Baca…. Baca…. Baca….. Iqra….!!! Dengan namanya.

Yang bisa dibaca, adalah kejadian hidup ini. Setiap kejadian hidup, baik dan buruknya sifat-sifat yang tertampil di luar, adalah jendela memandang DIA sang penggores cerita.

Jadi, semakin “kaya” cerita hidup kita, sebenarnya semakin detail Tuhan mengajari kita. Dan semestinya kita membaca.

Yang “didalam sini” yang membaca.

Satu hal yang ternyata sering menghalangi kita dari melihat konteks bahwa cerita hidup ini sebenarnya menceritakanNya, adalah karena kita terlalu terjebak pada diri sendiri.

Dalam bahasa sigmund freud, barangkali kita terlalu terbalut ego. Dalam bahasa Suryo Mentaram seorang ahli ilmu jiwa dari tanah jawa, ego itu disebut Kramadangsa.

Seorang arifin sederhananya, mengatakan bahwa selagi ego atau Kramadangsa itu masih begitu kental, berarti kita masih mengira bahwa kita “wujud”. Kita mengira keseluruhan konteks cerita hidup adalah tentang diri kita. Padahal, konteks kehidupan adalah tentang DIA menceritakan diriNYA.

Satu “tirakat” sederhana untuk mengalami realita itu, baru saya mengerti, adalah ternyata dengan meringankan tangan dan bersedia hidup untuk memberi kebaikan bagi orang lain.

Agar fokus pada “kewujudan diri” menjadi sirna. Dan hidup dalam konteks tidak lagi untuk diri kita, melainkan untuk kebaikan sesama.

“Khoirunnas Anfa ‘uhum linnas”, HR. Bukhari Muslim: yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Memandang diriNya mengatur kehidupan ini lewat berbagai-bagai cerita. 

Subhanallaahi walhamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaah Allaahu Akbar.

Jadi, apa tema besar hidupmu ?

Sebuah kondisi yang kita alami, yang kita kira merupakan sebuah capaian tujuan, bisa saja hanya merupakan sebuah sarana perjalanan bagi orang lainnya.

Singkatnya sesuatu di dalam hidup ini kadang bisa menjadi tujuan, atau kadang bisa dianggap sebagai sarana mencapai tujuan, tergantung cara pandang.

Kita ulangi lagi, sesuatu itu, bisa menjadi TUJUAN, atau bisa jadi PRASARANA dalam hidup, tergantung CARA PANDANG.

Belakangan saya sadari sebuah paradoks, Bagaimana mungkin, sesuatu yang terukur (PRASARANA) menjadi tujuan hidup? Pasti ada yang salah, jika tujuan besar bagi segolongan orang, bisa sekedar menjadi prasarana bagi sebagian lainnya, atau sebaliknya. Pasti ada yang salah.

Saya baru menyadari sebuah kesalahan berfikir saya,  setelah mengkaji petuah orang-orang arif,kenapa kok sepertinya selalu ada yang kurang?

Saya baru menyadari bahwa Segala atribut apapun dalam kehidupan ini sebenarnya PRASARANA, bukan tujuan, bukan tema kehidupan kita. Tema hidup kita semestinyalah tidak temporer dan kerdil. Dia harus sesuatu yang lebih luhur.

Segala sesuatu dalam hidup ini, semuanya PRASARANA, bukan tujuan. Cobalah artikulasikan segala macam lelakon apa saja dalam hidup, pastilah itu sebenarnya sarana, bukan tujuan. Jadi selama ini kita sudah banyak salah memilih tema.

Makan-minumnya kita. Kerja-istirahatnya kita. Atribut-atribut sosial kita. Keluarga kita. Kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Semua bukan tujuan. Karena semuanya ini temporer.

Menjadi pebisnis yang sukses, jelas bukan tujuan hidup. Menjadi orang yang banyak beramal dengan mendirikan panti asuhan, pun bukan tujuan hidup. Berdakwah keliling dunia, bukan tujuan hidup. Segala apapun yang bisa kita sebutkan dan berikan contoh gamblangnya, adalah sarana, bukan tujuan.

Semuanya sarana, untuk mengenal Dia. Tema besar kehidupan ini adalah mengenal Dia, sang pencipta alam ini, yang laisa kamislihi syaiun. Tiada serupa apapun, tiada umpama. DariNya kita berawal, padaNya kita kembali.

Memberi… Adalah hidup.

Saat seseorang membiasakan hidup dalam konteks memberi, maka ruang ego di dalam dirinya menjadi mengecil, karena dia hidup dalam upaya membaikkan sekelilingnya. Saat keseluruhan hidupnya dipatri dalam cita-cita berkebaikan yang besar itu, maka ruang keakuan akan lama-lama hilang.

Dahulu saya bertanya-tanya, bukankah dalam skala tertentu berkebaikan untuk orang lain malah semakin menimbulkan keakuan diri? Belakangan barulah terjawab bahwa sesiapa yang dalam berkebaikan malah menimbulkan keakuan diri, berarti sebenarnya dia tidak hidup dalam konteks memberi.

Zahirnya dua orang boleh terlihat sama-sama berkebaikan, tetapi orang yang tidak dalam konteks memberi sejatinya dia menadahkan hatinya untuk meminta sumbangsih pengakuan dari orang lain. Maka orang itu sebenarnya meminta, bukan memberi.

Jika tak tumbuh dalam diri saya sendiri selain dari rasa sempit dan luka saat membantu orang lain, maka jangan-jangan saya sedang tidak memberi.

Sedangkan yang benar-benar memberi, dia akan melampaui ruang rasanya kerdil. Soekarno dalam penjara tidak memaki dirinya sendiri. Karena dia hidup dalam konteks wacana yang besar. Memberi.

Panglima Soedirman, misalnya. Dalam sakitnya tetap memimpin perang. Dia memberi.

Sayidina utsman bin Affan misalnya, membebaskan sumur Raumah untuk penduduk yang kesusahan air.

Dan sederet cerita orang-orang yang hidup dalam konteks memberi. Mereka melampaui ruang rasanya sendiri. Pencapaian yang mungkin didapatkan lewat tirakat berat dan panjang para spiritualis, rupanya dirangkum dalam sabda Sang Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam kaitannya dengan menipiskan ruang ego, memburamkan keakuan; inilah saya baru mengerti apa yang disebutkan para arifin.

Hidup dalam konteks memberi, itu hanya akan dipahami jika kita mengerti bahwa yang berkebaikan adalah bukan kita sendiri. Karena kita hanya keran kebaikan, air yang mengalir itu bukan milik kita. 

Jadi kaya, tanpa terpengaruh gaya.

Ternyata, sebuah kenyataan dimana kita pernah mengalami lapang-sempitnya hidup inilah, yang membuat kita lebih “kaya” dalam memandang kehidupan.

Tentang “lebih kaya dalam memandang kehidupan” inilah yang menarik bagi saya dan ingin saya bahas.

Karena saya baru mengerti satu hal, bahwa semakin kita “kaya” dengan cerita hidup, maka semakinlah seseorang itu punya paradigma yang lebih tinggi dalam memandang kaitan antara Tuhan dan kehidupan ini.

Tentu dalam tanda kutip jika seseorang itu dianugerahi keindahan penyaksian pengaturan Tuhan.

Mari kita ambil satu contoh tentang pengalaman yang “kaya”.

Tengoklah Adam a.s, kisah awalan manusia di bumi ini, dalam banyak sekali literatur, kita ketahui kisah Adam dimulai dengan kekeliruan memakan buah khuldi. Jadi, drama panjang kehidupan anak cucu manusia diawali dengan langkah yang “keliru”.

Tetapi apatah itu keliru dan benar? Jika baik keliru, maupun benar, dalam penyikapan yang tepat bisa sama-sama menghantarkan pada Tuhan.

Barulah saya mengerti pandangan para arifin yang mengatakan bahwa dalam konteks yang lebih dalam, sebenarnya bukan masalah keliru ataupun benar, tetapi yang lebih penting adalah jika setiap kondisi apapun yang kita alami dalam kehidupan sekarang ini membuat kita mengerti tentang Tuhan dan kaitannya dengan kehidupan.

Jadi…

Situ jangan niru saya. Saya masih banyak gaya. Persiapan biar anteng pas sudah kaya.

Banyak bersyukur…

Banyak berbagi, biar makmur.

Sudah berapa dhu’afa yang kau sapa? Untuk cinta seperti apa ?

Hadits berikut jika diterjemahkan dalam konteks sosial dan kemanusiaan sangatlah luas cakupannya. Dan kita… bisa memulai pemaknaan diri melalui hal termudah dan paling sederhana… berbagi di masa pandemi. 

Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara saya menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. [HR. Muslim].

Selamat bergerak di waktu sisa, agar hidup tak sia-sia.

Jangan bilang sedang sulit, jika itu hanya cara menyembunyikan penyakit pelit.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *