Oleh: Faiza Azzahra, Tassya Styarini, Meisha Kurnia Putri (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka)
Bagi kebanyakan orang, agama merupakan kebutuhan yang paling utama diantara kebutuhan lainnya karena agama merupakan kebutuhan pokok bagi orang yang menginginkan kedamaian dan kebahagiaan. Agama adalah ini memainkan peran penting dalam kehidupan manusia, secara pribadi mengatur dan mempengaruhi tatanan kehidupan sangat meyakinkan bagi kehidupan dan tatanan struktur sosial masyarakat. Dilihat dari perannya, maka agama mengatur pemeluknya untuk senantiasa berada dalam rel-rel yang telah ditentukan. Pada saat yang sama aturan yang terkandung dalam agama (Islam) mencakup semua kebutuhan manusia, baik orang maupun individu dengan kebutuhan yang berbeda-beda baik egonya maupun manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Percaya agama mempengaruhi setiap individu, karena agama dapat membangkitkan keinginan untuk hidup, untuk berkembang kepribadian, memperbaharui vitalitas dan mampu memberi makna, dan kecerahan baru pada kehidupan sehari-hari.
Agama memainkan peran penting dalam mempromosikan dan bahkan mewarnai empat arketipe dasar sehingga menjadi nilai yang berarti dalam hidupnya, termasuk sebuah kontribusi untuk mengatur manusia secara psikologis dengan mengurangi masalah (psikologis) yang dialami oleh semua. Setiap orang dan dimanapun dalam hidupnya “pasti pernah” mengalami masalah hidup dalam berbagai tingkatan masalah yang berbeda. Masalah dan masalah yang terus-menerus, disadari atau tidak disadari menyebabkan frustrasi dan depresi. Agama berperan penting sebagai “pelindung” jiwa seseorang menderita frustasi dan depresi.
PENGERTIAN AGAMA
Kata “agama” adalah salah satu kata yang menarik perhatian dunia informasi. Sebenarnya arti agama terkadang menimbulkan kontroversi, yang seringkali berdampak lebih besar daripada maknanya masalah.
Pendapat Hegel yang mengatakan bahwa agama adalah pengetahuan yang dimiliki oleh akal terbatas. Pemahaman ini akan membawa pengertian bahwa agama yang diyakini oleh manusia sebagai produk pemikiran dalam pengertian yang amat sempit. Dengan demikian, agama hanyalah produk hasil pemikiran atau perenungan manusia (karya ilmiah) saja. Bila pendapat Hegel ini dianut secara radikal, maka seseorang akan dengan sangat mudah mendeklarasikan agama, bahkan akan berimbas pada mudahnya seseorang mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi bahkan Tuhan.
AGAMA SEBAGAI SARANA MENGATASI FRUSTASI DAN DEPRESI
Agama sebagaimana yang kita pahami, kini semakin mendapatkan tempat dalam berbagai kajian, baik yang memang khusus berkaitan dengan agama maupun kajian-kajian lain (umum/praktis) yang dengan sengaja atau tidak menyentuh agama dalam rasio berpikirnya. Hal ini tidak lepas dari keyakinan bahwa agama merupakan bagian dari kebutuhan seseorang yang tidak dapat dilepaskan secara individu/pribadi maupun dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Dilihat dari sisi perilakunya, agama telah menunjukkan dan menopang gejala perilaku psikologis seseorang.
Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam hidupnya. Masalah setiap orang sangat berbeda dan sebagian besar tidak lepas dari pemenuhan kebutuhan (baik fisik maupun mental). Setiap orang ingin dapat memenuhi kebutuhan (fisik) mereka secara efektif mudah Kebutuhan ini dipenuhi dengan berbagai cara. Namun, itu tidak biasa dengan berbagai usaha, namun usahanya tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya. kelelahan, ketakutan, Kebosanan, keputusasaan, ketakutan dan sebagainya melebur menjadi satu. Semuanya terasa sangat sulit, apalagi terkait dengan masalah lain seperti Misalnya, anak nakal yang tidak mudah dikendalikan selalu membuat ulah di sekolah. Semua ini sangat mendukung seseorang yang menderita frustasi bahkan dapat menyebabkan depresi.
Frustasi (al-Ya’s) menurut as-Syarqawi adalah putus harapan dan cita. Munculnya perasaan ini biasanya ketika seseorang berhadapan dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang bertolak belakang dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, selalu melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain (as-Syarqawi: 103).
Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87).
Dalam mental health disebutkan bahwa munculnya perasaan frustasi disebabkan oleh kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan, tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan atau terhambatnya usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan (Kartini Kartono 1989:50 dan bandingkan dengan Zakiat Darajat, 1990:24).
Depresi yang dianggap sebagai penyakit di zaman kita, tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tetapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh. Gangguan umum yang terkait dengan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan pada obat terlarang, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah. Tentu saja depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.
Cara mengatasi depresi
1. Mengikuti petunjuk ajaran Allah dan Rasul-Nya
قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Qulnahbiṭụ min-hā jamī’ā, fa immā ya`tiyannakum minnī hudan fa man tabi’a hudāya fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn
“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran (“khauf”) atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (“huzn”)”. (QS Al Baqarah: 38).
2. Memperbanyak doa
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Am may yujībul-muḍṭarra iżā da’āhu wa yaksyifus-sū`a wa yaj’alukum khulafā`al-arḍ, a ilāhum ma’allāh, qalīlam mā tażakkarụn
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An Naml: 62)
3. Senantiasa merasa bersama Allah SWT
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
lā taḥzan innallāha ma’anā.“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS At Taubah: 40)
Jika kita dalam keadaan depresi, serba kawatir atau takut, maka usahakanlah mensugesti diri bahawasanya Allah beserta kita dan semua yang ada di dunia ini ada dalam pengawasan dan pengaturan Allah SWT. Sehingga jika sudah terjadi merasa ma’iyyah (kebeersamaan dengan Allah SWT) penyakit atau musibah apapun akan dihadapi dengan tenang dan kepasrahan kepada Allah, sambil berikhtiar yang optimal, karena kepasrahan dan ikhtiar keduanya diperintah Allah SWT.
Bagi mereka yang jauh dari agama, keengganan untuk menaati Allah menyebabkan mereka terus-menerus mengalami perasaan tidak nyaman, frustasi dan depresi. Akibatnya, mereka terkena berbagai penyakit mental yang terwujud dalam kondisi fisik mereka. Tubuh mereka memburuk lebih cepat, mereka menua dengan cepat dan lemah. Saat seseorang mengalami depresi, tubuhnya bereaksi dan memicu sinyal alarm yang memicu berbagai reaksi biokimia dalam tubuh. Tingkat adrenalin dalam aliran darah meningkat; Pengeluaran energi dan reaksi tubuh memuncak; Gula, kolesterol, dan asam lemak diarahkan ke aliran darah; tekanan darah meningkat dan detak jantung meningkat. Ketika glukosa dikirim ke otak, kadar kolesterol meningkat. Dalam jangka waktu yang lama menyebabkan munculnya penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, penyakit pernafasan dan eksim.
Keadaan di atas bisa terjadi pada siapa saja, terutama mereka yang tidak memiliki ketenangan batin. Dalam hal ini, semua ahli sepakat bahwa orang yang agresif, pemarah, tidak sabar, cemas, gelisah dan pemarah memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit atau gangguan di atas. Apalagi dalam kondisi sekarang ini dan dalam perkembangan peradaban yang sangat mudah memicu munculnya kuman-kuman gangguan tersebut.
KESIMPULAN
Dari sudut pandang psikologis, agama ditafsirkan dalam arti dan perspektif yang berbeda. Kecerdasan dan kebebasan masyarakat menimbulkan perbedaan cara pandang dalam menafsirkan agama, sehingga hal ini tidak jarang terjadi Agama menciptakan makna dan ritual yang berbeda. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut, mulai dari kepercayaan, tradisi, lingkungan, bahasa, dan lain-lain. Ada yang berpendapat bahwa dasar agama terletak pada ritual ibadah, tetapi ada juga yang percaya bahwa agama terletak pada moralitas dan pengabdian kita kepada orang-orang di sekitar kita. Ada pula yang “ekstrim” dalam artian agama dimaknai sebagai pengorbanan demi iman, amalan dan berobat sampai mati atau mencari mati (istyhad) demi iman. Dari kondisi ini, penerjemah agama juga harus mampu melihat perspektif yang berbeda, mampu mewakili semua kelompok perspektif yang ada. Seiring berjalannya waktu, keberadaan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern. Apa pun penyebab kemarahannya, betapapun tidak percayanya dia kepada Tuhan, betapapun tidak berharganya dia, dia tidak bisa meninggalkan kehidupan beragama. Oleh karena itu, masalah agama (Islam) kini tidak dapat dipisahkan dari tujuan pengembangan penelitian ilmiah. Dengan munculnya ekonomi Islam, politik Islam, filsafat Islam, sosiologi Islam, psikologi Islam, psikoterapi Islam, dan bahkan kedokteran Islam muncul. Sementara itu, Penelitian yang tepat untuk mengetahui sifat-sifat dan perilaku kejiwaan adalah psikologi, sehingga untuk mengetahui kejiwaan dalam masalah agama adalah psikologi agama, yang kini mulai disambut hangat oleh para peneliti, bahkan yang berbasis agama serta mereka yang benar-benar ingin tahu (yang tidak beragama). Bagi orang beragama keberadaan agama menyentuh bagian terdalam dari dirinya. Pada saat yang sama psikologi untuk membantu seseorang menghayati agama mereka dan untuk memahami apresiasi orang lain terhadap agama yang mereka yakini dan untuk membantu kita menemukan kunci pemecahan masalah. Sebagaimana kita ketahui, kita memandang dan merasakan bahwa kehadiran agama dalam kehidupan manusia melahirkan atau mengungkapkan realitas yang berbeda-beda, mulai dari ajaran moral, akidah, keyakinan hingga ideologi gerakan. Ideologi gerakan biasanya merupakan kombinasi dari ekspresi diri yang menghadirkan keyakinan seseorang. Bentuknya sangatlah bermacam-macam, mulai dari kegiatan spiritual yang bersifat individu, hingga ekspresi massal yang melambangkan kekuatan agama yang diyakini secara bersama-sama. Semakin banyak massa yang mengikutinya mengindikasikan kebesaran dan kekuatan bahwa agama yang diikutinya juga diyakini banyak orang. Termasuk di dalamnya ritual-ritual keagamaan yang dilakukan secara individu maupun massal. Kondisi ini diakui atau tidak, sedikit menyulitkan untuk memahami agama secara ilmiah. Oleh karenanya sebagian definisi dan ritual keagamaan tidak komprehensif, dan hanya memuaskan pembuat atau pengikutnya.

No responses yet