Oleh Azhar Maulana Putra
Dalam berinteraksi dengan manusia lain, manusia terkadang berbuat salah kepada manusia lain. Di suatu keadaan ia pernah mengalami perlakuan dan situasi yang mengecewakan atau menyakitkan. Tidak banyak orang dapat dengan tulus memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Proses memaafkan dapat direalisasikan dengan memiliki sifat kerja keras, kemauan kuat dan latihan mental karena berkaitan dengan emosi manusia yang fluktuatif, dinamis dan sangat reaktif terhadap stimulan luar. Oleh karena itu, tidak heran bila ada gerakan dari kelompok ekstrim atau pihak terkait yang melakukan perbuatan anti sosial. Perbuatan tersebut dilakukan karena rasa kekecewaan masa lalu yang tidak termaafkan.
Dalam berbagai ajaran agama serta kepercayaan, sikap altruistik memang dijadikan bentuk idealisme perilaku. Artinya, manusia diharapkan dapat meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat dan memberi maaf atas tindakan keliru yang mengecewakan atau menyakitkan perasaan mereka. Saling memaafkan merupakan salah satu bentuk tradisi hubungan antar manusia, akan tetapi tradisi ini sering kali dispelekan oleh masyarakat kita. Artinya, masyarakat sering kali memohon maaf dengan tanpa ketulusan dan cenderung mengaggap remeh.
Pemaafan dalam ilmu psikologi dikategorikan salah satu kekuatan karakter (character strength), yaitu merupakan karakter baik yang mengarahkan individu pada pencapaian keutamaan atau trait positif yang terefleksi dalam pikiran, perasaan dan tingkah laku. Tidak hanya itu, dalam agama islam pun mengajarkan umatnya untuk memaafkan kesalahan sesama dan senantiasa sabar ketika menghadapi situasi yang mengecewakan maupun situasi yang dapat menyakiti perasaan. Hal itu sudah dikemukan dalam sebuah hadis yang artinya: “Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim).
Maaf adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Selain itu, pemaafan juga proses menghidupkan sikap dan perilaku positif terhadap orang lain yang pernah menyakiti. Menurut Nashori (2014), pemaafan dapat diartikan kesediaan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang bersumber dari hubungan interpersonal dengan orang lain dan menumbuhkembangkan pikiran, perasaan, dan hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain yang melakukan pelanggaran secara tidak adil.
Setelah pembahasan tadi, kita dapat mengetahui apa itu maaf menurut kaidah agama maupun ilmu psikologi. Sebuah sikap baik pasti memiliki keutamaan yang baik pula, berikut keutamaan memaafkan orang lain:
- Dicintai Allah
Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad, yang artinya:
“Ada pedagang yang biasa memberi kredit kepada orang. Jika dia menemukan salah satu pelanggannya berada dalam sarana yang diluruskan, dia akan berkata kepada asistennya: Maafkan mereka hutang mereka, mungkin Allah akan mengampuni kami. Allah mengampuni dia.” (Bukhori dan Muslim)
- Mendapatkan Ampunan
Nabi Muhammad bersabda:
“Kasihanilah yang ada di bumi, yang disurga akan mengampuni kamu.” (Tirmidzi)
- Menenangkan Perasaan
Dengan kita memafkan kesalahan mereka yang bersalah membuat perasaan kita terasa tenang dan lebih lega dalam menjalani kehidupan.
- Mengharapkan Ridho Allah
Sebagaimana yang tercantum dalam surat Asy-Syura ayat 37:
وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ
Artinya:
“Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”
- Menambahkan Kemuliaan dan Diangkat Derajatnya
Sebagaimana hadis Nabi yang artinya;
“Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah SWT akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim no 2588)
REFERENSI

No responses yet