Syaikh Abu Al-Hasan ‘Ali ad-Daqqaq An-Naisaburi rahimahullah  (wafat 405 H/1015 M) menuturkan : 

“Seorang murid bertanya kepada Syaikhnya, ‘Apakah si hamba mengetahui apakah Allah ridha kepadanya?‘

Sang Syaikh menjawab, ‘tidak. Bagaimana dia bisa tahu hal itu sedangkan keridhaan-Nya adalah sesuatu yg tersembunyi?’

Si murid memprotes, ‘Tidak, dia bisa mengetahuinya!’

Syaikhnya bertanya, ‘Bagaimana si hamba bisa tahu?

Si murid menjawab: “Jika saya mendapati hati saya ridha kepada Allah SWT, maka saya tahu bahwa Dia ridha kepada saya.’

Maka sang Syaikh lalu berkata, ‘Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda.

————-

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala suka, niscaya akan diberikan yg terbaik, maka kerjarlah keridhoan-Nya lewat amal2 yg disukai oleh-Nya dan Ikhlas melakukannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dari riwayat Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha :

عائشة رضي الله عنها; أن رسول الله-صلى الله عليه وسلم قال:  ” مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ ، بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ ، سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ “.

“Barangsiapa mencari keridhoan dari Allah (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridho kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridho kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhoan dari manusia, dgn membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR. Imam Ibnu Hibban rahimahullah, wafat 965 M di Afghanistan, dalam kitab Shahihnya no.276, I/497), 

Di dalam riwayat lain Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ

“Barangsiapa mencari keridhoan manusia dgn membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dgn keridhoan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (HR. Imam Ibnu Hibban rahimahullah)

Ridho itu artinya rela, mencari Ridho Allah subhanahu wa ta’ala, artinya mencari apa yg membuat Allah subhanahu wa ta’ala rela pada kita. Tapi yg dimaksud mencari Ridho Allah subhanahu wa ta’ala itu, tidak hanya sholat dan ibadah dgn tekun dimasjid. Tidak hanya berzikir atau mengaji, namun memiliki makna yag sangat luas. Ini menyangkut filosofi hidup dan ibadah.

Mengharap Ridho Allah

Sebagai seorang muslim itu, harus mengharapkan keridhoan Allah melebihi hal2 lain dalam kehidupannya. Karena keridhoan Allah terhadapnya adalah segala2nya baginya. Ketika Allah ridho kepadanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikannya berbagai macam taufik, hidayah, rahmat, dan kasih sayangNya. Namun, jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak ridho kepadanya dan malah sebaliknya, Allah subhanahu wa ta’ala murka kepadanya, maka tidak akan dia dapati hidayah dan rahmat dari-Nya.

Bacaan Pagi dan Sore

Untuk mendapatkan ridho dari Allah subhanahu wa ta’ala, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, mengajarkan kita suatu amalan yg akan menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala ridho kepada kita, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah seorang Muslim atau manusia atau seorang hamba ketika menjelang sore dan pagi hari membaca kalimat :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا

Rodhiitu billaahi raobbaa, wa bil islaami diinaa, wa bi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasuulan.

“Aku rela Allah sbg Tuhan, Islam sbg agama, dan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sbg nabi dan rasul.” (HR. Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasai, Imam Ibnu Majah, Imam Al-Hakim dan Imam Ibnu As-Sunni rahimahumullah).

Dzikir tidak mesti setelah shalat. Boleh dilakukan kapanpun dan di manapun. Dzikir juga tidak harus dikeraskan. Boleh dibaca dalam hati. Usahakan dalam setiap waktu kita selalu mengingat Allah dan melafalkan dzikir. Untuk membiasakan dzikir, para ulama mengajarkan dzikir yg bisa dibaca pada waktu pagi hari dan sore.

Menurut guru kami, kalimat dzikir tsb bisa dibaca sehabis sholat subuh 3x dan sehabis sholat maghrib 3x, doa/amalan tsb ada juga didalam Wirdul Lathif, Ratib Al Haddad, Ratib Al Attas, dan lain sebagainya.

Keutamaan

Di antara keutamaannya adalah orang yg membiasakan baca dzikir ini akan mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat kelak. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مامن عبد مُسلم يَقُول حِين يصبح ثَلَاثًا وَحين يُمْسِي رضيت بِاللَّه ربّاً وبالإِسلام دينا وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم نَبيا إِلَّا كَانَ حَقًا على الله أَن يرضيه يَوْم الْقِيَامَة

“Seseorang hamba Allah yg Muslim mengistiqamahkan bacaan zikir setiap pagi dan sore sebanyak tiga kali yg berupa rodhitu billahi robba wa bil islami dina wa bi muhammadin nabiyya (aku rela Allah menjadi tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi Muhammad nabiku) itu, pasti akan mendapat keridhaan Allah sampai hari kiamat nanti.” (HR Imam Al-Nasa’i rahimahullah)

Hadis ini diriwayatkan dalam kitab ‘Amalu al-Yaumi wa al-Laylah karya Ahmad bin Syu’aib Al Khurasany Asy-Syafi’i atau Imam an-Nasai rahimahullah (wafat 28 Agustus 915 M, Mekkah).

Makna Aku Ridho

Kalimat yg Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ajarkan ini, merupakan ucapan yg sangat ringan ketika di ucapkan, namun memiliki makna yg sangat dalam. Ketika seorang hamba berkata “Aku ridho Allah sbg Rabbku”, maka dia harus ridho untuk hidup dgn menjalankan ketentuan2 yg telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan padanya. Ketika kita ridho terhadap semua takdir yg Allah subhanahu wa ta’ala tentukan untuk kita, maka kita yakin bahwa yg Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dalam takdir kita adalah yg terbaik menurut Allah subhanahu wa ta’ala untuk diri kita. Sebab kita yakin, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mendzalimi hamba-Nya yg ridho Allah sbg Rabbnya.

Konskuensinya sangat luas, seorang yg mencari Ridho Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia akan mengikuti apa yg diinginkan Allah subhanahu wa ta’ala. Dibutuhkan sikap tawadhu, ta’awun dan tarahum kepada sesama manusia, khususnya sesama muslim.

Amal Ridho

Ia harus banyak berbuat baik, ridho dari orang tua terutama ibunya, berhati lemah lembut, tidak suka menyakiti perasaan orang lain, menjaga keamanan dan keharmonisan serta ketertiban sosial dan lingkungan, banyak berkorban dan bermanfaat untuk manusia, dan titik akhirnya adalah memanifestasikan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Sikap2 baik yg membiaskan rahmat bagi semesta alam, inilah yg menjadi faktor2 ukurannya. 

Menjadi hamba Allah yg dicintai dan diridhai-Nya, merupakan keinginan setiap Muslim. Apalagi kita yg orang biasa ini seringkali melakukan dosa yg sengaja maupun tidak disengaja. Karena itu, mengandalkan amalan yg kita perbuat selama di dunia untuk bekal di akhirat, bukan menjadi jaminan satu2nya. Ada baiknya, kita mengistiqamahkan membaca dzikir pagi dan sore sebagaimana hadits di atas.

Enam Prinsip

Menurut beberapa ulama ahli hadits, Ridho harus menyeluruh, yg harus di ikrarkan oleh seorang muslim dan muslimah, harus terbukti nyata, dgn 6 (enam) prisnsip sbg berikut : 

1. Makrifatullah (Mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala)

2. Taslimullah (Pasrah kepadaNya)

3.Kaffatul Islam (Islam paripurna), Kesempurnaan islam baik dari sisi sosial, sisi spiritual, dan lain2.

4. Al-Ittiba’ (Mencontoh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam)

5. Al-Istima’ (Patuh dan tunduk)

6. Mahabbatur Rasul (Cinta kepada Rasul)

Prinsip2 dasar inilah yg akan mengantarkan kita menuju keridhoan Allah Subhanahu wa ta’aala. Maka, tak ada lagi kata malas untuk membaca doa ini pagi dan sore, kemudian juga diperhatikan apakah kita sudah menaiki tahapan anak2 tangga, yg berbasis 6 prinsip diatas. 

Jangan Lupa Niat

Betapa dahsyatnya masalah niat. Sehebat apapun perbuatan yg dilakukan seseorang, akan sia2 saja, jikalau tidak diniatkan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Namun sebaliknya, sehalus dan sekecil apapun perbuatan, jikalau diniatkan karena Allah subhanahu wa ta’ala,, niscaya akan bernilai besar di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga yg penting menjadi fokus kita dalam beramal adalah niat mengejar ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Apalah artinya amal yg hebat jikalau Allah tidak ridho.

Kadang kala, bukan karena kurang kerja keras amal menjadi tidak bernilai, tapi karena salah niat yg tidak fokus kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mari kita senantiasa periksa hati kita, periksa niat kita, setiap kali melakukan amal perbuatan baik. Demikian juga manakala mendapat keberuntungan atau musibah, segeralah fokus kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena tiada satupun kejadian di alam semesta ini melainkan atas izin-Nya.

Fokus 

Hanya dgn fokus kepada Allah, fokus mengharap ridho-Nya, setiap amal kita akan bernilai ibadah dan setiap hal yg menimpa diri kita akan berbuah kebaikan dan kemuliaan. Mari teruslah semangat tuk meraih ridho Allah subhanahu wa ta’ala.

from a variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA 

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *