Silsilah sangat penting dalam Islam baik dalam kaitan genetis (darah keturunan) ataupun Ilmu. Nabi pernah mengangkat anak dan sangat mencintai anak angkatnya itu. Karena begitu cintanya nabi memperlakukannya seperti anaknya sendiri, sehingga muncul sebutan namanya di belakang si anak angkat (Zaid bin Muhammad), bukan lagi Zaid bin Haritsah. Sebab itulah nabi kemudian diperingatkan untuk menegaskan kembali tentang kedudukan anak angkatnya bahwa dia tetap harus menyebutkan nama bapak aslinya. Tanpa keberatan nabi menegaskan kembali nabi bapak aslinya kepada si Zaid. Penegasan sanad ini sangat penting dalam Islam agar tidak merusak garis keturunan yang sah dan menghindari incest (menikah dengan saudara se mahram).

Demikian juga dalam sanad keilmuan, semuanya harus jelas diperoleh dari mana “ilmu” itu dan apakah berakhir pada simpul utama Nabi Muhammad atau tidak. Karena sangat riskan jika kita memotong sanad keilmuan (terutama agama/spiritual)  dengan menyatakan langsung kembali ke Al-qur’an dan Hadist. Meskipun semboyan ini terasa sangat “benar”, tetapi tetap saja menyimpan bahaya yang sangat besar dan gampang terpeleset dalam “kecacatan”. Hal ini persis ketika kita “kepaten obor” atau terputus silsilah keluarga kita, bisa jadi terjadi pernikahan “terlarang” antar saudara sedarah. 

Silsilah dan atau sanad adalah sebuah mata rantai rantai yang saling mengikat dengan kuat, mulaii dari yang pertama sampai yang terakhir. Ketakterputusan ini menjadi bukti bahwa mata rantai pertama telah benar-benar berfungsi sebagai mata rantai yang baik dan kuat. Hal ini seperti sebuah riwayat di mana Allah menanyai nabi Nuh dan juga nabi Ibrahim tentang siapa yang akan menjadi saksi tentang keberhasilan tugas kenabian mereka. Kedua rosul itu menjawab bahwa nabi Muhammad-lah yang akan menjadi saksi mereka.

Pertanyaanya kenapa nabi Muhammad? Karena nabi merupakan mata rantai “terakhir” dalam rantai kenabian. Ajaran keduanya ternyata tetap kuat tersambung kepada Muhammad secara sanad “keilmuan/kenabian”. Itulah makna “sirri” dari beriman kepada kitab-kitab dan nabi terdahulu.

Maka tidak berlebihan jika dalam lafadz tasyahud kita juga bersholawat kepada nabi Ibrahim. Karena itulah saya heran dengan orang-orang yang bersemangat dengan semboyan” kembali ke Al-qur’an dan hadist”   tetapi menafikan peran ulama sebagai pewaris “misi kenabian”. Karena yang namanya “pewaris” tentu harus jelas sejelas-jelasnya sanad/silsilah “keilmuannya”.  Kalau ada ustadz  yang tetiba mendaku sebagai pewaris nabi tetapi sanadnya keilmuannya tidak jelas, maka sangat niscaya akan terjadi “incest” dengan hawa nafsu  mereka sendiri (bisikan/ajaran syetan) yang bisa melahirkan keturunan/ilmu yang “cacat”. Dan gejala ini sekarang sudah semakin banyak ditemukan. #ZamanAkhir

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *