Jujur adalah sebuah berita (khabar) yg sesuai dgn kenyataan. Bila seseorang mengkhabarkan tentang sesuatu yg sesuai dgn kenyataan maka dia telah berkata jujur, jika ternyata tidak sesuai maka dia berdusta.

Kejujuran bisa terwujud dalam bentuk ucapan dan berbuatan. Jujur dalam perbuatan ialah berlarasannya hati dgn pelaksanaan. Dimana perbuatan yg dilakukan oleh seseorang mencocoki apa yg ada di dalam batinnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“Wahai orang2 yg beriman bertakwalah kalian kepada Allah. dan hendaklah kalian bersama orang2 yg jujur.” (QS. At-Taubah:119)

Syarafuddin al-Khusain Ibnu Abdillah ath-Thibi atau Imam ath-Thiibi rahimahullah (wafat 734 H / 1333 M) mengatakan : “Barangsiapa yg selalu mengutamakan sifat jujur dan amanah, maka dia termasuk golongan orang2 yg taat (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala); dari kalangan orang2 shiddiq dan orang2 yg mati syahid, tapi barangsiapa yg selalu memilih sifat dusta dan khianat, maka dia termasuk golongan orang2 yg durhaka (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala); dari kalangan orang2 yg fasik (buruk/rusak agamanya) atau pelaku maksiat”. (Kitab Syarhu sunani Ibni Majah, hal. 155).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

“Dan barangsiapa yg menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dgn orang2 yg dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiiqiin, orang2 yg mati syahid, dan orang2 yg saleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik2nya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (QS an-Nisaa’: 69-70)

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam an-Nawawi rahimahullah (Oktober 1233 –  10 Desember 1277 M Nawa, Suriah) dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah berkata,  “Ketahuilah, seyogyanya setiap mukallaf (orang yg berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yg jelas ada mashlahat padanya. Dan telah diriwayatkan kepada kami dalam dua kitab Shahih yaitu Shahih al-Bukhari rahimahullah (20 Juli 810 – 1 September 870 M, Uzbekistan) dan Shahih Muslim Rahimahullah (wafat 5 Mei 875 M, Naisabur, Iran) dari Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi) Radhiyallahu anhu (603 –  678 M, Jannatul Baqi Madinah), dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda: 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ 

Barangsiapa beriman kepada Allâh dan hari akhir, hendaklah dia berkata yg baik atau diam  Aku katakan: hadits yg disepakati keshahihannya ini, merupakan nash yg jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yg kemashlahatannya jelas tampak. Jika dia ragu2 tentang timbulnya mashlahat, maka dia tidak berbicara.

Kriteria Menurut Imam Adz-Dzahabi

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi Asy-Syafi’i atau Imam adz-Dzahabi rahimahullah (5 Oktober 1274 – 3 Februari 1348 M Damaskus, Suriah) berkata :

الصَّادِقُ أَنْ يُقِلَّ مِنَ الكَلاَمِ وَالأَكلِ وَالنَّومِ وَالمُخَالَطَةِ، وَأَنَّ يُكثِرَ مِنَ الأَورَادِ وَالتَّوَاضُعِ، وَذِكْرَ المَوْتِ، وَقَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Orang yg jujur akan sedikit bicara, makan, tidur, dan bergaul dengan manusia. Sebaliknya, ia akan memperbanyak wirid (dzikir), tawadhu’, mengingat mati, dan mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah” (Termaktub dalam Kitab Siyar A’lam an-Nubala’ 14/534).

Dusta membawa celaka

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain menjelaskan keutamaan jujur, juga menjelaskan bahayanya perkataan dusta, sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا 

Dari ‘Abdullah, dia berkata: Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian wajib jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Jika seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yg selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sbg seorang pendusta.” (HR Imam Muslim rahimahullah)

Kisah Teladan Amanah dan Kejujuran

Peristiwa ini terjadi pada salah satu ulama ahli besar hadits, yg bernama Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzaz Al-Anshari, Beliau dikenal dgn julukan Qadhi Al-Marastan (443- 535 H / 1051 – 1141 M di Baghdad). Kisah ini bersumber dari kitab “Mir’aatuz Zamaan Fi Tarikhul A’yan” yg diringkas oleh Al-Imam Adz Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah (5 Oktober 1274 – 3 Februari 1348 M Damaskus, Suriah)

Kisah ini benar2 menakjubkan, karena terdapat pelajaran berharga berkaitan dgn amanah dan kejujuran. Dikisahkan, pada suatu hari Qadhi Al-Marastan sedang berada di Mekkah bertepatan dengan musim haji . Saat itu, beliau kehabisan bekal, tidak memiliki harta sedikitpun dari harta dunia. Suatu hari, beliau ditimpa oleh rasa lapar yg luar biasa. Beliau akhirnya keluar untuk mencari sepotong roti atau sesuatu yg dapat mengganjal perutnya dari rasa lapar.

Tiba2, Qadhi Al-Marastan menemukan sebuah bungkusan dari kain sutra berwarna merah yg terjatuh di tanah. Beliau mengambil bungkusan tsb dan membukanya. Qadhi Al-Marastan mendapatkan di dalamnya sebuah kalung berharga terbuat dari permata, diperkirakan kalung tsb senilai 50 ribu dinar. Beliau pun segera mengikatnya kembali dan menyimpannya.

Tatkala beliau sedang menyusuri perjalanannya, tiba2 ada seorang laki2 berteriak2 kehilangan kalung. Dia berteriak2 kepada manusia bahwa dia telah kehilangan bungkusan yg terbuat dari kain sutra. Dia menjanjikan bahwa barangsiapa yg menemukannya maka akan diberi hadiah 50 dinar.

Qadhi Al-Marastan pun bertanya kepada orang tsb tentang isi bungkusan tsb. Dia pun menjawab bahwa di dalamnya terdapat sebuah kalung permata yg mahal. Kemudian beliau bertanya tentang ciri2 bungkusannya kepada orang tsb. Ketika orang tersebut telah mengkabarkan ciri-ciri bungkusan kalung tsb dengan benar, maka Al Qadhi bersegera mengembalikan bungkusan yg ia temukan kepada orang tsb.

Orang tsb kemudian mengeluarkan 50 dinar dan diserahkan kepada Al-Qadhi, namun beliau enggan menerimanya, sembari berkata: “Tidak sepantasnya bagiku mengambil upah dari barang temuan yg aku temukan dan aku kembalikan kepada pemiliknya. Sesungguhnya aku mengembalikan kalung ini kepadamu bukan karena aku berkeinginan besar untuk mendapatkan hadiah, tetapi aku berkeinginan besar untuk mendapatkan keridhoan Rabb-ku.

Subhanallah, sebuah sikap mulia dan luar biasa. Beliau enggan menerima hadiah itu padahal sedang dalam keadaan ditimpa kelaparan dan belum mendapatkan sepotong roti yg kering yang bisa mengganjal perutnya dari kelaparan. Pemilik bungkusan itu akhirnya mendoakan kebaikan untuk beliau, lalu pergi meninggalkannya.

Penutup

Setelah kita memahami bahaya dusta sebagaimana di atas, maka kita harus berusaha selalu jujur dan menjauhi kedustaan dgn semua jenisnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari seluruh kemaksiatan dan membimbing kita dalam perkara yang Dia ridhoi dan cintai, sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Adapun kejujuran adalah asal dari kebaikan, dan kejujuran yg paling mulia adalah kejujuran kepada Allah tabaroka wa ta’ala.

Wallahu a’lam

from a variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA 

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *