunakan di semua perang bersama Kanjeng Nabi SAW hingga beliau syahid di  perang memerangi orang-orang murtad di jaman Khalifah Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan pedang tersebut masih  berada di tangan Sayyudina Ukkasyah. Sayyidina Ukkasyah bin Mihshan RA dibunuh Thulaihah bin  Khuwailid Al-Asadi dalam peperangan tersebut.

Saking keramatnya pertempuran Badar karena banyak mukjizat Kanjeng Nabi yang muncul, para Ahlu Badar pun ikutan keramat dan semua punya derajat yang tinggi di sisi Gusti Allah. Nama-nama Ahlu Badar yang 313 tersebut, biasa dipakai tawasulan oleh para ulama dalam doa mereka untuk berbagai hajat. 

Untuk 313 Ahlu Badar semua, Lahumul Faatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *