Derajat pemahaman puncak tentang menjaga kesucian adalah menjaga kesucian sirr (sudut hati yang terlembut) dari selain Gusti Allah dan menjadi orang shiddiq (membenarkan Gusti Allah secara total). Siapa yang diangkat jadi golongan shiddiqun, maka disucikan sirrnya. Dan siapa yang dikehendaki suci sirrnya, mutlak urusan Gusti Allah saja. Maka, derajat ini berkaitan dengan maqom seseorang menurut kehendak Gusti Allah. Bukan sesuatu yang bisa diusahakan. Karena itu, ini derajatnya para Nabi dan para wali.
Kita yang nasibnya gak jelas, gak usah mikir derajat ini. Karena ini urusannya Gusti Allah. Kita cukup memahami bahwa tujuan perintah mensucikan diri adalah mensucikan lahir dan batin, lalu berusaha melakukan semampunya. Agar diri punya lahir yang sehat, jiwa yang kuat, batin yang bersih dan akhlaq yang baik (mensana incor poresano). Seperti bahasan sebelumnya.
Justru kita kudu tiru orang yang lugu-lugu itu. Yang taunya melakukan perintah dan larangan syariat ya karena itu perintah Tuhan. Itu sudah joss, malah perlu dilestarikan sampai kiamat. Karena orang mau melakukan perintah-Nya, mau bersuci, mau sholat, mau puasa, mau zakat, gak miras, gak judi, gak nggosip, itu sudah paling topnya orang.
Kholifah Umar bin Abdul Aziz dawuh
ألا إن أفضل العبادة أداء الفرائض واجتناب المحرم
“Ingat ya, pualing utamanya ibadah adalah melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal haram”
Karena saat orang mau melakukan ibadah, artinya Gusti Allah sedang menghendaki kebaikan baginya.
Imam Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz Ar Rozi dawuh
النسك هو العناية بالسرائر، وإخراج ما سوى الله عز وجل من القلب
“Ibadah adalah pertolongan yang mengandung rahasia-rahasia dan sanggup membuang apapun selain Gusti Allah dari hatinya”
Orang kok mau berangkat tunduk beribadah pada Gusti Allah, artinya ada rasa takut pada-Nya. Itu aja udah maqom luhur dan punya harapan selamat dunia akhirat. Terlepas dia mikir apaan pas ibadah.
Ini berlaku untuk semua jenis ibadah, baik wajib maupun sunnah. Termasuk thoharoh. Dengan mindset tersebut, artinya kita gak berlaku sombong di hadapan Gusti Allah. Bandingannya dengan setan yang dikutuk karena sombong. Jadi, mindset ibadah orang awam rea-reo kere hore itu perlu ditiru, dilestarikan dan ditangkarkan.
Nah, melestarikan mindset tersebut aja udah satu perkara panjang dan lama. Gak usah kita ruwet mikir apakah kita dapat derajat sirr yang disucikan atau nggak, kita ikhlas atau nggak. Itu urusannya Gusti Allah. Dikasih alhamdulillah, gak dikasih ya tetep alhamdulillah. Pokok masih dikasih mindset menghamba itu udah joss banget, mbah.
Mugi manfaat.

No responses yet