“Hasutlah orang diantara mereka yang bisa kamu bujuk dengan ajakanmu.”

(QS surat Al Isra ayat 17 )

Makna hasut diatas adalah tipu daya atau provokasi dari setan sehingga lahirlah suara-suara itu. Jadi seperti apa sih bentuk suara setan ? Selain malaikat di sisi kanan dan kiri ternyata setiap manusia juga punya setan pendamping (qarin) yang tugasnya membisikkan sesuatu. Qarin ini mengeluarkan suara yang serupa dengan suara suara hati manusia, baik dalam intonasi, aksen hingga bahasa yang dipergunakannya. Contoh suara hati manusia itu begini, ketika seseorang memikirkan hal tertetu dia akan mendengar suara dari dalam pikirannya sesuai dengan apa yang diucapkannya kemudian. Inilah sesuatu yang alamiah dan disebut suara hati manusia.

Nah Qarin ini membisikkan sesuatu kepada manusia dalam tiga macam pikiran, yaitu

  1. Pikiran negatif (harm)
  2. Pikiran kotor (lust)
  3. Ide ketuhanan (blasphemy)

Manusia seringkali meyakini bahwa suara hatinyalah yang sedang berbicara padahal ternyata itu adalah suara dari setan. Karena suara hati manusia tidak mungkin akan menjerumuskan kepada kemaksiatan. Tapi suara setan akan membuat manusia mempunyai pikiran negatif, seperti menyakiti diri sendiri, bunuh diri, menyakiti orang lain, pikiran untuk berzina dan lainnya.

Jadi…

Sesekali coba periksa diri sendiri. Sebab apa yang didengar oleh mereka yang jiwanya terganggu, selalu saja ; pikiran negatif, pikiran kotor, dan prasangka buruk pada-Nya.

Kalau kita juga lebih banyak mendengar yang demikian, sadari saja… kita sudah mulai mengalami gangguan kejiwaan.

Tentang rasa takut

Ada 3 ( tiga ) kondisi rasa takut, dan perilaku para pemiliknya ;

  1. Takut (khauf) pada sesuatu yang sepele dan kadang kedudukannya lebih rendah. Ini takutnya orang yang lemah iman. Seperti takut melewati kuburan dan hal sepele lainnya. Keadaan ini akan hilang jika si pemilik rasa takut mulai memiliki pengetahuan dan keyakinan yang benar.
  2. Takut (khasysyah) kepada zat yang maha mulia. Dan ini kondisi yang dirasakan mereka yang memiliki derajat mulia. Rasa takut demikian, akan membuat pemiliknya makin berupaya mendekatinya. Seperti rasa takutnya para ulama kepada Allah.
  3. Takut (takwa) kepada sesuatu dan terutama pada zat yang maha mulia. Kondisi ini dimiliki oleh mereka yang beriman kepada Allah dan Rasulullah sebagai sebuah keutamaan yang melekat pada diri mereka. Rasa takut ini melahirkan kesadaran untuk memelihara diri mereka dari segala ucap, sikap, dan perbuatan yang membahayakan/merugikan diri sendiri maupun orang lain, serta menghadirkan murka Allah.

Di antara ketiga kondisi di atas, kondisi  takut yang dirasakan mereka yang ada di golongan ke-1 adalah kondisi buruk yang tidak seharusnya bersemayam di jiwa orang-orang beriman. Lebih jauh, kondisi demikian lebih layak ada dalam diri mereka yang munafik, fasik, musyrik, dan kafir. Wallaahu a’lam bi al shawab…

Merekalah yang sejatinya hidup dalam kepungan rasa takut dan sedih yang tak berkesudahan. Meskipun mereka berusaha sedemikian rupa untuk tampil di hadapan khalayak sebagai orang-orang pemberani dan hidup penuh keceriaan. Dan tentu, tempat persembunyian terindah mereka adalah hiruk pikuk dan keramaian. Karena dalam sepi, sunyi, dan sendiri… mereka dihinggapi rasa takut mati dan sebagainya.

Allahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuhib al ‘afwa fa’fub’annii…

Demikian,

Sebuah lawatan jiwa dalam Iqra QS. 2 : 38-39.

Sadarilah

Pahamilah…Maka, tak perlu ada saling cela.

Sepanjang masih ada dalam kendali manusia, maka semua urusan mengikuti tabiat manusia.

Meski begitu, agama mengajarkan kepada kita, bahwa jika kita ingin memainkan peran sebaik mungkin sebagai khalifah fi al ardl, dalam posisi dan porsi kita masing-masing.

Maka syarat utamanya adalah kesetiaan kita untuk menjadi hamba-Nya, bukan hamba selain-Nya. Dan diantara tanda kesetiaan kita dalam penghambaan diri pada-Nya adalah ;

  1. Sadar sepenuhnya bahwa semua milik-Nya, bukan milik kita,
  2. Sebab kesadaran itu, maka kita sepenuhnya patuh pada-Nya dalam perintah dan larangan yang ditetapkan-Nya,
  3. Maka kemudian kita bisa seutuhnya terikat dengan-Nya, dan tak akan berani mengambil keputusan dan menetapkan tindakan apapun tanpa izin/restu-Nya, apalagi bertentangan dengan-Nya.

Jika urusan kita ditangani oleh khalifah yang kehambaannya kepada Allah (Abdullaah) teruji, maka yakini ; bahwa ia akan bertindak terpuji.

Satu hal yang pasti ; Adam -nenek moyang kita- adalah hasil didikan langsung Allah. Dan artinya manusia memang sudah dipersiapkan untuk tugas demikian. Meski ada pertanyaan meragukan dari para malaikat, dan tentu ; drama pembangkangan dari iblis.

Pesanku ;

Untukmu yang sedang diberi amanah menjabat di lingkungan warga, atau menjadi pejabat kampus dan lembaga pendidikan lainnya.

Atau juga untuk siapa pun dirimu yang sedang diamanahi kuasa ; JANGAN MARAH KALAU ADA YANG MERAGUKAN KAPASITASMU. Tunjukkan saja siapa dirimu, dengan karya dan prestasi kerjamu. 

Jika ada yang membangkang dan terus mengganggumu ; AMBIL SIKAP TEGAS DAN TINDAKAN LUGAS. Agar semua orang bisa melihat ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu pada kebenaran. Ya… kebenaran berdasar keyakinan dan penghambaanmu pada Sang Mahabenar. Bukan sekedar pembelaan diri dan upaya pembenaran.

Cukup… itu saja!

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *