Oleh: ADINDA SALMA SAYYIDINA
Salah satu fenomena yang semakin marak terjadi akhir-akhir ini di Indonesia adalah
kasus perceraian. angka perceraian yang terjadi di Indonesia cukup mengalami peningkatan
yang signifikan dari tahun ke tahun, baik itu kasus perceraian secara talak maupun perceraian
secara gugatan. Meningkatnya jumlah kasus perceraian pasti akan memengaruhi psikologis
anak.
Pernikahan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, dimana
seorang pria dan wanita hidup bersama, dengan tujuan untuk membangun keluarga (rumah
tangga) yang bahagia dan kekal, dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Dengan harapan
dapat membangun keluarga bahagia dan sejahtera yang Sakinah, Mawwadah dan Warahmah
guna menghasilkan generasi manusia yang baik yang diridhoi Allah SWT. Menurut Zakiah
Darajat, pernikahan adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin
antara laki laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaann hidup berkeluarga
yang diliputi rasa ketentraman serta kasih saying dengan cara diridhai oleh ALLAH SWT.
Dalam keluarga, semua orang tua pasti menginginkan kelahiran keturunan, dan kebahagiaan
serta keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga tapi tidak dapat dipungkiri bahwa perceraian
mungkin saja terjadi.
Perceraian adalah putusnya pernikahan antara suami istri yang terjadi karena talak atau
gugatan perceraian. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan siding pengadilan agama
tersebut sudah berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Adapun
perceraian itu bermacam-macam antara lain sebagai berikut :
- Talak. Takal adalah ikrar suami yang diucapkan dihadapan sidang Pengadilan
Agama yang menjadikan penyebab putusnya tali pernikahan. - Khulu’, artinya melepaskan, yaitu melepaskan pakaian karena wanita adalah
pakaian suami, dan suami adalah pakaian wanita. Khulu’ juga disebut tebusan,
karena perempuan yang mengajukan khulu’ menebus dirinya dengan sesuatu
diberikan kepada suaminya supaya diceraikan. - Fasakh, adalah rusaknya pernikahan atau lepasnya suatu ikatan pernikahan suami
istri. - Li’an adalah sumpah seorang suami apabila ia menuduh istrinya berbuat zina.
- Zhihar, adalah ucapan suami kepada istrinya engkau seperti punggung ibuku.
Dimasa jahiliyah zhihar dianggap sebagai talaq,
Perceraian terjadi karena adanya perselisihan atau ketidakcocokan antarasuami istri,
sehingga secara hukum dan agama berakhirlah hubungan mereka. Perceraian orang tua
menyebabkan anak mengalami reaksi emosional dan perubahan perilaku akibat perpisahan
atau renggangnya hubungan antara orang tua. Di sini, anak membutuhkan banyak
perhatian dan kasih sayang untuk mendukung penuh perkembangannya. Perselisihan orang
tua menimbulkan pertengkaran dan kemarahan, sehingga emosi tersebut cenderung
mendominasi perkembangan psikologis pada anak. Perkembangan psikologis anak sangat
berperan penting dalam kemampuan seorang anak untuk beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya. Perkembangan psikologis anak juga dapat mempengaruhi cara berpikir dan
berperilaku anak. Tahap penting dalam perkembangan psikologis anak ada pada usia dini
hingga usia remaja, karena masa itu perkembangan otak anak akan bertumbah secara cepat
dan tangkap. Jika seorang anak tumbuh dengan pengalaman negatif seperti perceraian
orangtua, dampaknya adalah anak akan mengalami gangguan Kesehatan mental yang
berpengaruh pada kurangnya rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi menurun,
konsentrasi belajar terganggu, perubahan emosi pada anak, hingga menciptakan trauma
bagi anak. Perasaan-perasaan tersebutlah yang nantinya dapat menyebabkan perubahan
pada kondisi kepribadiannya saat anak menginjak usia dewasa. Mereka akan terus merasa
untuk takut gagal, takut menjalin kedekatan dengan orang lain, Sering membayangkan jika
orang tuanya dapat bersatu kembali, bahkan hingga lebih senang menyendiri di lingkungan
sosialnya. Selain itu, dampak lainnya juga dapat terjadi yaitu anak akan menjadi lebih
kasar, bertindak agresif, sering mengamuk, bahkan hingga membenci salah satu ataupun
kedua orang tuanya.
Menurut pendapat Leslie, Trauma yang dialami anak karena perceraian orang tua
berkaitan dengan kualitas hubungan dalam keluarga sebelumnya. Apabila anak
merasakan adanya kebahagian dalam kehidupan rumah sebelumnya maka mereka akan
merasakan trauma yang berat. Sebaliknya bila anak merasakan tidak ada kebahagiaan
kehidupan dalam rumah, maka trauma yang dihadapi anak sangat kecil dan malah
perceraian dianggap sebagai jalan keluar terbaik dari konflik terus menerus yang
terjadi antara orangtuanya. Namun, tidak semua anak mengalami hal itu setelah perceraian
orangtuanya. Di beberapa kasus anak bisa beradapatasi dengan kondisi keluarga nya yang
baru, mereka akan mulai menyadari dan mengerti jika orang tuanya memang sudah tidak
bersama lagi, tidak membayangkan jika orang tuanya dapat bersatu lagi, menerima rasa
kehilangan, tidak menyalahkan diri sendiri maupun orang tua, menjadi lebih dewasa dan
menjadi diri sendiri.
Adapun beberapa cara mengatasi hal tersebut :
- Berikan kesempatan untuk anak agar dapat membicarakan tentang kondisi
perceraian yang terjadi serta bagaimana perceraian tersebut dapat berpengaruh
dalam kehidupannya. Terkadang anak-anak memiliki pertanyaan-pertanyaan yang
di luar dari dugaan anda sebelumnya, sehingga cobalah untuk bersikap terbuka
meskipun terasa menyudutkan. Bila anda tak sanggup menjelaskan pada anak, anda
bisa meminta bantuan pihak lainnya yang memiliki kedekatan emosional dengan
anak, semisal kerabat atau saudara. - Jangan menjelekkan mantan pasangan sebelumnya di depan anak. Meskipun masih
terdapat marah atau dendam, namun sebisa mungkin jangan luapkan hal tersebut di
depan anak. Hal ini bisa menyebabkan anak memiliki trauma tersendiri pad
pernikahan. - Minta dukungan pada keluarga dan teman-teman terdekat. Sehingga secara tidak
langsung akan memberikan kesempatan bagi anak untuk bertemu orang lainnya
yang sama-sama melewati kondisi perceraian baik baik. - Dukung anak untuk selalu berpandangan positif kepada kedua orang tuanya.
- Tetap berikan perhatian yang sama seperti sebelumnya.

No responses yet