Menguak Memori Indah Sang Guru Al-Quran dengan KH. Abdullah bin Nuh

صِرْتَ عَالِمًا كَبِيْرًا

“Suatu saat engkau pasti akan menjadi seorang Alim yang Besar”

Sepatah kata terucap dari seorang guru kepada muridnya sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan muridnya. Sebuah pengakuan kepada anak didiknya yang telah belajar kepadanya dan mampu mengajarkan ilmunya.

Penghargaan yang tinggi yang menjelma menjadi doa tulus agar santrinya mampu merajut cita-cita sang guru. Ungkapan diatas terjadi antara guru dan murid yang telah besar jasanya dalam menyebarkan bahasa Arab di persada Nusantara. Kata tersebut disampaikan oleh KH. Abdullah bin Nuh dan murid kesayangannya KH. M. Basori Alwi Murtadlo ketika melihat santrinya telah berhasil menjadi Qori Internasional yang melanglang dunia ke penjuru Arab sampai Amerika Serikat.

KH. Abdullah bin Nuh merupakan ulama besar kelahiran Cianjur, Jawa Barat yang masih keturunan langsung Arya Wiratanudatar atau Dalem Cikundul (Bupati Cianjur Pertama). KH. Abdullah bin Nuh dikenal sebagai pakar bahasa Arab yang mampu mengungguli orang penutur Arab asli. KH. Abdullah bin Nuh adalah guru besar yang telah banyak melahirkan murid-murid yang telah banyak berkiprah bagi masyarakat luas, seperti: Prof. Syafii Antonio, KH. Syafi’i Hadzami, dan KH. M. Basori Alwi tentunya.

KH. M. Basori Alwi ialah sosok Guru Al-Quran yang masyhur kelahiran di Singosari, Malang. KH. M. Basori masyhur sebagai ulama pendiri Jamiyyah Qurro’ wal Huffadz (JQH), Perintis Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional dan ahli bahasa Arab di bumi pertiwi ini. KH. M. Basori Alwi menjadi tokoh rujukan yang menjadi panutan santri yang ingin mendalami ilmu Kalam Illahi.

Kisah KH. Abdullah bin Nuh dan KH. M. Basori Alwi merupakan dua sosok guru dan murid yang cukup menginspirasi. Keduanya bertemu di Kota Jogjakarta sekitar tahun 1947-1948. 

Dikisahkan bahwa saat itu KH. M. Basori Alwi diajak oleh KH. Masykur Singosari (menteri agama saat itu) untuk hijrah ke Kota Jogjakarta. Saat itu memang Kota Jogjakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia karena Jakarta belum lama diserbu Belanda dalam Agresi Militer Belanda. Selama di Jogkarta Kyai Basori diangkat menjadi anggota Departemen Agama yang dipimpin langsung oleh Kyai Masykur yang sama-sama berasal dari Singosari.

Di tepian Kota Jogjakarta, tinggal seorang ulama yang terkenal akan kealimannya dalam bahasa Arab. Konon saat itu banyak kalangan mengatakan bahwa beliau adalah sepandai-pandainya orang ajam (non Arab) yang memahami bahasa Arab dengan hampir seluruh dialek Arab. Belaiulah KH. Abdullah bin Nuh yang saat itu sedang menjabat Kepala Studio Bahasa Arab Radio Republik Indonesia Cabang Jogjakarta.

Menurut KH. Musthofa putra KH. Abdullah bin Nuh mengatakan bahwa saat itu, di Jogjakarta ayahandanya sedang merintis siaran bahasa Arab Radio Republik Indonesia dan Perguruan Tinggi Islam yang kelak akan bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Saat itulah ada empat orang yang berpotensi yakni Kyai Bashori, Nyai Mursyidah (kelak menjadi istrinya) dan dua orang lainnya untuk beliau ajar langsung tentang bahasa Arab secara intensif.

Ulama kelahiran Cianjur, 30 Juni 1905/1324 H ini di masa mudanya saat berkuliah Universitas Azhar pernah dua kali mempersembahkan syair pujaan untuk raja di istana kerajaan Saudi Arabia saat dirinya berkesempatan untuk haji. Menurut penuturan Prof. Dr. Muhajir dikutip dari Islam dan Materalisme, salah satu mahakarya Kyai Abdulloh adalah syair-syairnya dibacakan kepada Pelayan Dua Kota Suci tersebut pada 1376 H. Syair tersebut selain dipersembahkan di hadapan raja, oleh pemerintah juga disiarkan melalui radio dan surat kabar al-Bilad.

Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam Mahakarya Islam Nusantara-nya mengatakan bahwa Syair-Syair Kyai Abdullah terkumpul dalam kitab Asyiq al-Muhith wal-Jabal (Perindu Samudera dan Pegunungan) yang diterbitkan oleh Mansya’ah al-Ma’arif, Alexandria Mesir pada tahun 1991. Buku ini menghimpun sebanyak 55 kasidah, 945 bait puisi yang terdiri dari 113 halaman. Syair-syair itu juga telah dianalisis dan dikaji oleh Dr. Musthafa el-Sa’dani, Dosen Retorika dan Kritik Sastra Arab pada fakultas Sastra Universitas Benha Mesir, juga pada Universitas Ummul Quro’, Mekah Al-Mukarromah.

Ahmad Ginanjar juga mengutip dari pengakuan Dr. Muhanmad al-Majdzub, cendekiawan Arab Islam. Dalam karyanya Ulama wa Mufakkirun Araftuhum-nya, al-Majdzub menyatakan kekagumannya pada sosok Kyai Abdullah bin Nuh yang menurutnya beliau adalah seorang santun dan ramah, gagasan pemikirannya yang jenius dan lintas spektrum, dan kemampuan bahasa Arabnya yang sempurna.

Kyai Abdullah menguasai susatera, estetika dan retorika (al-adab wal badi’ wa al-ballaghah al-Arabiyah) diatas rata-rata, yang justru mampu mengalahkan kemampuan bahasa Arab orang Arab sendiri. Sosok KH. Abdullah bin Nuh ditulis oleh al-Majdzub dalam 14 halaman termasuk hasil wawancara dengan beliau dan beberapa petikan puisi beliau berbahasa arab berjudul Indunisiyyah (Indonesia Pusaka)

Berbagai karya tulis juga telah ditorehkan oleh putra pasangan KHR. Nuh dan Nyai R. Hj. Aisyah adalah seperti  al-Islam fi Indunisiyya al-Mu’ashirah tentang sejarah Islam Indonesia Kontemporer, Tarikh al-Auliya’  al-Tis’ah tentang sejarah Wali Sanga, al-Tadzkirah fi Mukhtasar Ihya Ulumuddin (dalam bidang tasawwuf), Imam Muhajir Ahmad bin Isa Ibnu Ja-far al-Shadiq (biografi pendakwah Islam di Nusantara masa awal), Kamus Indonesia-Arab Inggris, Terjemahan Kitab Minjahul Abidin dan masih banyak karya lainnya. 

Salah satu masterpiece karya Kyai Abdullah adalah Ana Muslimun Sunniyun Syafiiyun. Kitab ini berisikan tentang teologi Islam yang pada tahun 2016 diterbitkan ulang oleh penerbit Dar al-Shalih, Kairo.

Kitab tersebut bermuatan tentang jawaban gamblang mengapa saya muslim? Apa itu islam? Mengapa saya sunni? Bagaimanakah sunni itu? Mengapa saya syafi’i? Siapakah syafi’i itu? Dan jawabannya telah dijelaskan dengan gamblang oleh tokoh yang wafat pada usia 82 tahun ini dalam kitab yang telah dicetak ulang di Indonesia ini.

Kitab inilah yang dihadiahkan oleh putra beliau, KHR. H. M. Mustofa Abdullah kepada salah satu murid almarhum yakni KH. M. Basori Alwi Murtadlo, Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Singosari, Malang. Kitab itu diberikan lewat perantara penulis saat menghadiri haul KH. Abdullah bin  Nuh ke 32 dan Nyai Mursyidah ke-8 pada 18 Nopember 2018 di kediaman Kyai Mustofa, Kompleks Yayasan Islamic Center Al-Ghazali, Kotaparis, Bogor.

Sesampai di Malang, kami serahkan kitab tersebut ke Kyai Basori Alwi di kediamannya, Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Singosari. Tampak beliau begitu terharu melihat karya gurunya yang begitu menginspirasi hidupnya. Dikisahkan bahwa semasa belajar dengan Kyai Abdulloh selama satu tahun lebih ini berbagai kenangan indah telah dirasakan oleh beliau. Dalam nostalgianya, beliau sering diminta Kyai Abdullah ikut membantu menerjemahkan literatur Indonesia ke dalam bahasa Arab. 

Saat itu ada seorang santrinya yang membacakan koran berbahasa Indonesia, ada yang bertugas mencari kosakata baru di kamus, kemudian oleh Kyai Abdullah menerjemahkan dan Kyai Bashori-lah yang menuliskan hasil terjemahan tersebut. Proses pembejalaran dilakukan secara bergiliran dan bergantian. Hasil terjemahan tersebut kemudian dikumandangkan oleh Kyai Abdullah dalam corong radio.

Sebelumnya Kyai Abdullah bin Nuh memang telah banyak berjasa bagi negera ini. Beliaulah yang menyiarkan secara update perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Siaran beliau ini dapat diikuti oleh negara-negara Timur Tengah seperti Mesir, Palestina dan lain-lain.

Hal itu sangat bermanfaat karena saat itu untuk mendapatkan dukungan internasional sebagaimana kita tahu akan betapa pentingnya media informasi dan komunikasi pada setiap gerakan dan Kyai Abdullah berperan besar dalam hal ini. Berkat perjuangan beliau inilah tak lama kemudian setelah diproklamirkan kemerdekaan datang pengakuan pertama atas kemerdekaan Republik Indonesia datang dari Negeri Arab seperti Mesir dan Palestina. 

Dalam Resolusi Jihad-nya, Agus Sunyoto menuturkan bahwa Kyai Abdullah bin Nuh sempat menjabat Daidancho (setingkat Danrem sekarang) saat Jepang membentuk PETA. Saat itu Mantan Presiden Soeharto masih menjabat Chudanco, dua tingkat dibawah Kyai Abdullah. Dikarenakan jasa yang cukup besar bagi perjuangan bangsa dan negara, maka sejarawan Jawa Barat sempat mengusulkan Kyai Abdullah untuk menjadi Pahlawan Nasional.

“Dari metode pembelajaran diatas saat mengaji kepada  Kyai Abdullah inilah yang kemudian dipakai Kyai Basori untuk mengajar santri-santri beliau di PIQ sampai saat ini. Khususnya di kelas tafsir yang dulu beliau setiap ba’da subuh. Dan tidak terhitung sudah berapa banyak santri yang berhasil menjadi mahir berbahasa arab baik aktif maupun pasif berkat metode tersebut” Tutur Gus Abdullah Murtadlo, cucu KH. M. Basori Alwi.

“Dari Kyai Abdullah pula, Kyai Basori belajar bagaimana berkarya dengan menuliskan keilmuan yang didapatkannya selama menimba ilmu di berbagai tempat dari Singosari, Sidogiri (Pasuruan), Solo dan Yogyakarta. Dengan terampil Kyai Bashori mampu menghasilkan berbagai karya tulis, seperti kitab monumentalnya berjudul Kitab Madarijus Durus al-Arabiyah empat jilid yang sempat diajarkan di ribuan pesantren dan madrasah di berbagai penjuru tanah air”. Begitulah KH. Anas Basori Alwi, putranya berkisah kepada penulis tentang masa belajar ayahandanya ini.

Memang tak lama, Kyai Basori mengaji kepada Kyai Abdullah. Hal ini dikarenakan, saat itu Belanda Agresi Militer Belanda kedua ke Kota Jogjakarta yang terjadi pada bulan Desember 1948 dengan diawali pengeboman Lapangan Udara Maguwo. Kondisi tersebut yang membuat Kyai Basori bersama kawan-kawannya harus mengungsi ke kampung halamannya di Malang. 

Karena belum tersedianya kendaraan, maka dengan terpaksa ditempuhlah perjalanan ratusan kilometer ini dengan jalan kaki. Selama perjalanan jauh nan panjang ini beliau harus banyak berhemat dan terpaksa harus menjual pakaian yang dibawanya sebagai bekal. 

Sebulan kemudian sampailah beliau di Singosari. Namun tak dinyana kota kelahirannya tak ubahnya seperti Jogjakarta. Maka mengungsilah kembali Kyai Basori ke Surabaya, yang dirasa cukup aman meski Ibu Kota Provinsi Jawa Timur saat itu berada dalam kekuasaan kolonial Belanda. Begitulah kisah perjuangan seorang Kyai Basori dalam menuntut ilmu tak terbayang betapa berat. Meski berat namun tak kata menyerah dalam pribadi beliau untuk belajar dan mengajarkan ilmu yang diperolehnya.

Setelah sekian lama tak berjumpa, Alhamdulillah beliau kembali bernostalgia dengan guru idolanya, meski dengan kitab Ana Muslimun Sunniyun Syafi’yyun ini. Kitab tersebut kami dapatkan saat bersilaturahmi ke Kompleks Yayasan Islamic Center, Kotaparis, Bogor. Saat itu KH. Mustafa bin Abdullah bin Nuh dan Ustadz Turmudzi (cucu menantu Kyai Abdullah) memberikan kenang-kenangan karya Kyai Abdullah berupa Kitab Ana Muslimun versi cetakan Mesir dan Indonesia dan Buku Islam dan Materialisme. Sementara itu puluhan karya Kyai Abdullah akan segera dicetak ulang untuk dapat dikonsumsi masyarakat luas

Saat kami memberikan kitab tersebut kepada Kyai Basori di kediamannya, Komplek Pesantren Al-Qur’an Singosari ini. Terpancar wajah begitu bahagianya beliau menerima buku ini. Meski tak banyak yang beliau ceritakan sebagaimana yang kami tuliskan di atas, namun rasa syukur sepintas terlihat dari raut wajah kyai yang saat telah menginjak usia 95 tahun (menurut kalender Hijriyyah atau 92 tahun menurut kalender Masehi karena beliau dilahirkan 15 April 1927) ini. Keterangan ini kami dapatkan buku Biografi KH. Bashori Alwi, Sang Guru Quran.

Terlebih saat kami mengabarkan bahwa Kyai Abdullah bin Nuh yang wafat pada tahun 1987 tersebut sempat dipindahkan makamnya pada tahun 2000-an ke komplek YIC Al-Ghazali untuk dikebumikan bersama istri tercinta Ibu Nyai Mursyidah (beliau adalah kawan Kyai Basori saat mengaji bersama Kyai Abdullah di Jogja). Ketika dibongkar makamnya, jasad Kyai Abdullah dalam kondisi masih utuh, terlihat rasa syukur terpanjat oleh Kyai Basori. Sungguh lega perasaan beliau ketika mendengar cerita gurunya yang jasadnya masih diselamatkan oleh Illahi Rabbi ini.

Semoga kitab Ana Muslimun  tersebut mampu bermanfaat bagi KH. M. Basori Alwi Murtadlo yang dapat disebarluaskan ke murid-muridnya untuk dapat mengkaji karya dari mahagurunya. Semoga semua amal baik Kyai Abdullah sekeluarga diterima di sisi-Nya. Dan semoga KH. M. Basori Alwi beserta keluarga begitu juga murid-muridnya senantiasa diberi nikmat kesehatan dan keberkahan dalam hidup sehingga terus dapat berkhidmah dalam menyebarkan ilmu Allah sekaligus mengamalkan wasiat gurunya, KH. Dimyati saat beliau berguru di Kota Surakarta:

لِكُلِّ شَئًْ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْعِلْمِ التَّعْلِيْم

“Segala sesuatu ada zakatnya dan zakat orang berilmu adalah mengajar”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *