Apa saja cara pandang kita terhadap Quran? 

Dalam memahami Al-Qur’an, yang teksnya sama, telah dan akan ada banyak perspektif, yang menjadikan pemahaman kita berbeda-beda, bahkan berubah, dan satu sama lain bisa bertentangan. Jika Anda sedang memahami Al-Quran, sadarilah ada milyaran orang lain yang juga sedang memahami Al-Quran. 

Dari perspektif hukum, Al-Quran menjadi kitab hukum: halal atau haram, boleh atau tidak boleh, dan fokus pada sejauh mana lembaga hukum, menghadapi, mengganjar dan menghukum perilaku. 

Dari perspektif wacana kalam, Quran menjadi kitab wacana teologis, apakah sesuatu keyakinan atau praktek tertentu masuk keimanan, kekufuran, kemunafikan, dan seterusnya; apa itu zat, sifat-sifat dan perbuatan Allah. Apa itu kenabian, qada dan qadar, surga dan neraka.

Dari perspektif falsafah, Quran menjadi ungkapan-ungkapan falsafah, apakah sesuatu itu masuk akal, rasional, atau tidak; sering terkait dengan kalam, apa artinya Tuhan itu ada, bagaimana sifat-sifatnya; sejauh mana sholat merefleksikan pengetahuan rasional kita tentang Tuhan. 

Dari perspektif tasawwuf/Sufistik, yang menekankan hati dan perasaan, Quran lebih merupakan metode mendekatkan dan bahkan menyatu dengan Tuhan, sejauh mana ayat-ayat lahiriyah merupakan realitas batiniyah, hati, ruhaniyah, bagaimana mengenal Tuhan secara ruhaniyah. 

Dari perspektif saintifik, Al-Quran menjadi seperti buku sains, seluk beluk manusia, hewan, tanaman, alam semesta, dan sebagainya. 

Dari perspektif historis, Al-Quran menjadi kitab sejarah, perjalanan kenabian dan para pengikutnya, memuat fakta dan cerita masa lalu dan bagaimana memaknai cerita-cerita itu. 

Dari perspektif sosiologis, Al-Quran menjadi buku memahami masyarakat dan bagaimana membentuk masyarakat yang ideal. 

Dari perspektif psikologis, Al-Quran menjadi kitab kejiwaaan, memahami sifat-sifat manusia dan perkembangannya, penyakit-penyakit kejiwaan dan penanganannya. 

Dari perspektif jender, Al-Quran menjadi kitab dalam konteks patriarki Arabia, dan jika kesetaraan jender menjadi tujuan maka banyak ayat yang dipahami ulang.

Dan banyak perspektif lain: kelas sosial, politik, profesional, arab dan bukan Arab, Melayu atau bukan Melayu, perspektif perbandingan kitab-kitab suci, dan Anda bisa tambahkan.

Jangankan antara saya dan Anda, perbedaan dan perubahan bisa terjadi pada Anda sendiri: dulu, sekarang, nanti, pemahaman saya dan Anda terhadap ayat2 Quran bisa berubah. 

Mengapa kita punya banyak cara pandang terhadap kitab yang sama?  

Pertama, Karakter teks itu yang punya banyak kemungkinan makna, kadang2 beda juga qiraah dan cara membacanya, seringkali teks bersifat umum dan sebagian samar-samar. Ada hadis-hadis yang menjelaskan ayat, tapi tidak semua ayat, dan tidak selalu. Ada sebab-sebab turunnya ayat, tapi tidak semua ayat dan sering banyak sebab untuk ayat yang sama. Ada yg qathi pasti, ada yang dzanni tidak pasti, tp ulama dan umat pun beda2 mana yang qathinya. Kalau pun sama mana yang qathi, pemahaman yang qathi itu juga beda-beda. 

Kedua, Karakter manusia. Lain kepala lain pengertian: lain bacaan, pendidikan, pengalaman, dan konteks sosial budaya politik kelas, ekonomi, seks dan jender, dll.  

Tapi Bang Ali, perspektif2 itu kan buatan manusia, bagaimana kalau langsung saja mengutip, membaca, dan memahami ayat-ayat Quran?

Begini, meskipun saya/Anda mengutip satu ayat tertentu, saya/Anda pada kenyataannya menggunakan terjemahan penerjemah yang berbeda. Bahasanya jg beda. Memilih ayat mana untuk menjawab topik apa juga berbeda. Tujuan saya/Anda mengutip juga berbeda. Bisa jadi saya/Anda sudah punya pra-konsepsi dan saya/Anda hanya mencari pembenaran pra-konsepsi masing-masing. Kembali kepada Quran bukan berarti kita langsung tanpa perantara. Pada kenyataannya, ada perantara antara kita dan Quran, kita sadari atau tidak.

Lalu bagaimana kita sebagai Muslim bersikap terhadap Quran? 

Pertama, ya baca Quran. Orang yang tidak baca dan orang yang baca pasti beda.

Kedua, kita sering dan banyak membaca Quran sebagai teks tertulis dan baca juga ayat-ayat lain yang tidak tertulis: sejarah, konteks, lingkungan, alam. Ayat tertulis dan ayat alam. Gunakan akal pikiran sebagai anugerah Allah yang paling tinggi. Bebas tapi setia. Setia tapi bebas. Niat juga perlu lurus. Bersihkan hati. Bukan untuk riya atau membangga-banggakan diri. Bukan untuk kesombongan. Justru kita selalu rendah hati dalam memahami Quran. Menerima dan siap menghormati siapapun yang berbeda. Karena posisi kita semua setara: sama-sama manusia, bukan Allah, bukan malaikat, bukan juga nabi pilihan Allah.

Ada satu kiat lagi. Jangan mudah melabel orang lain yang berbeda pemahaman dengan label-label umum dan orang lain itu pun tidak pernah menggunakannya. Labelisasi cenderung menggeneralisasi seseorang. Labelisasi menutup kemungkinan saya atau Anda melihat sisi kebenaran dan kebaikan pada orang lain, dan sulit melihat kelemahan dan kesalahan pada pemahaman diri sendiri. 

Dan kita akhiri, wallahu a’lam. Allah yang Lebih Tahu. Seperti dicontohkan para ulama terdahulu.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *