Dalam ilmu tasawwuf, zuhud biasanya dihubungkan dengan faqir. Namun zuhud beda dengan faqir.

Kalo kita mencukupkan diri dengan kemauan kita sendiri atas dunia sekedar kebutuhan, itu zuhud. Tapi kalo kita mau apa saja gak cukup, akhirnya cuma bisa bengong, karena memang ditakdirkan dunianya sedikit, itu faqir. Zuhud pake usaha, tapi faqir itu bakat, eh takdir ding.

Tapi segala takdir itu punya sisi positif, mbah. Kalo kita ditakdirkan faqir, kita tidak usah kecewa karena faqir punya keutamaan daripada orang tajir.

Dawuh Imam Sufyan Ats Tsauri

اختار الفقراء ثلاثة أشياء، واختار الأغنياء ثلاثة أشياء. اختار الفقراء : راحة النفس، وفراغ القلب، وخفة الحساب. واختار الأغنياء : تعب النفس، وشغل القلب، وشدة الحساب

“Orang faqir itu punya 3 macam keadaan, yaitu : jiwanya nyantai, hatinya tenang dan hisabnya ringan. Sementara orang tajir itu punya 3 macam keadaan : jiwanya kalut, hatinya galau, hisabnya berat.”

Karena ditakdirkan faqir, tidak banyak yang dipikirkan, jadinya nyantai. Tidak banyak yang perlu dijaga berarti hatinya tenang. Meskipun punya pikiran maksiyat, mesti mikir sejuta kali soalnya gak ada duit. Karena tidak jadi maksiyat, artinya jadi sholeh, walau sholeh terpaksa. Di akhirat pun totalannya ringan.

Sementara orang tajir itu pikirannya ruwet, akhirnya tidak bisa nyantai. Banyak yang harus dijaga akhirnya hati tidak tenang. Peluang untuk maksiyat pun lebih besar karena pegang duit. Di akhirat pun pengadilan orang tajir lama banget karena yang harus dipertanggung jawabkan banyak. Status “Crazy Rich” di dunia pun tidak njamin bisa mereguk kenikmatan akhirat.

Maka, kalo ditakdirkan jadi orang faqir tetep kudu syukur. Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW

إن الله تعالى يحمي عبده عن الدنيا وهو يحبه، كما يحمي أحدكم مريضه عن الطعام والشراب

“Sesungguhnya jika Gusti Allah menghalau hamba-Nya dari dunia (dengan cara dijadikan orang faqir), tandanya Gusti Allah mencintai hamba itu. Seperti perawat yang telaten mengontrol makanan dan minuman bagi orang sakit”

Bahkan Imam Ghozali dawuh, andai orang faqir itu puas dan rela dengan pemberian Gusti Allah, bermental kaya, ridho dgn takdir, tidak thomak dan sabar, maka derajatnya sama dengan orang zuhud yang level atas.

Kanjeng Nabi SAW dawuh

أحب العباد إلى الله الفقير القانع

“Aku mencintai seorang hamba Gusti Allah yang faqir namun bermental kaya”

Kanjeng Nabi SAW dawuh

الفقراء الصبر هم جلساء الله تبارك وتعالى

“Orang2 faqir yang sabar itu termasuk orang yg bisa bertatap muka dengan Gusti Allah”

Kesimpulannya, kalo kita ditakdirkan faqir, tidak usah sambat pada makhluk. Paling agungnya pahala orang faqir itu jika punya sifat qonaah, ridho dan sabar, itu pahala yang gak bisa disamai oleh orang tajir manapun dan bisa jadi auto orang zuhud yang paling sempurna. Maka, kita besarkan mental dan penuhi hati dengan rasa puas, biar hati dipenuhi kekayaan.

Caranya, tiap hari kita penuhi dengan ilmu, fikir dan amal, selingi ketawa-ketiwi menyenangkan orang, hidup pun kelihatan senang walau cuma makan angin dan sambatnya pun cuma pada Gusti Allah. Orang terlihat banyak ketawa itu banyak yang didoakan daripada orang yang terlihat banyak sambat.

Dari satu obrolan di warkop Mawlikopi, seorang pelanggan bilang, “Orang kaya itu maqomnya memberi harta, orang miskin maqomnya menghabiskan harta”

Saya ketawa dengarnya. Tapi dipikiripikir ada benernya. Soalnya, apa yang bisa diberikan orang kaya selain harta. Sementara kontribusi orang miskin untuk dunia cuma bisa kirim doa. Masalahnya orang doa ya butuh makan dan hiburan biar doanya khusyuk.

Ini anekdotnya

Sorang peneliti ingin tahu penyebab adanya fenomena perokok yang kebanyakan orang miskin secara finansial, maka dia melakukan wawancara dengan beberapa responden. Kyai Sarip, kyai kampung yang juga perokok, diwawancarai oleh peneliti itu.

“Apa alasan banyak orang miskin merokok, Kyai?” tanya peneliti.

“Buat hiburan,” jawaban Kyai Sarip yang terdengar aneh di telinga peneliti itu.

“Hiburan? Bukankah pemasukan mereka sangat sedikit?”

“Duh, mas, justru gara-gara sedikit itu, butuh hiburan. Cuma hiburannya terbatas,” jawab Kyai Sarip, “Contoh kayak saya, mau jalan-jalan tidak punya duit, mau poligami tidak berani istri, akhirnya ya diem aja di rumah dan merokok,”

“Tapi apa anda punya rencana untuk berhenti merokok?”

“Ya, saya sedang dalam proses berhenti. Saat ini saya sudah berada di tahap pertama.”

“Apa itu tahap pertama?”

“Saya sudah berhenti membeli rokok sendiri, makanya saya minta tolong dibelikan sama istri!”

9 poin Tentang Zuhud

Sebagai tulisan penutup, kita rangkum kesimpulan-kesimpulan yang udah kita bahas tentang zuhud:

  1. Zuhud hakikatnya adanya rasa untuk menahan, menolak dan menghindar dari gebyar dunia dan godaannya, lalu menerima dengan ridho apa yang sudah ditakdirkan baginya
  2. Zuhud wajib dan penting untuk dipelajari dan diamalkan agar orang fokus produktifitas, mengerem konsumsi dan menjaga akal tetap sehat dalam menghadapi dunia
  3. Zuhud lawannya thomak dan gila dunia
  4. Zuhud sangat bermanfaat bagi profesi di segala bidang mengingat manfaatnya
  5. Zuhud perlu ilmu, latihan, kesabaran dan persiapan
  6. Zuhud bukan menolak dunia, tapi tidak baper terhadap dunia
  7. Apapun derajatnya, orang mau zuhud pasti mulia karena zuhud sendiri adalah ibadah
  8. Puncak zuhud adalah jika seseorang itu tidak merasa zuhud (terbiasa dengan kezuhudan) dan tidak punya benci atau cinta pada dunia
  9. Zuhud beda dengan faqir, namun orang faqir bila sabar dan ridho, maka derajatnya sama dengan zuhud

Penting juga kita camkan, kita tiak perlu takut dengan istilah zuhud. Tanpa kita sebut zuhud, saat kita mau melaksanakan rukun Islam dengan tertib, tidak korupsi, menolak sogokan, tidak melanggar lalu lintas, setia pada keluarga, tidak buang sampah sembarangan, bisa membedakan kebutuhan dan keinginan, itu semua sudah termasuk zuhud.

Tinggal bagaimana semua kebaikan itu kita tingkatkan sehingga rasa ketergantungan terhadap segala macam pernak-pernik dunia itu kita singkirkan dan lebih berpikir kemanfaatan untuk orang banyak. Karena gemerlap dunia jadi penghalang yg menghalangi kita untuk mengenal Gusti Allah dan memperoleh hidayah-Nya.

Seperti cerita Imam Asy Syadzili yang satu ketika naik kereta kuda dengan hiasan emas permata. Lalu di jalan, beliau ketemu dengan seorang badui. Badui itu tanpa basa-basi, meminta kereta kencana milik Imam Asy Syadzili. Tanpa pikir panjang, Imam Asy Syadzili menyerahkan kereta itu pada si badui.

Hal itu mungkin dilakukan, karena Imam Asy Syadzili tidak menganggap kereta kencananya sesuatu yg istimewa di hatinya. Dunia di hatinya hanya hal biasa saja, semewah apapun itu.

Ada cerita lagi.

Syekh Abdul Wahhab Asy Sya’roni dalam kitab Al Minahus Saniyyah mengisahkan cerita tentang dua orang dengan kondisi yang kontras: seorang laki-laki tajir dan perempuan miskin.

Dalam keseharian, keduanya pun tampak berbeda. Sang lelaki hidupnya padat oleh kesibukan duniawi, sementara wanita miskin itu justru menghabiskan waktunya untuk selalu beribadah.

Lelaki tersebut tiap hari bekerja keras sehingga jadi kaya. Tapi kekayaannya gak dinikmati sendiri. Keluarga yang jadi tanggung jawabnya pun merasakan dampak kekayaannya. Semua kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya tercukupi.

Nasib lain dialami si wanita miskin. Di rumahnya gak ada harta apapun kecuali sebuah gentong untuk air wudhu. Bagi wanita ini, taat ibadah harga mati, air wudhu jadi kekayaan yang membanggakannya meski hidup masih pas-pasan. Dia berpikir, kesucian itu syarat ibadah kita diterima. Dan ibadah itu jauh lebih agung dari sekadar kekayaan duniawi.

Suatu ketika, ada seorang yang numpang wudhu dari gentong milik wanita itu. Melihat hal demikian, si perempuan mbatin, “Kalo air itu habis, lalu gimana saya akan berwudhu buat sembahyang sunnah nanti malam?”

Apa yang tampak secara lahir, tidak selalu menunjukkan keadaan batinnya. Diceritakan, di akhirat, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki tajir melintir itu mendapat kenikmatan surga. Sementara si perempuan miskin yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?

Lelaki tajir tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak gak bikin dia larut dalam kemewahan, thomak, gila dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidupnya dan keluarga, demi menunjang keadaan untuk mencari ridho Gusti Allah.

Sementara si wanita miskin, hidupnya yang serba kekurangan, justru bikin hatinya gila dunia. Buktinya, dia disiksa gara2 dia tidak rela orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Hatinya kecantol harta satu-satunya, yaitu gentong air. Ketidakikhlasannya itu jadi tanda bahwa kemiskinannya gak lantas bikin dia terlepas dari sifat gila dunia. Dia terlihat zuhud karena dipaksa oleh keadaan.

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia boleh direngkuh, namun untuk memenuhi sekedar kebutuhan minimal dan memaksimalkan kekayaan untuk beribadah kepada-Nya.

Sebalikannya, untuk punya sifat gila dunia, seseorang gak mesti kudu jadi kaya raya dulu, bahkan kemiskinan bisa bikin orang gila dunia. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan ada atau gak adanya harta duniawi.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *