Categories:

Oleh: Kamila Hayyuni mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, fakultas Psikologi. 

Pernikahan adalah cara menyatukan dua manusia yang saling mencintai ke dalam suatu ikatan yang sah. Selain itu, tujuan pernikahan tentu untuk menyempurnakan agama, menjalankan sunnah Rasulullah SAW., dan membangun keluarga Sakinah mawaddah warrahmah serta memiliki keturunan. Kata sakinah berasal dari  kata sakana yang berarti ketenangan atau ketenangan setelah kekacauan (Indra, 2005: 79), dan menurut Farisi (2008: 39), kata sakinah berasal dari kata ini berarti mulia, aman, dan penuh kasih. Oleh karena itu, keluarga sakinah berarti keluarga yang aman, tentram, dan berhasil menyelesaikan permasalahan yang muncul.

Memiliki keluarga sakinah adalah impian semua pasangan yang sudah menikah, tetapi untuk mewujudkan keluarga yang sakinah tidaklah mudah. Terdapat banyak sekali rintangan pada saat berumah tangga, hal itu yang biasanya menghambat terwujudnya keluarga sakinah. Sebuah keluarga dapat mewujudkan keluarga sakinah tidak berdasarkan banyak tidaknya harta yang dimiliki. Begitupun dengan memiliki pasangan yang berparas menawan tidak untuk mengukur sakinah atau tidak sebuah keluarga. Untuk itu, keluarga sakinah meliputi beberapa unsur yang harus terpenuhi, diantaranya adalah keharmonisan, religiusitas, bentuk ketaatan kepada Allah dan kelestarian perkawinannya.

Saat ini, sedang marak para generasi milenial memilih untuk menikah muda dengan alasan agar terjauh dari zina. Tetapi, trend nikah muda pada generasi milenial tidak bisa hanya sekedar ikut-ikutan semata, butuh bekal dan mental yang harus disiapkan agar nantinya tidak terjadi perceraian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan dan perceraian di Indonesia dari tahun 2015 hingga 2017 mengalami peningkatan. Sebagian besar penyebab perceraian karena sering terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang memprihatinkan bagi bangsa.

Kesadaran adalah upaya untuk mengembangkan komunikasi antar anggota keluarga dan memungkinkan mereka berbagi persepsi. Kesadaran juga membantu kita memahami hubungan yang terjadi dalam keluarga. Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan suatu keluarga sangat bergantung pada kualitas anggotanya dari sudut pandang kesadaran. Oleh karena itu, generasi milenial perlu mengembangkan dan memiliki strategi untuk membangun keluarga yang mereka inginkan, keluarga yang berlandaskan ketaqwaan dan keimanan kepada  Allah SWT. tentunya, dan keluarga sakinah.

Lalu strategi apa yang harus dilakukan  generasi milenial untuk membangun keluarga sakinah? Yang pertama adalah memilih calon pasangan. Dalam hal ini tentu setiap orang  ingin mempunyai pasangan yang baik, sehingga jalan menuju ke sana harus dilakukan dengan cara  yang baik, misalnya melalui ta’aruf bersama orang tua dan anggota keluarga, bukan cara yang tidak diridhai Allah, seperti  maksiat atau pacaran.

Kedua, berdoa dan berusaha. Jika ingin mencari jodoh yang shaleh/salih tentunya  harus berusaha dan bekerja keras. Jika sudah selesai dengan usahamu, jangan lupa tambahkan doa. Sisanya tinggal bertawakkal dan menyerahkan semua kepada Allah SWT.

Ketiga, memantaskan dan memperbaiki diri. Banyak dari kita yang lupa bahwa kita menginginkan pasangan yang hebat, namun tidak berusaha memperbaiki diri, masih malas dan ceroboh, tidak berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Dan yang terakhir, perluas ilmu, dewasakan emosinya, dan sucikan keimanannya. Tentu saja banyak ilmu yang bisa didapat dengan banyak belajar. Hal ini sangat penting bagi generasi milenial yang akan menikah, tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi  juga membantu mereka memperluas wawasan tentang mengasuh anak. Biarkan emosi mencair, kesampingkan ego dan terima kekurangan pasangan sebagai  proses perbaikan. Dan yang terakhir, sucikan imanmu. Suami/istri dan anak-anak hanya sekedar diserahi tanggung jawab pengasuhannya, dan kedepannya setiap orang yang dipercayakan kepada mereka akan dimintai pertanggungjawaban, oleh karena itu kita harus benar-benar menghargai keluarga kita.

Seiring berjalannya waktu, dampak stres hidup terhadap kehidupan sehari-hari pun semakin meningkat. Perkembangan teknologi, termasuk teknologi informasi, membawa banyak perubahan pada  gaya hidup dan kebiasaan masyarakat. Di  era  teknologi ini, setiap orang mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan dirinya di media sosial.

Pada dasarnya, teknologi memudahkan  dalam menjalin silaturahmi dan berkomunikasi satu  sama lain, termasuk antar anggota keluarga. Oleh karena itu, pengembangan teknologi  dalam keluarga juga  membantu pasangan menjalin komunikasi satu sama lain. Namun, banyak perkembangan teknologi, khususnya media sosial, yang disalahgunakan, misalnya untuk menghasut atau menyebarkan informasi negatif mengenai rumah tangga tertentu. Oleh karena itu, membangun rumah tangga saat ini merupakan tantangan bagi umat islam untuk membangun keluarga yang sakinah. Hal ini juga menguji sejauh mana kemampuan  seseorang dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik dan  mengikuti ajaran Islam.

Keberadaan media komunikasi dan informasi  tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan  tidak dapat dihindari, serta setiap orang harus memahami dampak negatif dan positifnya. Memanfaatkan secara tepat, bijaksana dan  kritis (pemberdayaan) agar  masyarakat dapat meningkatkan kemampuannya dan memperoleh kesempatan hidup yang  lebih baik selaras dengan khazanah peradaban manusia.

Di masa seperti sekarang ini, tidak hanya teknologi yang digalakkan, tetapi juga perkembangan ilmu  pengetahuan yang memberikan dampak yang sangat pesat bagi masyarakat. Masyarakat mengacu pada sektor perekonomian pada umumnya dan perekonomian keluarga pada khususnya. Masyarakat telah mempengaruhi konsep keluarga bahagia (sakinah), dan untuk dapat bertahan dalam setiap perubahan yang terjadi di masyarakat, perekonomian dan kualitas pendidikan setiap keluarga harus diperhatikan.

Oleh karena itu, keluarga sakinah bukan sekedar keluarga yang taat beragama. Daya saing di bidang ekonomi dan pendidikan turut menentukan tingkat sakinah.  Agar kita tidak  meninggalkan generasi yang lemah dan tidak berdaya saing ini harus ditunjang dengan kemampuan keluarga dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar generasi milenial mampu berdaya saing tinggi di bidang perekonomian, dan pendidikan  juga menentukan jenjang sakinah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *