Saat ada yang mencintaimu (memujimu), jangan terlalu bahagia. Saat ada yang membencimu (mencacimu), jangan terlalu sedih. Karena yang terlalu bisa membuatmu malu.
عِنْدَمَا يُحِبُّكَ أَحَدٌ أَوْ يَمْدَحُكَ فَلَا تُفْرِطْ فِي الْفَرَحِ، وَعِنْدَمَا يَلُوْمُكَ أَوْ يَكْرَهُكَ أَحَدٌ فَلَا تُفْرِطْ فِي الْحُزْنِ، لِأَنَّ الْإِفْرَاطَ قَدْ يَجْعَلُكَ تَسْتَحْيِي.
Setiap kebaikan dan keburukan yang kita peroleh pada hakikatnya adalah ujian. Kebaikan adalah ujian dari-Nya untuk mengukur seberapa besar rasa syukur kita. Keburukan adalah ujian dari-Nya untuk mengetahui seberapa kuat kesabaran kita. Dalam hidup, kita senantiasa berhadapan dengan dua keadaan itu.
Mungkin, suatu hari kita menemukan orang yang sangat mencintai kita dan memuji kita dengan alasan apa pun. Maka, berhati-hatilah karena setiap pujian manusia senantiasa didasarkan atas ketidaktahuan mereka tentang kita yang sebenarnya dan atas dasar motivasi tersembunyi dalam dirinya. Bila kita salah merespons dan terlalu asyik dengan pujian tersebut, kita bisa tidak peka dengan situasi yang sebenarnya. Rasul bersabda, ”Mencintai pujian manusia bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli,”(HR Dailami).
Dalam riwayat lain, kita bahkan menemukan saran agar melemparkan pasir kepada orang yang suka memuji-muji kita. Sebab, pujian dapat menjerumuskan kita kepada dosa takabur.
Di sisi lain, ketika menemukan orang yang terus membenci kita dan terus-terusan mencaci, kita juga harus senantiasa waspada. Sebab, bisa jadi apa yang ia lakukan memiliki dasar yang kuat. Misalkan, memang ada kelemahan dan kekurangan dalam diri kita. Tetapi, bisa juga sikapnya itu memiliki alasan tertentu.
Memang, hati kadang merasa berat dengan orang-orang yang mengganggu ketenteraman hidup kita dengan kebencian mereka. Bagi seorang mukmin, kesabaran dan ketakwaan adalah syarat mutlak untuk mampu menghadapi keadaan ini. Bila kita yakin telah senantiasa hidup dalam ketaatan, tidak selayaknya kita takut menghadapi celaan atau caci maki (Q. 5: 54).
Sikap tidak terlalu dalam merespons dua keadaan di atas juga berlaku dalam hubungan antarmanusia. Karena, perilaku manusia kadang mudah berubah sebagaimana hatinya.
Bisa jadi, orang yang sangat mencintai kita dan terus menghadiahi kita pujian, tiba-tiba menjadi orang yang paling membenci kita sehingga darinya keluar cacian dan makian menyakitkan. Kita bisa saja malu dan dipermalukan apabila sebelumnya kita “berlebihan” menyikapi dua keadaan dimaksud.

No responses yet