Categories:

Oleh Auliyaur Rosyidah (mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Prodi S1 Ilmu Hadis semester 7)

Pemuda era sekarang disebut dengan generasi Z atau disingkat gen Z. Mereka adalah golongan generasi yang lahir antara tahun 1995 sampai dengan 2010. Sedangkan generasi setelahnya disebut dengan generasi alpha. Generasi Z adalah generasi yang tidak mengetahui atau tidak mengerti kehidupan tanpa adanya smarphone atau gadget. Sebab sejak awal mereka lahir smartphone dan gadget telah erat sekali dengan mereka. Sejak kecil generasi Z ini sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih. Hingga dapat disimpulkan, gen Z adalah generasi yang bergantung kepada gadget

Generasi Z memiliki ujian tersendiri yang tidak dialami oleh generasi atasnya. Ujian tersebut terletak pada beban arus globalisasi yang menyebabkan persebaran informasi dan persaingan tinggi dalam dunia Pendidikan, pekerjaan, maupun sosial, sebab generasi Z adalah bagian dari generasi informasi dan semua batasan informasi telah terbuka secara luas melalui sosial media dan internet. Dengan demikian. generasi Z mendapatkan beban berupa tersibukkannya pikiran dengan adanya berbagai macam referensi di kepala mereka yang terus menerus bertambah dan masuk baik dari dunia maya maupun dunia nyata.

Hal selanjutnya yang membebani generasi Z saat ini adalah tekanan finansial. Era sekarang makin tinggi persaingan dalam dunia kerja.  Covid-19 akan menambah pengangguran di Indonesia yang bahkan sebelum pandemi angkanya mencapai 20,4 persen atau sudah cukup tinggi dibandingkan rata-rata global. Lapangan kerja yang terbatas dan permintaan kualitas yang tinggi membuat banyak sekali generasi Z yang sebenarnya siap kerja dan dilatih tidak dipilih atau dipekerjakan dikarenakan perusahaan terus memilih orang-orang yang senior dan yang sudah ahli. Perilaku masyarakat yang secara alami tidak memiliki rasa puas akan suatu hal yang dimiliki mampu mendorong untuk berbuat segala cara. Mereka putus asa dengan beban finansial dan tuntutan gaya hidup tersebut hingga tidak mampu lagi menahan diri sampai akhirnya melakukan tindakan-tindakan kriminal untuk bisa mendapatkannya.

Berbagai problematika yang mulai mendatangi kehidupan mereka sangat rentan sekali menghancurkan kepribadiannya bahkan kebahagiaan dan kehidupannya sekaligus. Dengan kata lain, mereka telah mengalami krisis kehidupan (life crisis) yang salah satunya disebabkan oleh kemudahan yang selalu mereka dapatkan dari adanya ponsel pintar dan kecanggihan teknologi-teknologi lainnya, tidaklah aneh jika mereka tidak memiliki ketangguhan sebagaimana generasi sebelumnya. Tetapi, jika mereka memiliki prinsip dan motivasi hidup yang benar dan kuat, mereka akan mampu menjadi tangguh menghadapi semua problematika kehidupan dunia yang semakin lama semakin pelik, bahkan melebihi ketangguhan generasi sebelumnya.

Secara umum, krisis adalah situasi sistem yang kompleks (baik sistem keluarga, ekonomi, masyarakat) yang mana ketika berfungsi dengan buruk, keputusan segera diambil, namun penyebab hal tersebut tidak segera diidentifikasi.  Fungsi yang buruk tersebut akan dapat ditandai dengan perilaku atau sikap yang tidak seharusnya yang muncul dari subyek yang sedang mengalaminya. Tanpa adanya kesadaran dan pencarian solusi yang tepat serta menjalankannya, maka kondisi tersebut akan menjadi darurat (menuju kehancuran).

Dampak dari terjadinya krisis kehidupan, terutama di kalangan pemuda (generasi Z) sangat besar. Bagaimanapun juga mereka adalah tonggak peradaban, yang akan meneruskan kehidupan suatu bangsa pada masa telah gugurnya generasi sebelumnya. Dalam proses pembangunan, pemuda merupakan pelopor perubahan dimanapun Ia berada dengan perannya sebagai pemberi kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen pembaharuan dari fungsi dan kedudukanya yang srategis dalam pembangunan nasional. Masalah para pemuda harus diperhatikan dengan serius. Mereka membutuhkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan segala permasalahannya terutama bila muncu masalah krisis kehidupan seperti yang disebutkan di atas. Bila para pemuda telah selesai dengan urusan masalah pribadanya, maka mereka akan mampu melakukan hal-hal besar lain yang penting untuk membangun peradaban islami yang adidaya.

Sebuah hal yang mungkin belum disadari oleh mereka, bahwa dalam himpunan hadis-hadis yang telah disusun oleh para ulama terdahulu, banyak sekali petunjuk untuk membangun pemikiran tersebut secara lurus dan benar. Sehingga, disamping kebergantungan para pemuda tersebut kepada gadget, mereka juga seharusnya bergantungan kepada hadis-hadis Rasulullah saw. sebab itu yang akan menjaganya agar dapat hidup dengan benar dan tidak jatuh kepada jalan sesat atau kebinasaan yang sia-sia. Hadis akan menjadi solusi life crisis yang pemuda alami jika mereka benar-benar memahaminya.

Rasulullah saw. diutus ditengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah yang pada saat itu berada dalam kerusakan dan kebodohannya yang tidak kunjung usai. Mereka suka berperang, merampok, mengubur hidup-hidup bayi perempuan, dan menyembah berhala. Dengan segala perjuangan yang Rasulullah saw lakukan dalam dakwahnya mengajak kaumnya untuk mengesakan Allah swt. dan mengamalkan aturan hidup yang diturunkan oleh Allah, beliau berhasil membangkitkan masyarakat arab dan mewujudkan peradaban islam yang gemilang.

Life crisis tidak ubahnya seperti kejahiliyahan pada saat awal Rasulullah saw diutus tersebut. Ketidaktahuan dan keputusasaan yang dilingkupi oleh hawa nafsu dalam dirinya, menjadikan seseorang rela berbuat apapun meski melanggar norma, hak orang lain, maupun hak dirinya. Life crisis yang membuat kehidupan seseorang maupun sekelompok umat berada dalam ambang kehancuran hanya bisa diselamatkan dengan cara dididik dan dinaungi dalam sistem hidup yang menjaga mereka.

Tidak ada sesuatu hal pun yang lebih berhasil untuk mengubah kondisi suatu kaum selain dengan cara mendidiknya mengenai hakikat dirinya dan hakikat kehidupannya. Kondisi kaum yang sedang tersesat, lemah atau di ambang kehancuran bisa diselamatkan dengan menyadarkan mereka tentang apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah swt. di muka bumi ini untuk beribadah kepada-Nya. Maka dari itu, Pendidikan amat penting sebagai solusi atas masalah krisis kehidupan ini pada pemuda.  Rasulullah saw. berhasil mendidik (membina) para sahabatnya. Segala ujian dan cobaan yang beliau hadapi tidak menghalangi untuk berupaya menyelamatkan umatnya dari kejahiliyahannya agar bangkit menuju kehidupan yang hakiki. Rasulullah saw. telah berpesan tepat sebelum wafatnya, sebagaimana yang tercantum dalam hadis berikut:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Artinya: “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

Jika para pemuda didik dengan ajaran-ajaran islam, terutama dalam hal akidah dan syariah, niscaya mereka akan dapat bangkit dari krisis kehidupannya. Sebab Rasulullah saw. telah menyatakan bahwa seseorang tidak akan pernah tersesat (mendapati kehidupan yang buruk dan celaka) selama dia memegang erat ajaran agama dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan memahami al-Quran dan As- sunnah dari Pendidikan yang tepat dan intensif, pemuda akan dapat bepikir secara cemerlang sehingga dapat memutuskan bagaimana ia akan membangun kehidupannya dan menyelesaikan apapun permasalah hidupnya yang datang kepadannya sebagai cobaan atau ujian.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *