Salafi-Wahabi yang mengaku tidak bermadzab saja tetap menjadikan : Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian disebut Wahabi sebagai imam dalam urusan aqidah, kepada Syaikh Utsaimin dalam urusan fiqh dan kepada Syaikh Al Al Bani dalam urusan hadits— jadi bohong kalau aliran salafi wahabi tidak bermadzab meski mengusung jargon kembali kepada Al Quran dan As sunah yang digagas Ibnu Taymiyah dari madzab hanabillah. 

*^^^^*

Belum ada yang berani katakan bahwa putusan majelis tarjih adalah absolut, mengikat dan haram bagi warga Persyarikatan ambil yang lain selagi putusan tarjih tersedia. Kelonggaran inilah yang menyebabkan kehilangan overmacht dan ortodoksi — bukankah ideologi adalah sesuatu yang harus di indoktrinasi ? 

NU pun tak kurang lebih sama bahkan lebih gentle dan benderang menyebut empat imam dalam urusan fiqh, Asy-ariyah dalam urusan aqidah dan imam Al Ghazali dalam urusan tasawwuf dengan berbagai varian yang menyertai. 

Saya kurang paham apakah bermadzab dan tidak bermadzab ini  sebatas terminologi, metodologi atau keduanya yang di-aqidah-kan atau sebatas manhaj yang sengaja dilembagakan sehingga melahirkan disparitas akut dikalangan muslimin. 

Realitasnya dua pemahaman ini menjadi sebuah diskursus yang sangat menarik bahkan menegangkan, tapi apa mau dikata. Dalam perkembangannya disparitas ini terus menguat dan menemukan bentuknya yang permanen. 

*^^^^*

MKCH, PHIWM, Muqodimah AD ART Muhammadiyah, Kepripadian Muhammadiyah dan Khittah-Khittah Muhammadiyah — Apakah bisa disebut ideologi keagamaan atau kredo ber-organisasi ? 

Lantas bagaimana menara hubungkan paham keberagamaan Kyai Dahlan dan dinamika keberagamaan di persyarikatan dalam satu kemasan ? Kealpaan terbesar adalah menihilkan Kyai Dahlan dalam pikiran, ideologis dan manhaj yang beliau pahami. Lantas ambil yang lain tanpa referensi. Jadi benarkah Kyai Dahlan tidak bermadzab ? 

Sayangnya belum ada kajian khusus yang komprehensif yang membahas paham keberagamaan kyai Dahlan sebagai landasan moral dan etik sehingga melahirkan ideologi yang disepakati sebagai konsensus. 

Ideologi Muhammadiyah adalah ruang absurd — terbuka dan bebas dimasuki siapapaun tanpa filter—sebuah ruang yang belum dijamah sama sekali— dan menjadi ruang terbuka untuk diperdebatkan dan direbutkan. 

*^^^*

Kekosongan inilah yang kemudian melahirkan banyak interest di internal Persyarikatan. Sesuatu yang harus dengan jujur dibaca sebagai realitas, ideologi Muhammadiyah seperti permen nano-nano banyak warna dan rasa bergantung selera dan kebutuhan. Sebagian mirip Salafi Wahabi, FPI, HTI atau ideologi tarbiyah lainnya. Atau seperti yang pernah ditelisik Prof Abdul Munir Mulkhan ada Muhammadiyah ideologi (Muhi), Muhammadiyah nasionalis (munas) Muhammadiyah NU (munu) dan seterusnya.

Bukan bermaksud meragukan kerja keras selama ini — tapi perkembangan terakhir di awal abad 21 cukup signifikan— apa salahnya kembali melakukan konstruksi ulang atas ideologi Muhammadiyah secara permanen. 

Jujur saya katakan bahasan tentang ideologi Muhammadiyah mengalami kebekuan dan kalah dinamis dibanding dengan laju amal usaha yang terus menggurita.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *