Oleh : Om Bewok

Aku mau cerita tentang photo ini. 

Begini…..

Tahun 2011 lalu (10 tahun yang lalu), saya buat akun twitter… selama 2 tahun kemudian aku follow Gus Yai Ulil Abshar Abdalla… kemudian aku masuk ke circle pemikiran Islam Liberal, ada Kiyai A. Moqshit Gazali, Akhmad Sahal, Assyaukani, semuanya dedengkot Islam Liberal… kemudian membaca Cak Nur (Nurcholis Madjid), Jalaluddin Rahmat, tentunya KH Abdurrachman Wahid. Saya beli buku-buku pemikiran poro yai-yai tersebut.

..

Pemikiran Ijtihad beliau-beliau ini ternyata bukan tanpa sanad, bahkan gak kosongan sama sekali. GUS DUR sudah pasti keren pemikiran ijtihad Islamnya, yang asyik saya masuk ke pemikiran Cak Nur yang punya Quote Asyik : ” Islam Yes, Partai Islam No.”

Lalu Kang Jalaluddin Racmat, yang dikenal sebagai pemikir Ahlul Bait Syiah. 

Seru sekali pemikiran-pemikiran “new age of Islam thinking” di Indonesia ketika itu saat saya baru melek apa yang disebut “free will”. Bahkan muncul Jaringan Anti JIL yang di komandoi oleh Hafidz Ary jebolan anak ITB. 

….

Dua polarisasi ‘madzhab’ diskursus itu membuat saya bergairah membeli semua pemikiran cap “Liberal” dan “Anti JIL” komunitas yang digagas Hafidz Ary ketika itu. Sepengetahuan saya disitulah muncul One Day One Juzz, Pejuang Subuh bahkan gerakan Masjid Jogokariyan Hadir setelahnya. 

…..

Saat itu menjurus pada diskursus diskusi panas, buku-buku yang diterbitkan Hafidz Ary dkk yang fenomenal adalah “Islam Liberal 101” yang coba mengcounter narasi dari Islam Liberal yang digagas Gus Yai dkk. 

…..

Saat itu saya akhirnya masuk juga kedalam circle Anti JIL, tujuannya ingin tahu counter narasi mereka, banyak rekaman kopdar mereka saya ikuti. Istilah Akhi-Ukhti, ana, antum dan istilah Tanah Arab berkembang pesat. Saya juga pernah pakai celana cingkrang, jidat item, jubah gamis…hehehe.

Karena pikiran saya, ya mesti kaffah jika ingin tahu dalemannya.

….

2017 adalah puncak pemilihan “iman dan teologi” saya, bahwa Issue Islam Nusantara (saya beli buku pemikiran Islam Nusantara) adalah hal yang rasional. Tahun 2018 saya mengenal ngaji online ihya ulumuddin yang diampu oleh Gus Yai Ulil Abshar Abdalla. Sejak saat itu saya melihat perubahan intelektualitas para Yai Muda di NU mulai semakin keren dan membumi. Issue Liberal adalah sesat lambat laun sudah ndak saya hiraukan lagi.

…..

Bahkan ketika saya berhasil masuk circle ngaji ihya ini, saya semakin terbuka. Semakin paham apa itu kitab-kitab babon yang diajarkan di pesantren-pesantren ASWAJA.

Saya takjub, bahwa poro yai yang dicap sesat karena dianggap “LIBERAL” mampu membaca bahkan mensyarahi nya dengan bernas dalam situasi 4.0 sekarang ini.

…..

Saya mulai memilih untuk meninggalkan pemikiran “pemurnian tauhid” yang digagas Hafidz Ary dkk sampai sekarang. Celana kembali normal, jidat kembali biasa…tak ada lagi tanda-tanda hasil gosokan setiap sujud. ?.

……

Ya… akhirnya karena umur semakin mapan (anggap saja sudah tua) saya harus memilih yang realistis dan jelas sanadnya. 

..

Yang pasti saya tersadarkan walau terlambat. Tak apa yang penting bisa kenal poro yai sekarang, bisa guyon, ngopi bareng bahkan dihadiahin manuk (ini moment keimanan yang paling menakjubkan) bahkan ada fase berhala kontemporer sarung 3 hurup itu. Sebel sih.. ?

_____________

Saya ndak nyangka sama sekali, cah mbeling kek saya ini bisa diterima oleh poro yai yang keilmuan Islam nya mumpuni. Saya memilih jadi santri mbeling saja. Nunut mburi saja…. minimal bisa ikut makan sate lah ya…

.Love you All Poro Yai kuweren….

*catatan malam santri mbeling* 

Serang, Rabu 19 Mei 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *