Bermula dari ethos: ‘al-Fakhr wa at-Tamjid’— yakni menunjuk zaman keemasan yang telah berlalu kemudian berbangga dengannya. 

Inilah pangkal kemunduran, kebodohan dan fanatisme yang di sunahkan atas nama masa salaf. 

*^^^^*

Benarkah masa salaf adalah masa tanpa cela, tanpa silang sengkarut,

periode tanpa konflik dan tengkar yang berujung perang atau sebaliknya— lantas bagaimana menjelaskan seteru abadi antara Sayidina Abu Bakar dan Sayidah Fatimah tentang harta fida’, konflik pribadi Sayidina Ali dan Sayidah Aisyah dari ayat ghoronik dengan dipulangkannya Aisyah  ke orang tuanya karena dituduh selingkuh, yang kemudian berujung perang Jamal, saling dorong karena berebut menjadi imam shalat jenazah antara Sayidina Ali dan Sayidina Ustman didepan jenazah Sayidina Umar — ? 

Belum lagi selisih pada sahabat-sahabat lainnya hingga masa tabiin dan tabiit-tabiin yang tidak terbilang jumlahnya yang terjadi pada masa salaf. Sama sekali bukan bermaksud membasuh luka lama tapi mencoba bersikap obyektif terhadap realitas keberagamaan masa salaf yang dianggap masa terbaik atau masa keemasan itu ternyata tidak luput dari kekurangan berupa konflik, pertengkaran dan perselisihan para sahabat besar yang dijamin masuk surga. 

Bahwa konflik pertengkaran dan perang yang ada hingga hari ini juga bagian dari produk waris masa salaf yang dibanggakan itu ? Itu realitas sebagai wujud humanitas bahwa para sahabat adalah manusia biasa  sama seperti kita. 

*^^^^*

Masa salaf sendiri juga debateble sebelum kemudian disepakati khalifah Abdul Malik bin Marwan th 685 Hijriah secara politis kompromistis — lantas periode mana yang disebut dengan masa salaf itu — yang kemudian dijadikan rujukan sebagai sumber moral dan etik dalam konteks teologis : 

Pertama: Kaum Syiah dan Rafidhah hanya mengakui Ali ra saja sebagai masa salaf. 

Kedua : Kaum Murjiah mengakui Abu Bakar ra dan Umar ra saja. 

Ketiga: Bani Umayyah hanya mengakui Abu Bakar ra– Umar ra dan Ustman ra saja. 

Ke empat : Umawiyyin mengakui Abu Bakar ra, Umar ra, Ustman ra  dan Mu’awiyah ra sebagai Khulafa’ur Rasyidin yang disebut masa salaf. 

Ke lima: kelompok rekonsiliasi besar yang dipimpin oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (tahun 685/705 masehi) menggagas konsep Khulafa’ur Rasyidin yaitu Abu Bakar ra, Umar ra, Ustman ra dan Ali ra.  Dengan membuang Mu’awwiyah ra. 

*^^^^*

Kembali kepada Al Quran dan as sunah adalah jargon paling heroik sepanjang yang saya tahu — dengannya seseorang bjsa merasa paling benar sendiri. Paling Islam paling nyunah dan paling paling yang lain sambil menyalahkan siapapaun yang tidak sepemahaman. 

Bermula dari surah yang dipahami leterljik : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar (QS. 9:100)

Masa salaf yang debatable itu kemudian berdiaspora dalam gerakan pemurnian agama, seperti antara lain yang dilakukan oleh gerakan Wahabiyah di Saudi Arabia, as-Sanusiyah di Libia, dan Jamaah Islamiyah di Pakistan. Mereka beranggapan bahwa masa Rasulullah saw., adalah masa terbaik berdasarkan hadis Rasulullah saw . (“Sebaik-baik generasi adalah generasiku”). Apa saja diterima dari Rasululullah saw dan menampik semuanya tanpa mempertimbangkan faktor budaya dan perkembangan positif masyarakat. 

*^^^^*

Dengan logika “masa Rasul saw., dan sahabat-sahabat beliau, sebagai sebaik-baiknya generasi”, maka ada sebagain yang dengan gigih menolak segala sesuatu yang datang sesudah masa itu, baik yang bersumber dari dalam masyarakat mereka sendiri, lebih-lebih yang datang dari luar masyarakat dan bangsa lain. 

‘Kebenaran Tunggal’ pun mulai dipaksakan dengan justifikasi kembali kepada Al Quran dan as Sunah — Mereka lupa, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa Rasul saw juga pernah bersabda: “Umatku seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya, tengahnya, atau akhirnya yang terbaik.”

Wasathiyah yang ditawarkan Muhammadiyah agaknya akan menemukan bentuknya yang permanen, sekaligus membekukan sekelompok kecil yang bangga dengan cara berpikir fanatik, eksklusif dan merasa paling Islam, karena telah berjargon kembali kepada Al Quran dan as Sunah dan masa salaf sebagai satu-satunya kebenaran tunggal, dan merasa memiliki otoritas keagamaan dan menetapkan apakah sunah atau bid’ah meski tak banyak mengerti – Wallahu taala a’lm 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *