Categories:

Oleh Aisya Aulia Rachma dan Najibah Rahmania
(Instansi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka – Program Studi Psikologi)


Emosi adalah perasaan yang kuat yang muncul sebagai respons terhadap suatu situasi atau
stimulus tertentu. Emosi mencakup reaksi psikologis yang kompleks, termasuk perubahan
fisiologis, ekspresi, dan perilaku, serta dapat mempengaruhi pikiran dan tindakan seseorang.
Misalnya, seseorang mungkin merasa marah ketika menghadapi ketidakadilan atau senang saat
menerima kabar baik.
Emosi bersifat sementara dan biasanya memiliki penyebab yang jelas, berbeda dengan suasana
hati yang lebih lama dan tidak selalu dapat diidentifikasi penyebabnya. Emosi juga dapat
dibedakan menjadi emosi positif, seperti kebahagiaan dan cinta, serta emosi negatif, seperti
kemarahan dan ketakutan.
Pengendalian emosi dalam Islam merupakan aspek penting yang diajarkan melalui Al-Qur’an
dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Ajaran ini menekankan pentingnya mengenali, memahami,
dan mengelola emosi agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang
lain. Berikut adalah beberapa cara yang diajarkan dalam Islam untuk mengendalikan emosi,
khususnya marah.
Pengendalian emosi sangatlah penting dalam kehidupan manusia, khususnya untuk mereduksi
ketegangan yang timbul akibat konflik batin yang memuncak. Dalam konteks ini, al-Qur’an
memberi petunjuk pada manusia agar mengendalikan emosinya guna mengurangi ketegangan –
ketegangan fisik dan psikis serta efek negatifnya. Begitu pula pula dalam hadits Nabi Saw.,
banyak yang mengingatkan pengikutnya untuk selalu mengontrol emosi agar terciptanya
kehidupan yang selaras dan seimbang (Diana, 2015).

Terdapat ayat al-Qur’an yang terkait dengan pengendalian emosi, yakni firman Allah dalam Q.S
Al-Hadid (57:23).

َ

“(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari
kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Imam as-Suyuthi menafsirkan ayat ini jangan terlalu gembira yang dibarengi dengan rasa
takabur, berbeda halnya dengan gembira yang dibarengi dengan rasa syukur atas nikmat apa
yang diberikannya kepada kalian atau apa yang didatangkan kepada kalian. Karena Allah tidak

menyukai setiap orang yang sombong dengan apa yang teIah diberikan oleh Allah kepadanya
dan membangga-banggakannya terhadap orang lain (As-Suyuthi, 2008).
Cara Mengendalikan Emosi Dalam Islam

  1. Sabar
    Sabar merupakan salah satu sifat mulia yang sangat ditekankan dalam Islam. Dalam Surah
    Al-Baqarah (2:153),

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”
Allah berjanji bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar. Sabar membantu seseorang untuk
menenangkan diri dan memberikan waktu untuk berpikir sebelum bertindak.

  1. Membaca Taawudz
    Mengucapkan taawudz (الرجيم الشيطان من

با أعوذ (ketika marah adalah salah satu cara yang
dianjurkan untuk meredakan emosi. Hadis menyebutkan bahwa dengan membaca taawudz,
kemarahan seseorang dapat berkurang.

  1. Berwudhu
    Rasulullah SAW menganjurkan untuk berwudhu ketika marah. Air wudhu dianggap dapat
    menenangkan jiwa dan meredakan kemarahan. Ini juga merupakan bentuk ritual yang
    mengingatkan kita akan kebersihan spiritual.
  2. Mengambil Posisi Duduk atau Tidur
    Ketika marah, disarankan untuk duduk atau mengambil posisi tidur. Posisi ini diharapkan dapat
    membantu menenangkan pikiran dan emosi. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW
    menyatakan bahwa jika seseorang marah dalam keadaan berdiri, sebaiknya ia duduk untuk
    meredakan kemarahannya.
  3. Berdoa
    Berdoa merupakan cara efektif untuk menenangkan hati dan pikiran. Mengingat Allah melalui
    dzikir dan doa saat marah dapat membantu meredakan emosi negatif. Dalam Al-Qur’an, Allah
    menjanjikan ketenangan bagi mereka yang mengingat-Nya.
  4. Memaafkan

Islam sangat mendorong umatnya untuk memaafkan kesalahan orang lain sebagai cara untuk
mengurangi beban emosional. Memaafkan tidak hanya bermanfaat bagi orang yang dimaafkan
tetapi juga bagi diri sendiri, karena dapat menghilangkan rasa dendam dan kemarahan.

  1. Bersyukur
    Mengembangkan sikap bersyukur terhadap nikmat yang dimiliki dapat membantu mengurangi
    emosi negatif. Dalam Surah Ibrahim (14:7),

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku
akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya
azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Allah berjanji bahwa jika kita bersyukur, Dia akan menambah nikmat-Nya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *