Sebuah cerita dari Lathaiful Minan, dimana seorang sufi besar yaitu Ibnu Athoillah (ulama mazhab Maliki) merasakan kenikmatan untuk selalu dekat pada Tuhan dan oleh karenanya dia ingin berhenti saja dari pekerjaannya dan menghabiskan waktu untuk berkhidmat pada gurunya dan belajar.
Tetapi oleh sang guru, beliau dilarang. “Bukan begitu caranya….”
Dikatakan dalam Lathaiful Minan, bahwa Ibnu Athoillah dipesani untuk tetap berada dalam kondisinya sekarang. Tetap bekerja, tetap mengajar. Apa-apa yang menjadi bagian Ibnu Athoillah dari sang guru, akan tetap sampai padanya.
Maksudnya adalah, beliau akan tetap bisa mendapatkan bagian dari mutiara ilmu hakikat, tanpa meninggalkan apa yang sedang beliau lakoni secara duniawi.
Sebuah cerita yang mirip, masih terngiang di dalam ingatan saya, sebuah cerita dari hadits dimana Hanzhalah seorang sahabat Rasulullah mendaku dirinya sebagai seorang munafik. Pasalnya dia merasakan fluktuasi keimanan, suatu kali dia merasakan dirinya begitu khusyu’ saat bersama Rasulullah, tetapi di kali lainnya saat beliau berpisah dari Rasulullah dan berada bersama keluarga, beliau larut dalam kehidupannya lagi, sibuk bekerja dan mengurusi keluarga.
Cerita selanjutnya kita sudah hafal. Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar yang merasakan hal serupa, lalu kemudian bersama-sama menghadap kepada Rasulullah SAW.
Pesanan Rasulullah SAW kepada mereka adalah “sa’atan-sa’atan”, yang arti harfiahnya kurang lebih adalah sesa’at-sesa’at. Ada waktunya begini….dan ada waktunya begitu. Ada waktunya tenggelam dalam ukhrawi, tapi ada juga waktunya hidup dalam realita yang duniawi.
Seandainya mereka tetap berada dalam kondisi seperti mereka bertemu Rasulullah, dan stabil pada kondisi itu terus menerus, maka mereka akan disalami para malaikat. Alias tirai hijab terbuka, karena dengan begitu mereka sudah berada pada frekuensinya para malaikat.
Begitulah…
Karena untuk segala sesuatu ada porsi yang semestinya ; ADA KADARNYA!!!
Pada Gurumu… Jauhkan Prasangkamu !
Setinggi-tingginya derajat, semulia-mulianya kedudukan seorang Guru/mursyid. Ia punya sisi basyariyah. Kamu… jangan coba menyingkapnya. Sebab belum tentu kamu sanggup menjaganya. Tugasmu pada sang Guru/mursyid adalah mengikuti ajarannya, mengindahkan ujarannya. Meneladani akhlak baiknya, tidak berprasangka pada perilakunya yang tak kau pahami. Dan belajarlah padanya ; akhlak/adab, syariah/fikih, aqidah/tauhid yang bersumber pada al Quran dan sunnah. Memahami jejak keilmuannya dari mazhab aqidah, fikih, dan tasawufnya.
Sungguh…
Tak ada satu pun dari kekasih-Nya yang ingin menyesatkanmu, apalagi memalingkan dirimu dari-Nya. Mereka justru ingin membawamu serta menghadap-Nya dengan sepenuh hati dan seutuh cinta.
Jadi, Tanggalkan prasangkamu! Tinggalkan keraguanmu! Bergurulah dengan adab yang benar.
Sadarilah…..!
Apa saja yang diberikan oleh seorang guru kepadamu, sejatinya semua itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang yang penuh dan utuh darinya kepada dirimu.
Dalam perhatian dan kasih sayang tersebut, terliputi ; upaya penyembuhan atas penyakit lahir dan juga batin, penyelamatan dari berbagai perilaku buruk, kotor, dan keji… pencegahan dari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan akibat sifat, kelemahan, kekurangan, dan aib… pun caranya menanggung beban yang tidak mampu ditanggung olehmu.
JADI… Ikuti, patuhi, jalani dengan sepenuh hati. Maka… kamu akan merasakan nikmatnya anugerah kesucian lahir dan batin dalam dirimu, dan jadilah kamu jiwa yang tenang dan diliputi kebahagiaan.
Pahami ini… dan jagalah !!!
Menjadi murid dari seorang Guru, benar-benar butuh ketulusan dan kejujuran hatimu. Kau tidak bisa terus memaksakan diri menjadi murid, sementara dirimu selalu mengutamakan kehendak dan keinginan diri dari kehendak dan keinginan sang Guru. Bagaimana kau bisa patuh dan pasrah pada pengajaran dan bimbingan sang Guru, jika kau tidak terimaan???
Bagaimana kau punya adab pada sang Guru, jika yang ada dalam pikiranmu hanya tuntutan akan perhatian?
Bagaimana kau akan menghargai sang Guru, jika dirimu hanya sibuk dengan perasaanmu?
Bagaimana mungkin sang Guru ada dalam hidupmu, sementara hidupmu dipenuhi keinginan, ambisi dan sikap egois lain?
Jika… ini jika benar kau ingin belajar. Segeralah koreksi diri, istighfar dan benahi sikapmu yang masih kurang ajar.
Begitu… akan membuat kebersamaanmu dengan sang Guru penuh cinta kasih dan kedekatan yang memberkahi.
Para Guru Sufi, Setia Padamu.
Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal, jika masih mau mencoba. Jangan pernah menyerah, jika masih merasa sanggup. Jangan pernah mengatakan tidak mencintainya, jika masih tidak dapat melupakannya.
Jika engkau menginginkan persahabatan dengan mereka para sufi, pertama kalian harus belajar bagaimana bertingkah laku di hadapan mereka. Kalau tidak kalian akan menyakiti diri sendiri, karena jalan para sufi adalah jalan yang paling lembut.
Cinta tidaklah mengajarkan kita bersikap lemah, namun cinta membangkitkan kekuatan. Cinta tidaklah mengajarkan kita menghinakan diri, tetapi cinta menghembuskan kegagahan. Cinta tidaklah melemahkan semangat, tetapi cinta mengobarkan semangat.
Jagalah kebersamaanya dalam segala hal. Jangan berbicara ketika para guru sufi sedang berbicara. Dengarkan apa yang mereka katakan dan jangan sekali-kali melihat apa yang mereka miliki di rumah, terutama di kamar dan dapurnya.
Para pencari harus berusaha untuk mematuhi perintah Allah, dan senantiasa berada dalam keadaan suci. Diawali dari hati yang bersih supaya tidak akan berpaling kepada apa pun selain Allah swt. Kemudian jagalah agar bagian dalam tubuh tetap suci, yaitu dengan cara melihat dengan pandangan yang benar.
Perasaan cinta itu diawali dari mata, sedangkan rasa suka diawali dari telinga. Jika ingin berhenti mencintai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tetapi jika mencoba menutup matamu dari yang kamu cintai, cinta itu akan berubah menjadi cucuran air mata sedih dan terus tinggal di hatimu dalam jarak waktu yang sangat lama.
Bagaimana ?
Sudah bisa membuka hatimu, untuk menerima kehadiran sepenuh cinta ?
Kalau sudah… belajarlah setia.

No responses yet