Categories:

Oleh: Gemilang Dwi Putra (mahasiswa Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Jakarta)

         Islam merupakan agama rahmatan lil alamin , kata “lil alamin” sendiri menunjukkan bahwa agama yang dibawa Rasulullah SAW tidak hanya memberi kemaslahatan kepada kaum muslimin saja, tetapi juga seluruh manusia. Rasulullah tidak pernah menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk membenci orang, beliau selalu bersikap baik kepada siapapun, saking baiknya Rasulullah dipuji oleh kawan maupun lawan. Maka tidak heran jika Nabi Muhammad SAW mempunyai banyak sahabat, sahabat nabi merupakan orang yang mengenal dan melihat lansgung Nabi Muhammad SAW dan membantu perjuangannya. Bahkan para sahabat nabi ikut berkontribusi dalam perjalanan islam sebagai agama yang sempurna.

         Pada Suatu hari, serombongan fakir miskin dari golongan Muhajirin dating mengeluh kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah” kata seorang dari mereka, “Orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga tingkatan yang paling tinggi sekalipun”. Nabi SAW bertanya, “Mengapa engkau berkata demikian?”. Lalu iapun berujar, “Mereka sholat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaiman kami berpuasa. Namun giliran saat mereka bersedekah, kami tidak kuasa melakukan amalan seperti mereka. Mereka memerdekakan budak sahaya, sedangkan kami tidak memilik kemampuan untuk melakukan itu”. Setelah mendengar keluhan orang fakir tadi, Rasulullah SAW tersenyum lantas berusaha menghibur para fakir itu dengan sebuah hadist motivasi. Beeliau bersabda untuk membesarkan hati mereka. “Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorangpun yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?”.

         Dengan sangat antusias mereka pun menjawab serentak “Tentu Ya Raslullah”. Kemudian Nabi SAW bersabda,  “Bacalah ‘Subhanallah’, ‘Allahu akbar’, dan ‘Alhamdulillah’ setiap selesai shalat masing-masing 33 kali”. Setelah menerima wasiat dari Rasulullah SAW, mereka pun pulang unutk mengamalkannya. Tidak lama berselang setelah beberapa hari berlalu, para fakir miskin itu datang kembali menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya iut mendengar perbuatan kami, lalu mereka serentak berbuat sebagaimana perbuatan kami”. Maka, Nabi SAW bersabda, “Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki”.

         Sabda itu merupakan petikan dari Al Qur’an surah An-Nur ayat 38. Artinya secara lengkap sebagai berikut, “(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar dia menambah karunia Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas”. Hadis sahih diatas menggambarkan betapa besarnya motivasi berbuat kebaikan, baik dari kelompok miskin maupun kaya. Mereka bersungguh-sungguh berlomba-lomba dalam kebaikan.

         Si kaya yang beruntung dikaruniai limpahan rezeki, namun harta benda tidak menjadikannya bak Qarun yang takabur dan bakhil. Muslimin yang berada sadar betul semua harta hanyalah titipan dari Allah SWT. Maka, benda-benda itu mesti digunakan dijalan yang semata-mata hanya untuk mencari keridhaan-Nya. Kekayaan tidak menjadikannya lupa daratan, tapi menyadarkannya untuk lebih berderma karna di dalamnya begitu banyak hak orang lain yang mesti ditunaikan. Begitu pula potret si miskin yang tidak mau kalah beramal, ia selalu mencari solusi untuk bersaing secara sehat untuk mencari keunggulan dalam beribadah. Sadar akan tidak keberuntungan materi tidak menjadikannya patah semangat untuk memberikan pengabdian terbaik bagi Allah SWT.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *