1.Latifah Aini Yusuf 2.Maymunah
(2308015282) (2308015098)
Abstrak
Psikologi Islam sebenarnya telah dimulai sejak Islama ada, sejak. jaman Nabi
Muhammad SAW masih hidup. Namun pada perkembangannya kajian mengenai jiwa
(nafs) terpecah menjadi dua kelompok utama:
a.kelompok pertama: periode ini berlangsung dari zaman kenabian hingga Daulah
Umayyah, mereka adalah generasi ulama awal yang membahas jiwa (nafs) semata-
semata bersumber dari Al-Qur’an dan hadist. Selanjutnya kajian kelompok ini
berkembang menjadi Ilmu kalam dan tasauf. Salah seorang tokoh yang terkenal dari
kelompok ini adalah Imam Ghazali.
b.Kelompok kedua muncul pada periode kekuasan Daulah Abbasyyiah, mereka
melakukan gerakan penterjemahan, mengomentari, memperkaya filsafat Yunani. Selain
Al-Qur’an dan Hadhist, kelompok ini juga memanfaatkan filsafat yunani yang telah
direvitalisasi sebagai landasan mengkaji jiwa salah seorang tokoh yang mewakili mereka
adalah adalah Ibnu Rusyd. Selanjutnya kajian mereka berkembang menjadi filsafat
Islam.Jadi, dalam kurun waktu kurang lebih 7 (tujuh) abad, dalam dunia Islam, jiwa dibahas
dalam kajian yang bersifat sufistik dan filosofis. Setelah dunia Islam meredup dan
digantikan oleh dominannya budaya sekuler barat, kajian jiwa secara Islamipun
mengalami kemunduruan, sementara itu kajian psikologi kontemporer berkembang pesat
hingga sekarang.
Kata Kunci: keseimbangan jiwa dan akal, Psikologi Islam
Pendahuluan
Psikologi Islam merupakan cabang ilmu psikologi yang mengintegrasikan prinsip-prinsip
Islam dalam pemahaman terhadap kehidupan mental dan emosional manusia. Dalam
kerangka ini, psikologi tidak hanya dipandang sebagai studi tentang pikiran dan perilaku,
tetapi juga sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan jiwa dan akal sejalan dengan
ajaran Islam.
Berawal sejak tahun 1950-an di Amerika muncul gerakan Psikologi Islam. Gerakan
ini muncul karena dorongan adanya tuntutan nyata untuk mengatasi krisis yang dihadapi
umat manusia. Gerakan ini terus berlanjut dan psikologi Islam terus mendapatkan
perhatian hingga pada tahun 1978 diadakan Symposium on Pshichology and Islamdi
Riyadh, Arab Saudi. Bahkan, the International Institute of Islamic Thought(ITT), yang
merupakan sebuah lembaga kajian yang berpusat di Washington Amerika yang
mengkhususkan diri dalam Islamisasi ilmu, dalam konfrensinya di Pakistan pada
tahun 1985 secara khusus merekomendasikan untuk menggali gagasan-gagasan
psikologi yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Di Indonesia, perhatian pada psikologi Islam juga dapat ditandai dengan terbitnya
jurnal Pemikiran Psikologi Islam KALAM di Universitas Gajah Mada, Simposium
Nasional Psikologi Islami di Universitas Muhammadiyah Surakarta (1996).
Diterbitkannya sejumlah buku yang bernuansa psikologi Islam serta dilakukan dan
dilaporkannya beberapa penelitian bertema psikologi Islam. Dibukanya fakultas dan
jurusan psikologi di lingkungan IAIN dan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta.
Metode
Sebagaimana perbedaan pengkajian jiwa dimasa kejayaan Islam Seperti telah diterangkan
diatas, dalam membangun Psikologi Islam pun sikap para pengembang terhadap
pengembangan Psikologi Islam terpecah menjadi dua kelompok besar yaitu:
- Kelompok yang berusaha mengangkat pesan besar Allah kedalam pemikiran psikologi,
dalam artian bahwa mereka bercita-cita untuk membangun Psikologi Islam benar-benar dari
Al-Qur’an dan Hadist maupun penafsiran ulama tentang kedua sumber tersebut.
Mereka memiliki alasan yang kuat, menurut mereka tidak ada satupun persoalan yang
terlepas dari ajaran Islam, jadi semua urusan dan persoalan haruslah berpulang kepada dua
pusaka yang dipertaruhkan
oleh Rasulullah SAW yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. - Kelompok yang menghendaki keterbukaan terhadap pandangan hidup dan kehidupan
non-muslim. Kelompok ini berusaha untuk mengadopsi konsep-konsep psikologi non-islami
ke dalam pemikiran Psikologi Islam. Kelompok ini juga memiliki alasan yang kuat untuk
pendiriannya, menurut mereka, bahkan Rasulullah SAW pun berkata bahwa: “Hikmah (ilmu,
pemahaman, kebijaksanaan) itu merupakan barang yang hilang, jika ditemukan darimana
saja
datangnya maka ia berhak memilikinya”. Mereka melandaskan legalitas pendekatan
pengadopsian pemikiran psikologi non-islami, dengan catatan bahwa pemikiran yang
diadopsi tersebut mengandung kebenaran.
Kesimpulan
Masalah pembuktian keberadaan jiwa oleh ilmuwan modern tidak akan pernah
bisa
ditemukan, mereka dalam kegiatan penelitiaannya tidak berlandaskan agama.
Berbeda dengan ilmuwan muslim dengan cara pandang islam mereka dapat
membuktikannya dan berlandaskan agama yang mengacu kepada para filsuf muslim
yang telah membahas akan keberadaan jiwa dengan konsep-konsepnya secara detail,
salah satunya Ibnu Sina.Menurutnya jiwa adalah roh kesempurnaan awal dan menjadikan
manusia nyata. Hakikat dan keberadaan jiwa berbeda dengan Aristoteles yang
menganggap itu shurah menyatu dengan badan yang akhirnya akan hancur. Selain itu,
esensi jiwa berbeda denga badan dan wujudnya tak berbentuk.Dalam kekekalannya,
Ibnu sian meyakini bahwa jiwa akan tetap ada (kekal) setelah badan hancur. Kemudian
jiwa akan mengalami kebahagiaan dan kesengsaraan di hari sesuai dengan
penggunaan nya seperti Iman, Ilmu dan Amal dalam kehidupan sehari-hari
Referensi
Bastaman, HD. 1995. Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hartati dkk. 2004, Islam dan Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Mujib, A & Mudzakir, J. 2002, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Mubarok, A. 2002. Psikologi Dakwah. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus.
Sardar, Z. 1989. Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim. Bandung: Mizan
Jurnal.radenfatah.ac.id
Husn Al-Zhann: Konsep Berpikir Positif dalam Perspektif Psikologi Islam
dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Mental
Proyeksi, Vol. 7 (1) 2012, 1-31

No responses yet