Oleh: Gus Yusuf Suharto
Tak ada yang tahu kapan manusia diambil nyawanya.
Kamis pagi, 24 Juni 2021, Mas Ahmad Khoirul Anam, aktivis muda NU asal Gresik dan merupakan bagian keluarga Maskumambang, telah tutup usia.
Tentu saya kaget sekali, karena beberapa hari sebelumnya kami masih sms-an WA bicara tentang e-mail tahun 2008 silam, ketika awal-awal kiriman berita kami ke NU Online dan saya bertanya kepadanya, “Siapakah redaktur yang menjawab e-mail kami tersebut, apakah dia ataukah Mas Mukafi.” Mas Anam menjawab, “Hehehe.” Ternyata betul, Mas Anam yang menjawab.
Ketika itu ia mengatakan bahwa di NU Online pada 2008 itu belum ada kontributor dari Jombang dan ia menyilahkan saya untuk menjadi kontributor NU Online.
Selepas perbincangan tentang NU Online itu, jarak beberapa hari, saya sms WA ke Kaprodi Ahwalus Syakhsiyah kampus NU ini tentang rencana seorang teman yang mau menulis Sejarah NU Jombang. Ia menjawab, “Bukunya apa sudah terbit?” Kami jawab, “Masih proses.”
Mas Anam yang kami kenal adalah sosok yang sederhana, cermat dan peduli kepada teman. Hal itu misalnya saya rasakan ketika kami bertemu pada Muktamar NU di Makassar, tahun 2010.
Dulu, ketika saya pas ke Jakarta, hampir-hampir saya selalu singgah di lantai 5 NU Online, dan hampir-hampir selalu bertemu dengannya. Ketika ia menawarkan agar saya menginap di rumahnya, saya pun langsung mengiyakan.
Suatu saat ia sempat bertanya apakah saya tertarik hijrah ke Jakarta. Saya ketika itu menjawab “Di Jombang saja, Mas.”
Suatu saat ia berseloroh, “(Para kader muda NU ini) Antri dadi Tokoh.” Kami pun tertawa bersama.
Ketika ia studi S2 di Malang, dan kami bertemu dalam suatu acara NU Online yang ketika itu memang mengundang para pengelola NU Online di daerah-daerah, ia juga tak segan mengantarku dengan sepedanya, menuju rumahnya dan tak lama kemudian, setelah sampai di rumah huninya itu dia mengambil buku Hasil Bahtsul Masail NU terbitan LTN PBNU kemudian berkata, “Kanggo Sampean, Mas. Mesti kanggo iki.”
Suatu saat ketika ia ikut mendampingi Mas Mun’im DZ ke Jombang, untuk suatu bedah buku karya Mas Mun’im, sembari membuka kardus buku ia berkata, “Ketemu konco yo ngene iki, kudu mbukak kardus.” Kami pun tertawa bersama.
Ketika itu buku edisi pertamanya ada beberapa salah ketik termasuk teks Arab dari ayat Quran, dan saya langsung sms ke Mas Anam, agar bisa disusulkan revisinya. Buku yang ia buka itu adalah hasil revisian.
Ketika adik ipar hendak menikah, saya bertekad untuk menghadiahi “buku” terjemah pernikahan karya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, dan sebelum resepsi buku copyan itu siap diedar, dijadikan souvenir sederhana.
Mas Anam, saya kasih tahu buku itu. Ia kemudian tertarik menerbitkan, yaitu penerbitan yang didirikan oleh Mas Mun’im DZ.
“Lek iso biodata sampean ojok dikei nomor HP, Mas. Engko akeh seng sms konsultasi pernikahan.”
Benar saja, cukup banyak nomor asing yang sms konsultasi.
Suatu saat di tahun 2010, ia menelepon tentang kesediaan saya untuk menulis bersama paska wafatnya Gus Dur, dan jadilah tulisan tentang Tamasya Wali Sepuluh Gus Dur di Jurnal Tashwirul Afkar, Lakpesdam.
Terakhir ketemu langsung adalah pada beberapa tahun lalu, yaitu ketika saya ada acara kajian di Islam Nusantara Center (INC) pimpinan Ajengan Ginanjar Sya’ban dan Gus Zainul Milal Bizawie. Mas Anam sms, bahwa ia akan nyamperin di INC. Ketika itu ia saya hadiahi buku “Khazanah Aswaja” yang terbit pada akhir 2016, karya bersama tim Aswaja NU Center PWNU Jatim.
Selepas pertemuan itu kami hanya bertemu lewat medsos FB, dengan sesekali menyapa atau komentar.
Setahun lalu, ketika kami mengaji online kitab pernikahan “Dhawul Mishbah fi Bayani Ahkamin Nikah” karya pendiri NU, Mbah Hasyim Asy’ari, Mas Anam mendukung pengajian Online semacam itu. Dan ternyata Mas Anam juga aktif membuat konten yutub dan istiqamah mengadakan pengajian kitab secara online.
Jika bertemu dengannya, ia selalu punya cerita atau menawarkan suatu perspektif ke-NU-an yang menarik dan baru. Sebagai orang desa, dan jauh dari Jakarta, tentu saya selalu haus perkembangan ke-NU-an dan serba-serbi dinamikanya. Dan ketika belum bisa bertemu langsung itu, perspektif ke-NU-an itu setidaknya sudah rutin ia sajikan dalam status FB-nya yang kerap pula kami share ke teman-teman medsos.
Maturnuwun Mas Anam. Panjenengan tiang NU yang sae dan sederhana. Mugi senantiasa dalam kerahmatan barzakhi. Aaamiin.

No responses yet