Azzahra Nabila Putri, Ibnu Rivan Saputra
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Jl. Limau II No.3, RT.3/RW.3, Kramat Pela, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
azzahranabila01022@gmail.com rivansaputraibnu@gmail.com
- PENDAHULUAN
Stres merupakan realitas kehidupan modern yang tidak dapat dihindari dan mempengaruhi kesehatan mental dan fisik seseorang. Dari sudut pandang psikologis, stres diartikan sebagai respons tubuh terhadap tekanan atau tantangan yang melebihi kemampuan adaptasi seseorang. Di sisi lain, Islam sebagai sistem pandangan dunia memberikan pemahaman yang mendalam tentang cara menghadapi stres dan tekanan.
Setiap orang pernah mengalami situasi yang tidak menyenangkan dalam kehidupan sehari-harinya. Situasi ini mungkin merupakan kegagalan atau ketidaksesuaian antara kenyataan dan harapan kita. Situasi ini merupakan kejadian yang tidak biasa, dan orang tersebut mungkin merasa kesulitan atau tidak mampu mengatasinya. Stres dapat mengganggu proses berpikir, mempengaruhi kemampuan berkonsentrasi, dan mempersulit pengambilan keputusan. Dampak stres meliputi efek subjektif (kelelahan, penurunan harga diri), efek perilaku (penurunan nafsu makan, kecemasan), efek fisiologis (peningkatan tekanan darah, kesulitan bernapas), dan efek kognitif (kesulitan). Dalam situasi stres, kemampuan berpikir individu, terutama konsentrasi, kemampuan memahami situasi, mengambil keputusan dan mencari solusi berubah. Sebab, emosi lebih dominan dan peran akal dalam menghadapi permasalahan dibayang-bayangi.
Dalam pemikiran Islam, konsep “sabar” atau kesabaran dihadirkan sebagai kunci dalam mengelola stres. Al-Quran memberikan petunjuk tentang pentingnya kesabaran ketika menghadapi tantangan hidup. Pemahaman ini tidak hanya menekankan aspek psikologis tetapi juga menjadi landasan ketenangan batin melalui kepasrahan kepada Allah SWT. Dalam konteks pemikiran Islam, konsep “tawakkal” atau ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Ini juga merupakan dasar untuk mengatasi ketidakpastian dan tekanan hidup. Percayalah pada takdir dan hikmah Allah SWT. Hal ini dapat membawa kedamaian bahkan di tengah kesulitan. Selain itu, amalan ibadah seperti shalat, dzikir, dan pembacaan Al-Qur’an dianggap sebagai sarana spiritual untuk mengurangi tekanan psikologis. Dengan menggabungkan perspektif psikologis dan ajaran Islam, individu dapat mengembangkan strategi holistikuntuk meneglola stres, memperkuat ketahanan psikologis, dan mencapai keseimbangan antara kehidupan ini dan akhirat.
Ketika seseorang mengalami stres, ia akan mengalami emosi negatif, mulai dari yang ringan hingga yang berat, seperti ketakutan, kesedihan, dan kemarahan. Al-qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 10 menggambarkan penyakit hati yang menjadi gangguan psikologis manusia. Dalam artinya berbuyi “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta”.
Masalah stres merupakan salah satu bidang penelitian yang terpenting di bidang Kesehatan mental dan terus dipelajari oleh para penelitian dan ilmuwan. Stres merupakan krisis Kesehatan yang berhubungan dengan berbagai penyakit seperti penyakit kardiovaskular, kecemasan, dan depresi.
Menurut sebuah penelitian, sekitar separuh orang amerika pernah mengalami peristiwa stres. Banyak di antara mereka yang mengalami reaksi perilaku terkait stres. Stres umumnya mengacu pada stres negative (rasa sakit) dalam percakapan sehari-hari.
- PEMBAHASAN
PENGERTIAN STRES
Stres sendiri banyak didefinisikan berbeda oleh setiap individu. Para ahli psikologi juga mendefinisikan stres dengan berbagai bentuk. Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan stres psikologis sebagai seseorang atau lingkungan yang dinilai sebagai stres orang tersebut atau yang secara signifikan di luar kemampuan orang tersebut dan membahayakan kesejahteraan orang tersebut. Hal ini juga sejalan dengan pengertian yang dipaparkan oleh Lukaningsih dan Bandiyah (2011) stres merupakan istilah yang menggambarkan tuntutan seseorang untuk beradaptasi atau reaksi seseorang terhadap tuntutan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu kondisi manusia akibat ketidakmampuan mengatasi permasalahan yang dihadapi dan dapat mempengaruhi fungsi biologis, psikologis, dan sosial seseorang.
Menurut safarino dan timothy (2012) stres adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak cocok secara fisik dan psikologis terhadap suatu situasi, dan penyebabnya terletak pada biologi dan sistem sosial. Stres adalah gejala atau kondisi yang diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang yang menderota stres untuk mengatasi pemicu stres yang nyata dan tidak nyata antara situasi dan sumber daya biologis, psikologis, dan sosial yang ada pada diri orang tersebut.
Stres merupakan suatu permasalahan yang tidak dapat dipisahkan karena pada dasarnya setiap orang dari berbagai lapisan masyarakat dapat mengalami stres. Namun, tingkat stres setiap orang tidaklah sama (Amin & Al-Fandi, 2007).
Umumnya orang yang menderita stres tidak memiliki keterampilan untuk mengatasi stres, sehingga stres memberikan dampak negatif pada dirinya. Tanpa memilih strategi pencegahan yang tepat, stres dapat menimbulkan dampak negatif pada seseorang, gangguan kesehatan jasmani atau hilangnya kesejahteraan diri akibat gangguan jiwa yang disebut gangguan psikosomatis. Oleh karena itu, penting untuk memahami gejala awal stres dan segera mengambil tindakan yang tepat untuk menghindari dampak negatif jangka panjang.
GEJALA STRES
Stres dapat dibagi menjadi stres akut dan stres kronis. Stres akut terjadi dalam waktu singkat sehingga lebih mudah dikendalikan. Sebaliknya, stres kronis berlangsung dalam waktu lama dan dapat menyebabkan masalah kesehatan jika tidak ditangani.
Gejala umum stress dirasakan berbeda-beda tergantung orang yang mengalami stress. Beberapa orang mengalami banyak gejala, sementara yang lain hanya mengalami sedikit gejala. Gejala yang dialami tergantung pada persepsi dan reaksi individu terhadap stressor serta kemampuan individu dalam mengatasi stressor tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penanggulangan dengan baik dan memilih strategi coping yang tepat untuk menghindari akibat yang lebih buruk bagi individu.
Stres ditandai dengan perubahan fisik dan mental. Gejala yang muncul ketika seseorang mengalami stres bergantung pada bagaimana orang tersebut merespons stres. Gejala-gejala ketika stress, yaitu gejala fisiologis, gejala emosi. Dan gejala kognitif.
Gejala fisiologis ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi dan sistem pernapasan.
Gejala emosi bisa dilihat dari perilakunya yang mudah gusar, frustasi, suasana hati yang mudah berubah, bingung dan cenderung menghindari orang lain.
Gejala kognitif selain dari ciri fisik, stress juga dapat menyebabkan perubahan kognitif pada seseorang. Kondisi ini menyebabkan seseorang menjadi pelupa, sulit berkonsentrasi, terus menerus berpikir negative, pesimis, dan sering mengambil keputusan yang buruk.
TEKNIK MENGELOLA STRES
Seseorang yang mengalami stres negatif atau harus mampu mengelola stres tersebut agar tidak berdampak negative terhadap kinerja dan kesehatan. Menurut Selye (1952), stres dapat menyebabkan gangguan yang membahayakan hidup seseorang kecuali jika memiliki respon adaptif yang memadai. Kemampuan beradaptasi, berfungsi dan aktifnya elemen-elemen jiwa dalam diri merupakan syarat utama untuk tetap bertahan hidup bersama stres. Terdapat dua cara untuk mengelola stres, yaitu dari segi psikologis dan pendekatan Islam.
Perspektif Psikologis
Dalam perspektif psikologi ada beberapa cara teknik mengelola stres. Dengan memahami teknik mengelola stres psikologi yang efektif dapat mengurangi dampak dan meningkatkan kualitas hidup. Berikut beberapa teknik mengelola stres menurut perpektif psikologis:
- Manajemen Waktu
Ika Sandra (2012) mengartikan manajemen waktu sebagai kemampuan
merencanakan, mengorganisasikan, memperketat jadwal, mengontrol penggunaan
waktu, membuat prioritas, dan pelaksanaan suatu tanggung jawab individu demi
pencapaian tujuan yang ditetapkan. Thomack (2012) menawarkan cara mengelola waktu dengan menetapkan tujuan, mengembangkan rencana, dan mengukur tingkat pencapaiannya.
Memanajemen waktu yang efektif juga dapat mengurangi stres. Seperti membuat jadwal, memiliki prioritas kegiatan, dan dapat memanfaat waktu. Seseorang yang melakukan manajemen waktu dapat membantu menyelesaikan sesuatu kegiatan sesuai deadline.
- Meditasi / Relaksasi
Melakukan meditasi atau relaksasi dapat membantu menenangkan pikiran dan menjadi lebih rileks. Hal tersebut menghilangkan kecemasan kita terhadap masalah yang sedang dihadapi. Meditasi juga sering digunakan oleh terapis untuk menangani gangguan psikologis. Manzoni, et al., (2008) mengemukakan bahwa praktek relaksasi yang dilakukan orang bervariasi, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu menghasilkan dampak untuk menghilangkan gejala stres yang ditandai dengan melambatnya pernafasan, menurunnya tensi darah, konsumsi oksigen berkurang, dan munculnya ketenangan jiwa.
Hussain dan Bhushan (2010) menyimpulkan bahwa teknik meditasi kesadaran efektif dalam mengurangi stres yang dirasakan oleh remaja. Sari (2018) yang menemukan bahwa meditasi efektif menurunkan tingkat stres atau meningkatkan ambang stres individu sehingga membuatnya lebih toleran terhadap stres.
- Berpikir Positif
Kemampuan untuk selalu memusatkan pikiran positif terhadap diri sendiri, orang lain atau situasi sangat penting dalam psikologis. Aktivitas berpikir secara positif dapat membangun dan membangkitkan aspek positif yang ada pada diri sendiri, sehingga memunculkan perasaan, perilaku atau hal baik lainnya.
Pemikiran Islam
Seorang muslim yang mengamalkan ajaran islam dengan baik memilki ketetangan jiwa yang tinggi dan tidak rentan terhadap stres karena seluruh pengajaran islam memiliki peningkatan jiwa bagi yang mengamalkannya. Islam mengajarkan beberapa teknik mengelola stres yaitu sholat, zikir dan bersyukur kepada Allah SWT.
- Sholat
Sholat dapat mengurangi stres dan memiliki banyak manfaat dan menjadi media untuk menyegarkan otak manusia. Orang yang rajin menunaikan sholat dan menjaga kekhusukan sholatnya sama halnya dengan ia menjaga kesehatan otaknya.
“Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS. Al-Baqarah:45)
- Dzikir
Dzikir merupakan salah satu cara untuk menenangkan pikiran dan jiwa. Ketika seseorang berdzikir, mereka fokus pada kalimat dzikir yang diucapkannya untuk mengurangi rasa cemas dan stres yang dirasakannya. Dalam Al-Quran juga dijelaskan untuk kita selalu mengingat Allah SWT.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad:28)
- Bersyukur
Bersyukur menjadi salah satu cara untuk kita menikmati segala pemberian dari Allah SWT. Syukur juga dianggap sebagai kunci kebhagiaan dan kesuksesan dalam hidup. Dengan selalu mensyukuri hal-hal kecil yang kita punya dapat memperoleh kebahagiaan dan kepuaasan yang mendalam. Kadang awal dari stres karena kurangnya mensyukuri apa yang kita miliki dan selalu iri terhadap orang lain miliki.
PENUTUP
Kesimpulan Mengelola Stres dari Segi Psikologis dan Pemikiran Islam dalam mengelola stres, integrasi antara pendekatan psikologis dan pemikiran Islam membentuk suatu kerangka yang holistik dan komprehensif. Dengan memadukan aspek-aspek praktis dari ilmu psikologi dengan nilai-nilai spiritual Islam, individu dapat mencapai keseimbangan dan ketenangan dalam menghadapi tantangan hidup. Pentingnya menyatukan aspek-aspek psikologis dan spiritual dalam mengelola stres. Melalui pendekatan ini, individu dapat mengembangkan ketahanan mental dan spiritual yang kuat, memberikan dasar untuk menjalani kehidupan dengan keberanian, kedamaian, dan harapan yang kokoh.
DAFTAR PUSTAKA
Yuwono, S. (2010). Mengelola stres dalam perspektif islam dan psikologi. Psycho Idea, 8(2).
Bunyamin, A. (2021). Mengelola Stres dengan Pendekatan Islami dan Psikologis. Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan, 5(1), 145-159.

No responses yet