Betapa mudahnya kita menertawakan orang lain, tetapi betapa susahnya kita menertawakan diri sendiri. Padahal, banyak hal dalam diri kita yang jauh lebih pantas untuk ditertawakan.

Bukankah seringkali kita usil dan menganggap penting kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan (baca: aib) orang lain, yang mungkin sebetulnya jauh lebih sedikit atau lebih ringan daripada kesalahan-kesalahan serta kekurangan-kekurangan yang ada di dalam diri kita sendiri? Dan anehnya, kita merasa biasa dan wajar saja serta menganggap remeh dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Sungguh ironis, di saat kita menertawakan orang lain karena kekurangan yang dimilikinya, di saat yang sama, sesungguhnya kekurangan dan aib kita jauh lebih banyak dan lebih besar dari orang tersebut.

Kita patut menertawakan diri sendiri, ketika kita begitu angkuh tidak mau menerima pendapat serta saran orang lain, menganggap apa yang kita lakukan paling baik dan paling benar, padahal sesungguhnya ilmu yang kita miliki sangat terbatas, referensi kita sangat miskin, pengetahuan kita sangat dangkal. Sementara di luar sana, ada orang yang jauh lebih alim, lebih kaya referensi, lebih banyak pengetahuan dan pengalaman, tetapi sangat rendah hati (tawaduk) dan mau menerima kritik dan saran dari orang lain, serta tidak merasa paling baik dan paling benar sendiri.

Sungguh, seharusnya kita menertawakan diri sendiri, ketika kita merasa paling layak dihormati karena jabatan dan kedudukan yang kita miliki. Padahal, sesungguhnya kemuliaan diri sama sekali tidak ada kaitannya dengan jabatan dan kedudukan seseorang, tapi terletak pada akhlak dan perilakunya.

Sangat pantas kita menertawakan diri sendiri, ketika kita bangga unjuk kemewahan, pamer kekayaan, sementara di luar sana banyak orang yang jauh lebih kaya dari kita, tetapi tetap menjalani hidup penuh kesederhaan dan kebersahajaan. 

Jelas sekali banyak hal yang pantas untuk dijadikan alasan bagi kita untuk menertawakan diri sendiri. Ironisnya, banyak di antara kita, bahkan mungkin diri kita sendiri lebih sering menertawakan orang lain daripada menertawakan diri sendiri.

Inilah salah satu sifat buruk manusia. Mudah menilai orang lain, sulit menilai diri sendiri. Senang mencari-cari kesalahan orang lain, susah mencari kesalahan diri sendiri. Sering menertawakan kekurangan orang lain, lupa menertawakan kekurangan diri sendiri.

So, sibuklah dengan aib diri sendiri, sehingga tidak sempat mengorek, apalagi menyebarluaskan aib orang lain.

*  Ruang Inspirasi, Selasa, 30 Juni 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *