Categories:

Oleh : Fallin Marwah Daud

Tradisi dan budaya jawa memang sangatlah beragam dan banyak jenisnya. Salah
satunya yang terdapat dalam novel Ganjil Genap karya Almira Bastari ini, “melangkahi kaka
perempuan yang sebelum menikah” atau sering disebut nglangkahi yang artinya melewati
kaka perempuan yang belum menikah. Novel ini begitu menarik dari segi sosial dan
psikologi. Novel ini mampu menarik perhatian kalangan remaja hingga orang dewasa,
menceritakan sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama 13 tahun tetapi berahir
kandah akibat perselingkuhan. Tidak di duga-duga bukan? Pasti sebagian besar orang pernah
mengalami hal menyesakan dada seperti yang terdapat dalam novel.
Isi dari novel sangatlah realistis dengan lingkungan atau sering terjadi di kalangan
sosial, dimana seorang wanita dan laki-laki yang menjalin sebuah hubungan hingga bertahuntahun belum tentu berakhir ke pelaminan, justru berakhir naas dan membuat sesak dada.
Selain itu, Almira Bastari juga membuat tokoh utama yaitu si Kaka Perempuan ini menjadi
terlihat sangat menyedihkan. Dikatakan begitu karena , setelah putus dari laki-laki yang
bersamanya selama 13 tahun, akhirnya sang kaka dilangkahi oleh sang adik yang akan
menikah terlebih dahulu. Sungguh ironis, apa yang dialami tokoh dalam novel memang
benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Terutama sanksi sosial dari tetangga yang sudah
pasti melontarkan berbagai komentar yang menusuk hati.
Putus dari orang yang sudah bersama selama 13 tahun bukanlah hal yang mudah,
rusaknya mental, hilangnya kepercayaan, serta trauma bahkan bisa terjadi. Dari cerita nyata,
bahkan sampai ada yang bunuh diri akibat gagal naik pelaminan setelah pacaran bertahun
tahun dengan kekasihnya. Psikologis tentu sangat terganggu, bukan hanya dari pihak yang
bersangkutan tetapi dari pihak keluarga pun juga pasti ikut merasakan kehancuran yang amat
terasa. Bagaimana tidak, hubungan anaknya yang diidam-idamkan akan sampai ke
pelaminan, membayangkan anaknya akan hidup bahagia setelah menikah tiba-tiba runtuh
seketika dengan berita pahit dengan alasan perselingkuhan. Perselingkuhan memang kerap
terjadi pada lingkungan masyarakat kalangan atas sampai bawah, bahkan tidak memandang
umur, harta, dan tahta. Korban perselingkuhan biasanya lebih memiliki trauma untuk percaya
kembali kepada orang yang akan dekat padanya. Terkadang penulis berfikir, bagaimana bisa
seseorang melakukan perselingkuhan, padahal sudah memiliki pasangan yang dipilih oleh
diri sendiri.
Novel ini begitu menarik ketika Gala putus dengan pacarnya yang sudah menjalin hubungan
selama 13 tahun, dan pada saat itu juga adiknya yang bernama Gisha akan menikah.
Kecemasan muncul dalam diri Gisha, karena Gisha pikir kakanya putus dan tidak bisa
menikah dalam waktu dekat ini berarti Gisha pun tidak dapat menikah dengan calon
suaminya. Kecemasan Gisha akhirnya membuat Gisha memberanikan diri untuk bicara pada
kakanya, supaya cepat mencari jodoh dan menikah. Sementara dari sisi Gala sebagai seorang
kaka, pasti merasa tidak nyaman dan tidak ingin berada pada posisi seperti ini.
Posisi dimana mendapat komentar tidak menyennangkan dari saudara dan
tetangganya, banyak yang mengatakan “Masa kamu kalah sama adikmu”,”Adikmu tidak bisa
menikah dan melangkahi kakanya” semua perkataan itu membuat mental Gala menjadi rusak.
Sejak saat itu Gala menjadi selalu ingin menyendiri. Semaki menggila ketika terus didesak
supaya cepat-cepat memiliki pasangan, Gala selalu mencoba berkencan dengan laki-laki,
namun tidak ada yang cocok. Bahkan sampai liburan ke luar negeri untuk menenangkan diri
dan menghindar dari kepenatan duniawi. Hingga pada akhirnya Gala bertemu dan jatuh cinta
pada seorang laki-laki yang masih keturunan kerjaaan, namun setelah bertemu beberapa kali
Gala merasa tidak pantas untuk laki-laki tersebut. Bukan hal terahir yang dilakukan Gala, ia
pun mencoba dekat dengan seorang dokter gigi, hubungannya berjalan mulus berkelok.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa trauma akan hubungan sebelumnya sangat besar.
Sebagian besar dari pembaca pasti akan terbawa suasana oleh cerita novel Ganjil
Genap karya Almira Bastari ini. Namun novel ini juga dapat memicu timbulnya trauma bagi
para pembaca yang pernah mengalami hal sepait yang terdapat dalam novel. Novel ini dapat
mengakibatkan munculnya trauma baru pada hati para pembaca yang pernah merasakan
seperti pada cerita. Seperti mengulik kembali cerita lama, novel yang ditulis ini menggunakan
bahasa yang sangat mudah untuk dipahami maknanya oleh para pembaca.Susunan dalam
novel juga sangat mudah dan menarik untuk dibaca, tidak hanya sebuah teks panjang tetapi
banyak percakapan serta beberapa istilah baru dalam bahasa lain yang tentunya sangat
menarik untuk dipelajarai atau hanya sekedar mencari tahu.
Penulis novel ini mampu membuat sebuah cerita yang sering terjadi di lingkungan
sosial, umumnya terjadi kepada orang yang akan beranjak dewasa, dengan kegalauan tentang
pernikahan dikala umur sudah menginjak 23 tahun. Perempuan-perempuan pasti sudah mulai
memikirkan untuk menikah bahkan bisa jadi lebih muda dari umur tersebut. Apalagi jika
dilingkungan sosial terdapat seorang perempuan yang sudah berumur tetapi belum menikah,
maka hal tersebut biasanya disebut dengan istilah “perawan tua”.Setiap keluarga memiliki
batasan umur atau pandangan umur untuk seseorang menikah, tetapi umumnya memang jika
perempuan mneikah sekitar pertengahan umur 20-25 tahun, dan untuk laki-laki bisa lebih dari
umur tersebut.
Penulis novel ini juga memberikan gambaran tentang cara berjuang move on atau
melupakan mantan, dengan berbagai cara yang mungkin menurutnya dapat meghilangkan
perasaannya kepada sang mantan kekasih. Tetapi cara paling ampuh yang dapat diambil dari
novel tersebut adalah berdamai dengan diri sendiri dan menjalankan hidup dengan tenang dan
nyaman. Tidak perlu mendengarkan komentar orang lain tentang hidup yang sedang kita
jalani, jalani saja sesuai dengan kemauan kita. Semua yang dimulai dengan rasa keterpaksaan
maka akan berakhir tidak baik. Mengembalikan, menyehatkan mental memang sangatlah
perlu untuk kebaikan masa depan. Menyenangkan diri sendiri lebih penting daripada harus
mengutamakan orang lain, selain itu semakin berusaha untuk kembali dan mencari maka
akan semakin sulit untuk mendapatkannya

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *