Malva Zafirah Putri dan Aufar Khairina Kharmen dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
ABSTRAK
Emosi negatif yang tidak terkendali seperti marah, kecewa, dan cemas dapat berdampak buruk
bagi kesehatan mental dan spiritual seseorang. Agama Islam mengajarkan konsep taubat dan
istighfar sebagai metode untuk mengelola emosi. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan konsep
taubat dan istighfar serta implementasinya dalam mengelola emosi dari perspektif Islam.
Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan ayat Al-Quran dan Hadis terkait topik
bahasan. Hasilnya menunjukkan bahwa taubat dan istighfar memiliki manfaat membersihkan diri
dari dosa, memperbaiki kesalahan, menenangkan hati, dan memperoleh ampunan Allah.
Implementasi rutin taubat dan istighfar mampu mengelola emosi negatif menjadi lebih positif
dan meningkatkan kesejahteraan psikologis seorang Muslim. Kesimpulannya, konsep taubat dan
istighfar efektif diterapkan untuk mengelola emosi berdasarkan tuntunan Islam. Perlu penelitian
lebih lanjut terkait implementasinya dalam konteks konseling dan psikoterapi Islami.
Kata Kunci : Mengelola emosi, taubat, dan istighfar
I. Pendahuluan
Emosi merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar terhadap sikap
manusia yang berasal dari internal maupun eksternal. Bersama dengan dua aspek
lainnya, yakni kognitif (daya pikir) dan konatif (psikomotorik), emosi atau yang
sering disebut aspek afektif, merupakan penentu sikap, salah satu predisposisi
perilaku manusia (Ansori, 2020).
Emosi juga dapat mempengaruhi cara kita dalam berpikir, belajar, mengambil
keputusan, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan untuk
mengelola emosi dengan efektif sangat penting untuk kehidupan saat kita sendiri
maupun saat kita sedang bersama orang lain.
Emosi dipengaruhi oleh dasar biologis dan juga pengalaman masa lalu.
Dalam menggambarkan emosi sering tidak ada keseragaman dalam memberi nama pada
jenis emosi tertentu karena sangat tergantung dari banyak faktor, antara lain: seperti
perilaku yang tampak, rangsangan yang memicu emosi, reaksi fisiologik yang timbul,
watak individu itu sendiri dan situasi sosial budaya setempat menurut (Sarwono, 2012)
dalam (Prasetya & Gunawan, 2018)
Emosi terdiri dari emosi positif dan emosi negative. Emosi positif membuat kita
melakukan hal-hal baik, sedangkan emosi negative memicu kita untuk melakukan hal
negative yang berujung dosa. Perilaku dosa ini justru membuat kita untuk bertaubat
kepada Allah SWT.
Taubat sendiri adalah sesuatu yang memiliki arti yang sangat luas dalam islam
karena taubat menyangkut penataan kembali kehidupan manusia yang sudah berantakan
dan perbaikan kembali mental seseorang yang sudah rusak akibat dosa yang diperbuat.
(Shohib, 2015)
Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an taubat sendiri tersusun dari 4 unsur penting,
yaitu penyesalan, segera menghentikan maksiat, memohon ampunan dari kesalahan
yang diperbuat, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut dimasa
yang akan datang. (Surur, 2018).
Allah juga memerintahkan kita untuk bertaubat melalui firman-Nya pada surat An-
nisa ayat 110 yang berbunyi :
ً
wa may ya’mal suuu-an au yazhlim nafsahuu summa yastaghfirillaaha yajidillaaha
ghofuuror rohiimaa.
“Dan barang siapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon
ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang.”
Salah satu cara kita bertaubat saat melakukan dosa kecil adalah dengan
beristighfar. Dengan mengucapkan “Astagfirullahaladzim” itu berarti kita sudah
memohon ampun kepada Allah SWT.
Astagfirullahaladzim sendiri memiliki arti “Aku memohon ampun kepada Allah yang
Maha Agung”.
Istighfar adalah ucapan permohonan ampun dan reaksi lisan serta hati sebagai
bukti rasa menyesal terhadap kelalaian dan dosa yang dilakukan. Sebagaimana pendapat
Syaikh Ismail Al-Muqaddam makna istighfar dari dimensi psikologi 1) menyesali
kesalahan yang diperbuat dalam menjalankan hak Allah 2) meninggalkan dosa itu pada
waktu yang sama dan meminta hak adami apabila dosa tersebut berkaitan dengan
sesama manusia.
Hasan bin Ahmad Hammam menjelaskan Istighfar adalah kata dasar dari
Istaghfara yastaghfiru. Unsur pokoknya adalah ghafara yang menunjukan kepada
assitru (hal penutup). Dan Ighfiru hadsal amra bi maghfiratihi memiliki arti “tutuplah
ia dengan sesuatu yang wajib yang digunakan untuk menutupnya” (Pasmawati et al., n.d.)
Adapun manfaat istighfar 1)
Mendekatkan Diri kepada Allah: Istighfar membantu meningkatkan hubungan spiritual
antara hamba dan Allah. 2) Pembersihan Diri: Istighfar berperan dalam membersihkan
diri dari dosa-dosa dan kesalahan. 3) Menghindari Azab: Dalam ajaran Islam,
istighfar dapat menjadi penyelamat dari azab Allah. 4) Menyempurnakan Amal: Dengan
istighfar, amal kebaikan dapat menjadi lebih diterima oleh Allah. Melalui istighfar, umat
Muslim diharapkan dapat memperkuat iman, membersihkan diri dari dosa, dan
mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan demikian, kita harus bisa mengelola emosi kita dengan baik untuk
menghasilkan perilaku yang positif. Dan kita juga harus ingat kepada Allah SWT dengan
bertaubat dan istighfar karena bagaimanapun kita sebagai manusia tidak luput dari
kesalahan. Dengan mengelola emosi dengan baik, bertaubat dan beristighfar, diharapkan
kita memiliki ketenangan dalam jiwa dan dapat mengatasi masalah yang terjadi dengan
baik.
I. Emosi dalam Islam
A. Konsep Emosi dan Keseimbangan dalam ajaran agama Islam
Emosi adalah komponen penting dalam kehidupan manusia, dan dalam ajaran
agama Islam, emosi harus dijaga keseimbangannya agar tidak berlebihan yang
dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dalam ajaran agama Islam, ada beberapa konsep untuk menjaga keseimbangan emosi,
yaitu sebagai berikut :
- Mengendalikan Amarah Al-Quran mengajarkan umat-Nya
untuk mengendalikan amarah mereka. Sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an
ِ
allaziina yungfiquuna fis-sarrooo-i wadh- dhorrooo-i wal-kaazhimiinal-ghoizho wal- ‘aafiina ‘anin-naas, wallohu yuhibbul- muhsiniin
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan
Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134).
Nabi Muhammad SAW. juga bersabda :
“Bukanlah orang yang kuat itu karena kekuatannya dalam berkelahi, akan tetapi
orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya.” (H.R. Bukhari dan
Muslim).
- Tidak Berlebihan dalam Bersedih atau Bergembira
Allah SWT. juga berfirman pada Q.S Al- Hadid yang berbunyi :
likai laa ta-sau ‘alaa maa faatakum wa laa tafrohuu bimaaa aataakum, wallohu laa
yuhibbu kulla mukhtaaling fakhuur “Agar kamu tidak bersedih hati
terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan
membanggakan diri,”
Ayat tersebut menjelaskan agar umat Islam tidak berlebihan baik dalam bersedih
maupun bergembira.
- Menghindari Rasa Dengki dan Benci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang umatnya untuk membenci dan dengki satu sama lain, karena ini dapat
menghentikan silaturahmi. “Janganlah kamusaling membenci, saling mendengki, dan
berpaling. Jadilah hamba Allah yang bersaudara,” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Umat Islam diharapkan dapat menjalani kehidupan yang harmonis dengan
menjaga keseimbangan emosi seperti yang diajarkan Al-Quran dan Hadis.
II. Taubat untuk Pemurnian Emosi
A. Hubungan taubat dengan pengelolaan emosi
Manajemen emosi bisa diartikan sebagai pengelolaan, pengendalian, atau
pengaturan suatu keadaan perasaan yang kompleks. Ini sesuai dengan kamus Psikologi
Emosional Control, yaitu usaha untuk mengatur atau menguasai emosi sendiri atau
orang lain. (Sofyan, 2017)
Taubat dan pengelolaan emosi merupakan konsep yang bisa saling
berhubungan, terutama dalam konteks spiritual dan psikologis. Beberapa cara
bagaimana taubat bisa berpengaruh pada pengelolaan emosi seseorang:
- Pembebasan dari Beban Hati Taubat sering melibatkan pengakuan dosa
serta niat untuk memperbaiki diri. Ini bisa memberikan rasa pembebasan dan
mengurangi beban yang disebabkan oleh rasa bersalah dan penyesalan. - Ketenangan Pikiran Seseorang yang melakukan taubat akan merasa lebih
damai, karena mereka yakin bahwa mereka telah meminta maaf kepada Tuhan serta
berjanji untuk berubah menjadi lebih baik. - Penerimaan Diri Ini dapat membantu seseorang untuk menerima dirinya
sendiri dengan lebih baik, mengurangi perasaan malu dan kekhawatiran yang
mungkin terkait dengan kesalahan di masa lalu. - Pengendalian Diri Taubat melibatkan komitmen untuk menghindari
perbuatan dosa. Ini membutuhkan kemampuan pengendalian diri yang kuat
untuk membantu dalam mengelola emosi negatif, seperti amarah. - Peningkatan Kesejahteraan Emosional Seiring dengan perbaikan perilaku
dan spiritualitas, banyak orang yang mengalami proses taubat melaporkan
peningkatan kesejahteraan emosional. Mereka mungkin merasa lebih Bahagia dan
damai.
B. Contoh implementasi taubat sehari-hari Taubat dalam kehidupan sehari-hari
merupakan konsep penting dalam Islam.
Beberapa contoh implementasi taubat sehari- hari antara lain. 1) Mengakui kesalahan dan memohon maaf. 2) Menyesali kesalahan. 3) Berkomitmen untuk tidak mengulangi
kesalahan. 4) Meningkatkan diri dalam berbagai aspek kehidupan. 5) Menghindari
hal-hal yang negatif.
Selain itu, taubat juga melibatkan perbaikan hubungan deengan Allah dan
sesame dan meningkatkan kualitas hidup. Implementasi taubat sehari-hari membantu
seseorang agar menjadi lebih baik sebagai makhluk dan mendekatkan diri kepada Allah.
III. Istighfar: Pengendalian Diri
A. Manfaat istighfar dalam stabilitas emosi Istighfar merupakan suatu permintaan
ampun atau memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang telah
diperbuat, mau secara sengaja ataupun tidak. Istighfar dilakukan dengan mengucapkan
“Astagfirullah” yang artinya “Saya memohon ampun kepada Allah”. Dan istighfar juga
memiliki manfaat lain, selain untuk mendapatkan ampunan dosa, istighfar juga
bermanfaat untuk mengontrol emosi pada seseorang.
Sebagian penelitian juga menunjukkan bahwa istighfar dapat
membantu mengontrol/menstabilitaskan emosi dan mengurangi kecemasan. Seperti
dalam penelitian yang dilakukan (Wahdan, 2022) diberitahukan bahwa istighfar terbukti
menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil. Penelitian lain juga dilakukan oleh
(Hudaya, 2021) menemukan bahwa istighfar efektif menurunkan kecemasan para
mahasiswa dalam menghadapi ujian.
Lalu bagaimana hal itu dapat terjadi?
Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Hud ayat 3 yang berbunyi :
ِ
wa anistaghfiruu robbakum summa tuubuuu ilaihi yumatti’kum mataa’an hasanan ilaaa ajalim musammawwa yu-ti kulla zii fadhling fadhlah, wa ing tawallau fa inniii
akhoofu ‘alaikum ‘azaaba yauming kabiir “dan hendaklah kamu memohon
ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi
kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan
memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu
berpaling, maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar
(Kiamat).”
Jika dilihat dari ayat tersebut, Allah SWT akan memberikan kenikmatan yang baik kepada hamba-Nya jika para hamba- Nya ingat kepadanya dengan memohon ampunan.
B. Praktik istighfar untuk pengelolaan emosi
Barangsiapa yang memohon ampun kepada Allah dua putuh tujuh kali untuk
kaum mukmin, maka ia akan dimasukkan kedalam golongan mereka yang do’a-doanya dikabulkan, dan karena mereka ini orang- orang hidup dimuka bumi ini beroleh rizki.
Menurut riwayat yang diterima Imam Bukhori melalui Sahabat Abu Hurairah,
Rasulullah SAW tidak kurang dari 70 kali beristighfar kepada Allah dalam sehari
semalam. (Faizah, 2018) Terapi istighfar merupakan salah satu
metode dalam konseling Islam yang digunakan untuk membantu individu
mengelola emosi dan meningkatkan kecerdasan emosi. Istighfar melibatkan
pemahaman terhadap dzikir, merupakan salah satu langkah untuk mengendalikan
emosi.
Berapa poin penting terkait terapi istighfar dan pengelolaan emosi:
Emosi: Emosi adalah perasaan dan pikiran yang berbagai macam, seperti marah,
takut, cinta, benci, cemburu, dan lain sebagainya. Pengendalian emosi sangat
penting dalam kehidupan manusia.
Terapi Istighfar: Terapi istighfar melibatkan pemahaman terhadap dzikir,
yang merupakan salah satu langkah dalam mengendalikan emosi. Hal ini sejalan dengan
adanya penerapan dzikir pagi petang.
Pengalaman Konseling: Dalam proses terapi istighfar, ini dapat membantu
mengelola emosi dengan stabil, memahami bahwa setiap manusia memiliki kelemahan
dan kelebihan, lebih percaya diri, menghargai orang lain, tidak mudah putus
asa, bersikap terbuka pada keadaan, dan menghargai orang lain
Jadi, terapi istighfar merupakan salah satu metode yang digunakan dalam
konseling Islam untuk membantu seseorang mengelola emosi dan meningkatkan
kecerdasan emosi. Penggunaan metode ini dapat membantu individu mengatasi masalah
emosi.
IV. Kiat Pengelolaan Emosi
A. Langkah praktis mengintegrasikan taubat dan istighfar
Istighfar merupakan salah satu cara untuk memperoleh ampunan dari Allah SWT
atas semua kesalahan-kesalahan atau dosa yang diperbuat. Apabila dosa dapat
menyebabkan kerugian dan musibah, maka istighfar dapat memberikan banyak manfaat.
Manfaat di dunia maupun di akhirat dapat diraih dengan ridho Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya yang memohon ampunan Allah SWT. (Aini Nur, 2022)
Mengintegrasikan taubat dan istigfaar merupakan langkah praktis untuk
meningkatkan kualitas spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berikut ini beberapa langkah praktis untuk membantu umat Islam memasukkan taubat
dan istigfar ke dalam kehidupan sehari-hari :
- Refleksi diri, untuk merenungkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
- Niat suci, niatkan diri kita untuk bertaubat kepada Allah SWT.
- Taubat dan Istighfar rutin, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengingat Allah SWT
dengan beristighfar. - Mengenal Allah, mengenal sifat dan nama- nama Allah SWT.
- Shalat dan Dzikir
- Menghentikan Perilaku Buruk
- Meminta pertolongan Allah SWT pada segala situasi.
- Memperbaiki Hubungan Sosial
- Zakat dan Sadaqah, bersedekah dan membayar zakat sebagai bentuk pembersihan
harta.
V. Kesimpulan
Mengelola emosi melalui konsep taubat dan istighfar dalam Islam dapat
menjadi langkah efektif untuk mencapai keseimbangan mental dan spiritual.
Dengan merenungkan tindakan, memohon ampun, dan menguatkan
hubungan dengan Tuhan, seseorang dapat menemukan ketenangan batin dan
menjaga kesehatan emosionalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aini Nur. (2022). ISTIGHFAR SEBAGAI SOLUSI MENGATASI KRISIS AIR (Studi Analitis Tafsir Surat Nuh Ayat
10-12). http://digilib.uinsby.ac.id/http://digilib.uinsby.ac.id/http://digilib.uinsby.ac.id/
Faizah, N. (2018). Terapi Istighfar untuk Mengatasi Seorang Remaja yang Suka Marah kepada Orang Tua
di Kelurahan Morokrembangan Surabaya. 1–99.
Hudaya, A. N. dan Nurhamilah. (2021). Efektivitas Istighfar untuk Menurunkan Kecemasan Menghadapi
Ujian pada Mahasiswa. Jurnal Hisbah , 51–62.
Pasmawati, H., Bki, D. P., & Bengkulu, I. (n.d.). Keajaiban Istighfar Dan Sedekah (Sebagai Alternatif
Terapi Islami Untuk Mendapatkan Keturunan).
Shohib, M. (2015). Taubat Sebagai Metode Dasar Psikoterapi.
Sofyan, A. (2017). MANAJEMEN EMOSI DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN SURAT YŪSUF).
Wahdan, et al. (2022). Pengaruh Istighfar terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan pada Ibu Hamil
Primigravida Trimester III. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 262–269.

No responses yet