Bangsa Arab Jahiliyyah, meskipun sejak dahulu mereka sudah mengenal apa itu tulis menulis, tapi mereka tidak menggunakan kemampuan itu untuk memelihara peradaban mereka dalam bentuk karya tulis. Mereka hanya mengandalkan hafalan mereka yang kuat, puisi dan prosa yang mereka buat itu pindah dari mulut ke mulut yang lain dengan mengandalkan hafalan yang mereka punya.
Hingga pada suatu masa, agama Islam muncul dan tersebar begitu luasnya. Bersamaan dengan itu muncul sebuah kebutuhan untuk membukukan Al-Quran pada masa Sahabat Utsman dan juga Hadits pada masa Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz (W. 101 H) yang mana pada saat itu beliau memerintahkan Muhammad bin Muslim Az-Zuhri (W. 124 H) untuk membukukan ilmu tersebut.
Pembukuan Al-Quran dan Hadis Nabawi ini merupakan sebuah langkah pertama dan pergerakan yang sangat penting dalam intelektual bangsa Arab di masa yang akan mendatang. Karena semua hasil penelitian yang ada pada fase selanjutnya itu merupakan sebuah bentuk khidmat kepada kepada dua wahyu tersebut, baik kajian bahasa, sejarah, dan ilmu lainnya. Hingga kegiatan tulis menulis ini bangkit dan terus berkembang di bangsa Arab, yang pada akhirnya, mereka banyak mewariskan berbagai manuskrip dari bermacam cabang keilmuan.
Manuskrip yang telah mereka tulis ini tersebar ke berbagai penjuru di berbagai macam perpustakaan. Sulit dijangkau dan tidak semuanya terawat dengan baik. Untuk melestarikan keilmuan yang berada pada manuskrip dan menyebar luaskan keilmuan yang tertera di setiap lembarnya, para ilmuan islam dan orientalis bangkit untuk menghidupkan dan mencetak kembali manuskrip itu dalam bentuk yang lebih baik. Mereka selidiki dan teliti baik-baik manuskrip tersebut. Dari sinilah tahqiq kitab mulai muncul dan terlahirlah ilmu untuk mempelajarinya.
Apa Itu Tahqiq?
Dalam Maqayis Al-Lughah (jilid 2 hal 15), Tahqiq itu sendiri menunjukkan atas patennya dan benarnya suatu hal. Sedangkan dalam kitab Mukhtar Ash-Shihah (hal 148) tahqiq itu digunakan untuk suatu hal yang sudah diyakini kebenarannya.
Makna yang tertera dalam kamus tersebut menunjukkan bahwa tahqiq sangat kuat kaitannya dengan keyakinan dan kebenaran.
Maka setidaknya men-tahqiq kitab dapat diartikan dengan membaca manuskrip tersebut dengan bacaan yang benar, kemudian dilakukan perbaikan naskah jika terjadi suatu kerusakan, selanjutnya kitab tersebut diterbitkan sesuai dengan apa yang ditulis oleh penulisnya, sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
~~
Semalam, hamba diberikan kesempatan untuk berkunjung menemui seorang ulama ahli nahwu kelahiran 1995 yang sangat produktif. Di umur beliau yang masih muda, tapi beliau sudah men-tahqiq banyak kitab dengan sangat baik.
Beliau adalah Syekh Hamzah Mustafa Abu Tuhah Al-Ghazzi. Syekh kelahiran Palestina ini telah men-tahqiq Hasyiah Ibnu Hisyam Kubra dan Sugra, juga beberapa kitab lainnya. Tentu ini bukan hal yang mudah, dalam men-tahqiq, sebagaimana yang beliau jelaskan semalam, kita harus faham betul cabang ilmu pada kitab yang ditahqiq. Jika kita ingin men-tahqiq jurumiyyah misalnya, maka kita harus melampaui tingkatan itu. Kata beliau: “50% dari men-tahqiq kitab adalah faham betul terhadap cabang ilmu yang kita tahqiq”
Pada kunjungan tersebut beliau bercerita tentang proses beliau ketika men-tahqiq kitab, kata beliau: “saya menghabiskan waktu puluhan jam untuk membaca manuskrip demi menulis beberapa baris dari kitab tersebut”.
Tadi, beliau juga bercerita kalau beliau sedang proses ingin men-tahqiq kitab Ham’u al-Hawami’ Syarah Jam’u Al-Jawami’ karya Imam Suyuthi, kami pun ditujukan foto salah satu manuskripnya, dan disuruh membaca. Ternyata memang sangat sulit, dan kata beliau, 3 kalimat terakhir tersebut, saya baru bisa fahami selama 3 hari.
Dibalik luar biasanya Syekh Hamzah dalam men-tahqiq kitab, beliau tidak meninggalkan tugas seorang hamba dalam berikhtiar mencari rizki, dan ini sama sekali tidak menganggu belajar dan mengajar yang beliau jalani. Di Facebook beliau pernah bercerita, ketika malam beliau sibuk berjualan celana, sisa waktunya beliau isi untuk membaca dan menulis.
Usai, membahas seputar men-tahqiq kitab, beliau menghidangkan kami nasi briyani yang berisi ayam dan daging, yang menurut hamba sendiri ini adalah acara inti sebenarnya. yang kemudian dilanjutkan dengan saling membacakan syiir antara ustadz Beben dan sidi محمد أفيق أمزر, adapun hamba hanya sebagai pendengar setia yang asik cengar cengir agar terlihat faham.
~
Fahrizal Fadil.
25 Juni 2021, Kairo.

No responses yet