Oleh:  Mubarok Idris

Salah satu materi ceramah aswaja yang disampaikan AGH. Dr. KH. Sanusi Baco Lc pada 1990 saat saya kelas 1 di Mts PP. Pondok Madinah adalah kisah 2 orang bersaudara yang nyantri di satu pesantren di Baghdad. Sang kakak rupanya lulus lebih dahulu. Dia pun kemudian kembali ke rumah. Dalam perjalanan menuju rumah, sang kakak mampir shalat jama’ah di satu masjid di sebuah kampung. Ia heran melihat para jama’ah di masjid itu karena semuanya melilitkan di pinggangnya gayung yang biasa digunakan untuk menimbah air. Ini aneh, batin sang kakak. Selepas shalat, si kakak ini menyampaikan ke orang-orang di masjid itu bahwa shalat mereka tidak sah. “Tidak ada dasarnya shalat pakai gayung di pinggang,” kira-kira begitu kata si kakak. Karuan saja para jama’ah di masjid di kampung yang ia singgahi marah. Si kakak ini ditahan di sebuah jeruji yang kebetulan ada di kampung itu. Lama si kakak mendekam di jeruji itu. 

Beberapa tahun kemudian, si Adik juga lulus dan kemudian pulang ke rumah. Si adik juga melewati kampung di mana kakaknya masih ada di jeruji yang ada di kampung itu. Si adik juga ikut shalat dan melihat apa yang sebelumnya dilihat oleh sang kakak di mana para jamaah melilitkan gayung di pinggang saat shalat. Tentu saja setiap gerakan shalat menimbulkan bunyi gaduh. 

Selepas shalat, si adik bertanya ke orang-orang. “Kenapa orang-orang di sini kalau shalat pakai gayung dan diikatkan ke pinggang?” Pertanyaan si adik juga sangat sopan sehingga tidak membuat orang-orang tersinggung. Salah satu dari jamaah di masjid kampung itu kemudian mengambil satu kitab yang uda lusuh. Dia menunjukkan 1 dalil di kitab itu. Bunyinya LA TASHIHHUSSHOLATA ILLA BIL MIGHROFA, tidak sah shalat kecuali kalau pakai gayung.

Si adik kemudian mengambil kitab yang dipegang salah seorang jamaah itu. Diperhatikan dengan seksama teks di kitab itu. Lama baru kemudian tersenyum. Orang-orang penasaran. Ada apa? Si Adik menjawab,  kertas kitab ini dimakan rayap. Ini bukan huruf ghoin  tapi hurup ‘ain. Jadi bacanya, LA TASHIHHUS SHOLATA ILLA BIL MA’RIFAH.  Tidak sah shalat kecuali dengan ilmu (ma’rifah). Orang-orang senang dengan penjelasan si adik. Mereka juga menceritakan kalau sebelumnya ada yang datang tetapi tidak menjelaskan seperti cara si adik tapi langsung menyalahkan cara shalat orang-orang di sini. Tetapi berkat cara si adik yang menjelaskan sehingga melepaskan si kakak dari jeruji kampung itu. Si kakak senang ternyata adiknya sudah bijaksana memberikan penjelasan kepada penduduk. Mereka pun berdua pulang ke rumah setelah beberata tahun menuntut ilmu di kota baghdad. Wallahu a’lam bisshawab. Terima kasih buat anregurutta. Cerita itu sangat membekas di hati saya. Alfatihah.

Kenangan Tentang Kitab ‘Ruhud Dinul Islam’

Masih segar dalam ingatan saya saat mondok di PP. Pondok Madinah pada 1990. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 Mts. Dan baru saja mengikuti materi Aswaja yang dibawakan langsung oleh AGH. Sanusi Baco yang didampingi Gurutta Bakri Kadir Allahuyarham. Materi yang dibawakan Gurutta sangat berkesan bagi saya. Setelah materi ceramah yang dibawakan oleh beliau, para santri pun diperkenankan rehat sejenak. Saya saat itu kemudian berjalan ke kantor pesantren. Dekat meja piket atau al-haris, yang kebetulan berdampingan dengan kantor, terparkir mobil putih suzuki carry milik Gurutta Sanusi Baco. 

Saya menghampiri mobil beliau. Saya penasaran dengan kitab yang beliau bawa saat ceramah aswaja tadi. Saat itu, saya memang sering memperhatikan kitab-kitab yang dipakai oleh para ustad dan kiai yang mengajar kami bahkan saya sering intip lemari senior saya, andi hamzah yang saat itu memang punya koleksi kitab yang luar biasa. Rasa penasaran itu kadang-kadang terpenuhi dengan membeli kitab serupa di toko kitab Arr-Rahman dan toko kitab lainnya di jl. Nusantara.

Saya mendekati mobil Gurutta tersebut. Saya intip melalui kaca mobilnya. Di jok depan, terletak sebuah kitab. Sampulnya sudah agak kumal dan berwarna merah dan pink. Di kitab itu tertulis tulisan arab yang saya masih ingat sampai detik ini, RUHUD DINUL ISLAM.  Saat itu saya meraba2 apa arti kalimat itu. Dan saya pun berangan-angan suatu saat bisa mendapatkan kitab itu.

Sampai saat ini, kenangan tentang kitab yang dibawa Gurutta Sanusi dan sempat saya intip dibalik kaca mobil beliau belum bisa saya lupakan. Tapi sampai saat ini, saya belum bisa memilikinya. Entah kapan. 

Saya hanya menduga,, barangkali isi kitab itu adalah menyampaikan ruh agama Islam jauh lebih penting dibanding hal-hal formal. Gurutta dalam berbagai kesempatan selalu menekankan tentang pentingnya Ruhud Dakwah. Dan yang beliau maksud tiada lain adalah akhlak.

Beliau telah berpulang. Beliau telah meneladankan bahwa akhlak adalah ruh dari Islam itu sendiri. Dan ajaran Islam akan membumi kalau ruhnya yang disampaikan kepada segenap umat.  Alfatihah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *