Ahad lalu, kami berlebaran di rumah mas ipar (Gus Udin) di Bareng, Jombang. Kami sekeluarga besar Bani Sholeh Hamid berkumpul.
Kiai Irfan Sholeh berkisah bahwa Kiai Ma’shum Jauhari Lirboyo (Gus Ma’shum), Kiai Yahya bin Hamid Chasbullah Tambakberas dan Kiai Ghozi Wahib Wahab Tambakberas berkawan akrab sejak di Lirboyo. Gus Ma’shum sering mukim di Tambakberas. Kiai Irfan juga menyinggung kisah tentang Kiai Mahrus Aly Lirboyo yang mematahkan senjata KKO dari sumber Kiai Ghozi. Maka naluri saya langsung mencari kontak Kiai Ghozi.
***
Selasa sore, Kiai Ghozi saya telepon. Lalu beliau bercerita keakrabannya dengan Gus Ma’shum dan Kiai Yahya Hamid saat sama-sama di Lirboyo. Kiai Ghozi berkata bahwa Kiai Yahya Hamid suka mempelajari kejadugan, baik sewaktu mondok di Lirboyo maupun saat di Buntet.
Ketika di Buntet, suatu saat Kiai Yahya setelah tirakat kejadugan mengajak Kiai Ghozi ke kebun dekat sungai. Lalu ada batu besar yang dengan entengnya diangkat oleh Kiai Yahya.
Kiai Yahya memang pendekar pilih tanding. Kata Kiai Ghozi, Gus Ma’shum sering mengajak Kiai Yahya untuk bertanding di gelanggang pencak dor melawan PKI.
Saya tidak lupa bertanya kepada Kiai Ghozi tentang kisah Kiai Mahrus Aly yang mematahkan senjata KKO. Kata Kiai Ghozi, suatu saat sebelum meletus peristiwa 1965, beberapa oknum KKO yang terindikasi PKI sering mengawasi pondok Lirboyo dari jalan ke arah gunung dekat sawah. Saat itu, Gus Yahya bersama Ismail (khodimnya) KH. Mahrus Aly mendatangi oknum yang mencurigakan itu dan langsung mengkampleng (memukul) KKO. KKO ini ndlosor serta tidak bisa jalan untuk beberapa waktu.
Kata Kiai Ghozi, setelah itu sekitar satu peleton KKO didrop ke Ndalem Kiai Mahrus Aly dengan senjata di tangan. Kiai Mahrus Aly keluar sambil menghadap agak ke atas dan berkata, “Saya dari Hizbullah, penasehat dan pendiri Kodam.” Lalu beliau meraih salah satu senjata dan dipatahkan. Sontak satu peleton tentara ini pergi.
Kiai Ghozi juga bercerita, orang sepuh-sepuh kita memang luar biasa. Kiai Wahab Chasbullah pernah menghadang orang gila yang membawa dua bilah samurai mengejar salah satu Gus Tambakberas. Orang gila itu dibentak Kiai Wahab lalu ambruk. Dua samurai itu dirampas Kiai Wahab, lalu disatukan kemudian dipatah-patah menjadi 6 patahan. Selanjutnya dibuang ke dalam sumur di ndalem Kiai Wahab.
***
Kata Kiai Irfan Sholeh, KH. Mahrus Aly adalah perokok berat. Saat sakit dan dirawat di rumah sakit, beliau dilarang merokok. Ayah Kiai Irfan, KH. Sholeh Abdul Hamid menjenguk beliau, lalu Kiai Mahrus Aly dalam keadaan berbaring bertanya apa membawa rokok. Kiai Sholeh menjawab iya. Kiai Mahrus Aly menyuruh kiai Sholeh menyalakan rokok agar meniupkan asapnya ke arah Kiai Mahrus Aly.
Untuk para kiai (semoga kita bisa menyerap ilmunya) lahumul Fatihah
***
Foto para kiai sepuh dahulu dalam acara muktanar NU. Ada ayah dari Kiai Yahya (Kiai Hamid Chasbullah), ada juga ayah dari Kiai Ghozi (Kiai Wahib Wahab)

No responses yet