oleh: Wava maemunah, Mahasiswa univeritas Muhammadiyha Prof. Dr.Hamka
Belakangan ini, kata insecure sedang ramai diperbincangkan oleh banyak orang, khususnya generasi milenial, baik dari status media sosial ataupun dalam perbincangan mereka sehari-hari.
INSECURE
Insecure sendiri adalah perasaan cemas, ragu, gelisah, malu atau kurang percaya diri sehingga membuat seseorang merasa tidak aman. Akibatnya, orang yang insecure bisa saja merasa cemburu, selalu menanyakan pendapat orang lain tentang dirinya, atau bahkan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain dan berfokus pada kekurangan diri dan melihat orang-orang di luar sana begitu sempurna hidupnya. Sementara diri ini jauh dari kesempurnaan, mulai wajah yang pas-pasan, badan gemuk tak berbentuk, dan ekonomi menengah ke bawah yang jauh dari kata mewah. Rasa ketidaksempurnaan itulah yang menjadi pemicu dari insecure. Perasaan tidak aman dan insecure merupakan hal yang normal terjadi. Namun, pada sebagian orang perasaan ini terjadi terus menerus. Jika perasaan tersebut tidak ditangani, dapat menimbulkan gangguan-gangguan lain, seperti masalah hubungan sosial hingga pekerjaan, dan jika hidup terus menerus dihantui dengan rasa insecure, bisa dipastikan yang terjadi adalah ketidakbahagiaan.
Ada beberapa hal yang menjadi faktor pemicu munculnya insecure, salah satunya adalah penggunaan sosial media yang terasa ‘toxic’. Terkadang, ada keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak ada di diri kita. Lebih parah lagi bila sampai merasa tidak cukup dengan yang dimiliki saat ini. Semua hal ini dapat menjadi beban pikiran dan berujung pada munculnya overthinking. Selain itu insecure bisa muncul akibat pengalaman buruk, cara pandang yang salah, memiliki kepribadian melankolis, atau sifat perfeksionis. Untuk menangani kondisi ini, seseorang bisa belajar untuk membangun self-esteem atau berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater mengenai penanganan yang tepat sesuai dengan kondisinya.
BERSYUKUR
Istilah lain dari bersyukur dalam psikolog adalah gratitude. Psikologi positif memaknainya sebagai sebuah kesadaran akan adanya hal baik pada diri sendiri. Jadi, bukan sekedar ucapan terima kasih kepada seseorang ataupun kepada Tuhan, tapi keadaan emosi yang mengizinkan untuk selalu berbahagia atas apa yang ada pada kita. Namun bersyukur itu tidak segampang membalikkan telapak tangan, apalagi mengatakan kepada orang yang lagi bersedih, perlu kehati-hatian “bersyukurlah, kamu masih untung…”. Apalagi mengatakannya kepada orang yang sedang ditimpa banyak masalah. Diperlukan kesediaan dalam membangun rasa syukur, artinya setiap individu bersedia menanggung beban, bersedia menerima keadaan, baik ataupun buruk.
Al-Qur’an dalam beberapa ayat menganjurkan untuk bersyukur, misalnya di Qs. Lukman ayat 12.
“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji”.
Wahbah Zuhayli dalam tafsir Al-Munir, menjelaskan bahwa bersyukur tidak hanya sekedar ucapan pujian ataupun terima kasih, tetapi juga upaya untuk mengoptimalkan atau menggunakan anggota tubuh sesuai dengan fungsi penciptaannya untuk kebaikan. Rasa syukur dalam Qs. Luqman: 12 menyebutkan bahwa bersyukur tidak lain manfaatnya kembali ke diri sendiri.
Ketika seseorang merasa insecure terhadap dirinya sendiri, maka lambat laun kepercayaan dalam dirinya juga akan menghilang. Lalu dimana memicu perasaan cemas saat berhadapan dengan orang lain, padahal interaksi antara kita dengan orang lain itu sangat penting. Orang yang merasa tidak aman melihat keuntungan dan kekuatan di lingkungannya yang tidak mereka lihat di dalam dirinya. Kemudian orang tersebut mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Meskipun orang yang dilihatnya mungkin juga memiliki banyak kekurangan, mereka hanya tidak menunjukkannya kepada orang lain dan lebih memilih untuk mengandalkan kelebihan mereka. Pada dasarnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Tuhan yang menciptakan kita. Menjadi manusia yang tidak sempurna bukanlah sebuah kesalahan atau aib yang seharusnya membuat kita malu.
Hal yang perlu kita lakukan adalah mensyukuri apa yang kita miliki, menerima segala apa yang ada dalam diri kita. Tidak perlu merasa takut dan berkecil diri.
- Berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain
Percayalah bahwa setiap orang memiliki minatnya masing-masing, jangan khawatir dengan kemampuan kamu. Singkirkan semua pikiran negatif yang mengganggu kamu. Menerima kesalahan kamu dan berhenti membandingkan diri kamu dengan orang lain karna itu bisa membuat dirimu lebih berarti.
Allah berfirman dalam surat at-Tin ayat 4:
Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm. “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Seseorang harus mempunyai keyakinan apapun yang ada dalam dirinya itulah yang terbaik untuk dirinya. Meskipun ada segelintir kekurangan dalam bentuk apa pun. Misal, kekurangan harta, fisik, mental, dan lain-lain. Setelah yakin itu merupakan yang terbaik, baru mencari hikmah di baliknya. - Belajar membuka diri terhadap dunia luar
Jangan takut bergaul dengan orang diluar sana, jangan menutup dirimu terhadap orang baru. Banyaklah bergaul dengan orang-orang yang positif, dimana nantinya kamu akan terbawa oleh energi positif yang mereka miliki. Dengan begitu lambat laun kamu akan menjadi lebih produktif dan percaya diri - Tunjukkan bakatmu, percayalah kamu itu hebat
Ketahui dirimu, bukan hanya kekuranganmu namun juga kelebihanmu. Setiap orang pasti memiliki kelebihan diantara kekurangan yang dimiliki. Entah hobi atau apapun yang membanggakan dari dirimu, tunjukkan pada dunia bahwa kamu itu hebat dan berbakat. Dan percalayah bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri-sendiri, begitupun kamu yang juga sedang berproses menemukan dan mengenali bakat yang kamu miliki - Kurangi bermain sosial media
Keberadaan media sosial saat ini memiliki banyak manfaat, namun di sisi lain juga memiliki efek yang tidak sehat bagi kesehatan mental. Dengan bantuan sosial media kita melihat kehidupan orang lain, ada banyak orang yang menunjukkan sisi baik hidupnya, entah itu menunjukkan momen bahagianya, popularitasnya dengan rupa indahnya, bahkan kegembiraan lainnya. - Syukuri apa yang kamu miliki
Kata bersyukur mudah sekali diucapkan namun seringkali sulit untuk dilakukan. Pada kenyataannya banyak orang yang menyepelakan dan mengabaikannya, dan memilih untuk mengeluh serta menghakimi dirinya sendiri. Berhenti untuk menunggu dirimu menjadi sempurna, hadapilah semua yang ada didepanmu.

No responses yet